16 Apr 2011

The Destination


“Kak Ify cantik banget!” jerit Oik histeris.
Ify tersenyum malu. Wajahnya memerah.
Oik segera memutar-mutar tubuh kakaknya itu. Ify hanya pasrah, membiarkan tubuhnya di putar-putar seenaknya. Oik pun segera menghentikan tingkat putarannya. Matanya berkaca-kaca kagum.
“Kak Debo beruntung bisa dapetin Kak Ify. Kak Ify cantik banget pake gaun pengantin ini,” ujar Oik sambil terus memandang kebaya hijau berpayet kupu-kupu yang tengah dipakai Ify.
“Masa sih?” Tanya Ify malu-malu.
Ify dan Debo. Sepasang kekasih ini akan segera melaksanakan pernikahan kurang lebih tiga bulan lagi. Mereka akan mengungkapkan janji setia ini dan kemudian akan hidup bersama sebagai keluarga.
Debo dan Ify memang belum lulus kuliah dan mereka akan melangsungkan pernikahan saat mereka lulus nanti. Lagipula, Debo yang mempunyai otak cemerlang, sudah ditawarkan di perusahaan salah satu Stasiun TV, sedangkan Ify yang memang sudah menjadi asisten dosen, akan segera melangkahkan kakinya untuk menjadi seorang dosen. Masa depan yang cerah sudah menanti mereka berdua. Untuk apa lagi menunda-nunda sebuah pernikahan.
“Oik!” panggil Gina –mama Ify dan juga Oik pastinya- yang sedang sibuk membantu Debo memakai jas-nya. Kalau tidak dibantu memakaikannya, jas itu pasti akan segera rusak sebelum waktunya. Maklum, Debo itu anaknya suka sradak sruduk.
“Iya, Ma?” jawab Oik masih tetap mengaggumi gaun yang di pakai Ify.
“Bantuin Mama dong, Ik. Debo perutnya semakin membuncit, nih. Jadi susah dipakein kemeja nya,” gurau Gina membuat Ify dan Oik tertawa. Oik pun segera menghampiri Mamanya dan ikut membantu.
“Wuuu, enak aja. Perut six pack gini,” canda Debo dengan mulut manyun.
Ify menatap Debo yang sekarang sedang sibuk menahan nafas demi mengecilkan perutnya karena kemejanya itu sepertinya sudah mengalami masa-masa kritis.
Tanpa sengaja, segurat senyum muncul di bibir Ify. Sebentar lagi, mereka berdua akan mengucapkan janji suci. Debo akan menjadi miliknya, begitu pula sebaliknya. Jantungnya berdebar-debar membayangkan mereka berdua duduk di pelaminan. Ify sudah tidak sabar lagi.
“Kayaknya kemejanya emang harus diganti, deh. Perut kak Debo udah kena tumor parah nih,” celetuk Oik yang langsung mendapat jitakan pelan dari Debo.


^0^
“Ify, selamat ya! Gak nyangka, bentar lagi lo bakalan menjalani kehidupan baru,” ucap Shilla –salah satu teman Ify- senang. Ia cukup terkejut saat melihat Ify memberikannya sebuah undangan berbentuk kipas yang di bagian kipas itu tertulis mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pernikahan Debo dan Ify.
“Lo yakin, Fy mau ngelaksanain pernikahan dalam waktu secepat ini?” Tanya Zevana –teman sekampus Ify juga- yang memang suka ceplas-ceplos dan berbicara apa adanya.
Ify langsung dengan cepat menoleh kearah Zevana. Merasa tak terima dengan apa yang Zevana katakan. Memangnya pikiran Ify sesempit itu? Tentunya ia sudah tau apa konsekuensi dari sebuah pernikahan. Dan Ify juga sudah merasa siap menerima tanggung jawab yang lebih besar di dalam kehidupannya.
“Maksud lo apa?” tanya Ify dengan nada tidak suka.
“Ya, gue ga abis pikir aja lo udah langsung mau nikah setelah lulus kuliah,” ujar Zevana santai tanpa menyadari perubahan wajah Ify yang kusut. Sementara Shilla sudah memberikan tatapan tajam ke Zevana yang mengartikan kalau ia harus tutup mulut sekarang.
“Loh? Emangnya kenapa? Gue yakin kok sama Debo. Dia baik, dia mau nerima gue apa adanya. Gue ga takut ngejalanin masa depan gue sama Debo. Gue sayang banget sama Debo dan gue yakin begitu pula sebaliknya. Terus, apa yang harus gue ragukan lagi?” jawab Ify kesal. Dia memang sudah memikirkan ini semua matang-matang. Kenapa jadi Zevana yang sekarang seolah memojokannya?
“Ya, gue ngerasa lo ngambil keputusan kecepetan,” jawab Zevana masih santai. Masih belum menyadari emosi Ify yang sudah tersulut karena kata-katanya.
“Kenapa harus kecepetan? Gue udah yakin sama ini semua kok,” ujar Ify masih belum bisa menerima kata-kata yang dilontarkan Zevana.
“Emang, tujuan lo nikah ini sebenernya apa sih?” tanya Zevana yang sekarang sudah menatap Ify.
“Gue pengen…,” kata-kata Ify terhenti sejenak. Ia bingung apa tujuannya. Ia tidak memikirkannya.
Ingin punya anak dan membangun sebuah keluarga, itu alasan yang klise. Lagipula alasan itu kurang tepat. Karena ia percaya pada Debo, itu juga bukan sebuah tujuan. Matanya menerawang ke depan. Memikirkan jawaban yang tepat. Tapi tak kunjung ditemukannya.
“Lo pengen apa?” tanya Zevana tak sabar.
Ify segera tersadar dari lamunannya. Matanya menatap Zevana dan juga sebaliknya. Ify menundukkan kepalanya, belum bisa menemukan alasan yang tepat.
“Gue nggak tau,” ujarnya pelan membuat Zevana mendesahkan nafas berat.
“Tuh kan, gue bilang apa? Lo ngambil keputusan kecepetan. Lo bahkan nggak tau tujuan lo nikah apa. Lo belum siap, Fy. Lebih baik lo pikirin dulu mateng-mateng, sebelum lo nyesel. Atau, lo batalin rencana pernikahan lo,” ujar Zevana lancar tanpa memikirkan ekspresi Ify yang sudah memucat.
Dan dengan sekuat tenaga pula, Shilla menginjak kaki Zevana dan teriakan dari mulut Zevana pun menggema seantero kantin kampus itu.

^0^
Ify menatap jalan raya yang kini sedang ia lewati. Pikirannya masih tertuju pada apa yang dikatakan Zevana tadi. Apa benar ia masih belum siap menikah? Apa benar ia harus menunda pernikahan ini? Apa benar ia terlalu cepat dalam mengambil keputusan?
Tiba-tiba, mobil yang ditumpangi Ify berhenti mendadak. Tentu saja Ify tersentak dan segera terbangun dari lamunannya. Ify menatap Debo khawatir.
“De, kenapa? Kok mobilnya kamu berhentiin?” tanya Ify panik sambil celingukan mencari sesuatu.
“Abisan dari tadi kamu bengong aja,” jawab Debo. Gerakan Ify yang celingukan sekaligus panik pun langsung terhenti. Ia menatap Debo yang juga sedang menatapnya bingung. “Kamu kenapa sih?”
Ify mengalihkan pandangannya dari Debo kemudian menunduk. “Kayaknya… aku… belum siap menikah,” gumam Ify pelan. Debo menatap Ify shock.
“Maksud kamu apa? Aku nggak suka bercandaan kamu,” ujar Debo sambil kembali melajukan mobilnya dalam keadaan shock. Ia sama sekali tak mengerti apa yang ada di pikiran Ify saat ini. Padahal, waktu itu Ify lah yang sangat semangat untuk acara pernikahan ini. Bahkan sangking tidak sabarnya, ia sampai berniat untuk mempercepat hari pernikahan itu. Tapi kenapa sekarang sifatnya berubah seratus delapan puluh derajat?
“Aku nggak bercanda, De. Kayaknya, pernikahan kita emang harus diundur,” kata Ify lirih. Debo menggeleng tak mengerti.
“Kita tetep harus nikah. Kita udah nyiapin semuanya. Lagipula, apa sih yang ngebuat kamu ragu?” tanya Debo agak kesal dengan sikap Ify yang berubah.
“Aku nggak siap, De. Aku belum siap!” jawab Ify tak berani menatap Debo.
Debo sebenarnya bisa saja kembali membalas kata-kata Ify. Tapi melihat wajah Ify yang sepertinya sudah tidak bisa diajak bicara lagi, Debo memilih untuk diam. Biarlah nanti masalah ini diselesaikan dengan baik-baik. Tanpa amarah dan pastinya dengan tenang.


^0^
“Hah?! Kok bisa?!” teriakan nyaring Oik membuat Debo harus menjauhkan sedikit dirinya dari Oik.
“Eeeeh… ga pake kenceng-kenceng bisa kali,” ujar Debo yang sekarang sedang bicara empat mata dengan Oik di halaman rumah Oik. Tadi sewaktu Debo mengantarkan Ify ke rumahnya, Ify langsung buru-buru masuk ke rumah tanpa bicara sepatah katapun pada Debo. Debo pun akhirnya memanfaatkan kesempatan ini untuk bicara berdua dengan Oik.
“Maaf,” kata Oik memelankan suaranya sambil terkikik. “Loh kok bisa sih, kak?”
“Aku mana tau. Tadi pas aku jemput Ify, tiba-tiba aja Ify ngomong gitu. Padahal kemaren kan masih baik-baik aja,” jawab Debo lemas.
Oik tampak berpikir. Setelah mengukur baju pernikahan waktu itu, Ify masih terlihat bahagia. Dan tidak ada kendala apapun yang membuat Ify berniat mengundurkan pernikahannya. Tapi kenapa sekarang tiba-tiba Ify jadi ragu?
Debo melirik jam tangannya. Sudah menunjukkan pukul lima sore. Debo sudah ada janji dengan teman-temannya. Ada acara untuk melepas masa lajang.
“Ik, aku pamit dulu, ya,” ujar Debo sambil bangkit dari kursinya.
Oik yang sibuk berpikir langsung mengalihkan perhatiannya pada Debo. “Oke deh kak. Oh, ya menurut aku, mungkin Kak Ify lagi banyak pikiran. Semoga aja pemikiran Kak Ify cepet berubah.”
“Aku harap juga gitu, deh. Pokoknya masalah ini Cuma kita bertiga aja yang tahu. Usahain, orang tua kita nggak ada yang tahu.”
Oik mengangguk sambil tersenyum. Debo pun balas tersenyum kemudian meninggalkan kediaman itu sambil berharap semoga yang dikatakan Ify tadi Cuma sekedar ucapan ngawur.


^0^
Sudah beberapa hari ini Ify menghindari Debo. Menghindar dalam hal apapun. Telepon nggak pernah diangkat, SMS nggak dibales, dijemput pun Ify selalu ngumpet atau pulang duluan demi menghindari Debo. Sebenarnya, ini sengaja ia lakukan untuk menjernihkan pikirannya. Memutuskan yang terbaik untuknya dan juga untuk Debo.
Ify merenung sendirian di kamarnya. Memikirkan apa tujuannya menikah secepat ini. Waktu semakin sempit. Dan Ify tak mau menyesal atas keputusan yang diambilnya.
Tok… tok… tok…
Ify menoleh ke pintu kamarnya yang diketuk. Ify mendesah. Saat ini ia sedang tidak mau diganggu.
“Masuk,” ujar Ify dengan berat hati. Saat itu pula pintu kamar pun terbuka.
Tampak Oik yang sedang memamerkan cengirannya. Setelah menutup pintu, Oik segera melangkahkan kakinya mendekati Ify. Ify memaksakan senyumnya saat Oik sudah duduk dengan manis di sampingnya.
“Oik nggak ganggu kan, kak?” tanya Oik membuat Ify kembali memasang senyum terpaksanya. Oik tertawa kecil. “Pasti ganggu deh. Haha.”
Ify hanya mendengus. Ify memang orang yang sulit menutupi perasaannya. Berbanding terbalik dengan Oik yang mudah saja menyembunyikan perasaannya. Karena itulah semua orang tampak mudah membaca isi hatinya.
“Masih bimbang, kak?” tanya Oik membuat Ify menatap Oik bingung.
“Bimbang apanya?” tanya Ify balik.
“Nggak usah pura-pura nggak tahu deh, kak. Tentang kebimbangan pernikahan kakak itu,” jawab Oik to the point.
“Kamu tahu dari mana?”
“Dari Kak Debo. Kak Debo cerita sama aku,” jawab Oik membuat Ify ngedumel dalam hati. Ngapain coba Debo cerita-cerita ke adiknya ini? “Emangnya kenapa sih, kak?”
Ify menghembuskan nafasnya, mencoba menyembunyikan semua perasaannya. “Enggak ada apa-apa kok, Ik.”
Oik menyelonjorkan kakinya lalu meregang-regangkan tubuhnya supaya lebih rileks. Kemudian ia menyandarkan kepalanya ke bahu Ify. Sebenarnya ini adalah salah satu trik yang biasa digunakan Oik agar Ify mau menceritakan dan membagi masalahnya dengan Oik.
“Kak Debo orangnya baik kan, ya?” tanya Oik. Ify mengangguk. “Selama ini, kak Debo nggak melakukan sesuatu yang ngebuat kak Ify kecewa, kan?” tambah Oik lagi. Ify kembali mengangguk. “Terus… kenapa kak Ify sekarang ragu-ragu?” pancing Oik sambil melirik Ify yang tampak merenung.
“Tujuan,” gumam Ify sangat pelan. Tapi Oik sudah cukup mendengarnya. Pancingannya berhasil.
“Tujuan?” ulang Oik sambil mengerutkan keningnya tak mengerti.
Ify mendesah, kemudian menatap Oik yang sudah tak lagi bersandar di bahunya. “Aku nggak tahu tujuan aku nikah apa! Kayaknya, aku ngambil keputusan terlalu cepet.”
“Kok tiba-tiba kakak kepikiran kayak gitu?”
Ify pun menceritakan semua yang dikatakan Zevana padanya. Oik menyimak dengan baik setiap perkataan Ify. Ify juga menceritakannya dengan penuh penghayatan. Ada kalanya di dalam suaranya terdengar pelan, ada saatnya juga terdengar tegas.
Oik sekarang sudah mengerti apa yang mengganjal di pikiran Ify. Memang usia Oik masih 17 tahun, lebih muda dari Ify yang sekarang berusia 22 tahun. Tapi tentu saja pikiran Oik tak kalah dewasanya dengan Ify. Bahkan, Oik bisa menjadi sangat dewasa tanpa ia sadari.
“Cuma itu yang kakak raguin?” tanya Oik sambil menghadapkan posisi tubuhnya ke Ify supaya saling berhadapan.
“Itu bukan sekedar ‘Cuma itu’ oik!” sahut Ify tak terima.
“Oke, oke, terserahlah,” kata Oik mengalah. “Tapi apa kakak yakin kalo kakak mau ngebatalin semuanya hanya demi alasan itu?”
“Kalo emang itu yang terbaik, kenapa enggak?”
“Kakak yakin?” tanya Oik lagi sambil menatap mata Ify dalam-dalam. Segurat keraguan pun segera muncul di kedua matanya. Mata kan memang tak bisa bohong dan membuat Oik yakin akan sesuatu. “Denger ya, kak. Bisa aja ucapan kak Zeva waktu itu Cuma buat menguji kakak. Aku juga yakin, sebenernya kakak udah tau apa tujuan kakak menikah, sayang aja kakak nggak menyadarinya. Mana mungkin kakak yakin banget buat nikah sama kak Debo kalo kakak nggak ngerti apa tujuan kakak.”
“Terus apa yang harus aku lakuin? Aku sama sekali nggak kepikiran apa tujuanku,” kata Ify putus asa.
“Rasain dan bayangin apa yang udah kakak lakukan sama kak Debo. Siapa tahu kakak bakal nemuin tujuan kakak di situ,” nasihat Oik dan tak berapa lama, mata Oik pun terasa berat. “Aku ke kamar dulu ya, kak. Nasihatin kakak ternyata bikin aku ngantuk juga.”
Ify mengangguk kemudian teringat sesuatu. “Oh, ya, Ik, kamu sama Debo belum bilang ke orang tua kita kan soal perkataanku waktu itu?” tanya Ify sambil mencegah Oik keluar kamar.
“Tenang aja, kak. Aku sama kak Debo yakin kok kalo kak Ify bakalan berubah pikiran,” ujar Oik lalu berjalan dengan terhuyung-huyung keluar dari kamar Ify.
Ify menghela nafas. Ternyata pencerahan dari Oik sedikit mencerahkan pikirannya. Dengan langkah dipenuhi renungan, Ify berjalan mnuju kasurnya lalu merebahkan dirinya sambil menutup matanya. Memikirkan setiap kenangan yang telah ia lalui bersama Debo.
Ify tersenyum saat membayangkan sewaktu Debo melamarnya. Tanpa Ify sangka, Debo sudah me-request sebuah lagu ke salah satu kenalannnya yang bekerja di salah satu stasiun radio di Jakarta.
Awalnya Ify bingung mengapa saat itu Debo menyuruhnya memasang headset ke telinganya. Tapi setelah headset itu terpasang, lagu ‘Janji Suci’ yang dilantunkan oleh ‘Yovie and Nuno’ terdengar di telinganya. Dan saat lagu itu mengalun, Debo berlutut di hadapannnya dan menyerahkan sebuah cincin berwarna emas putih. Dada Ify meluap-luap. Betapa banyak perasaan yang ia rasakan saat itu.
Memori-memori yang indah pun mulai terekam ulang di benaknya. Saat-saat Debo pura-pura marah padanya, saat-saat mereka bersama, saat-saat mereka bertengkar dan Cuma dalam waktu beberapa jam mereka baikan kembali, dan saat-saat dimana Ify merasakan perasaan nyaman dan senang.
Tiba-tiba sesuatu terselip di benaknya. Ya untuk itu! Untuk itu ia mau mempercepat pernikahannya. Itulah tujuannya. Kenapa Ify baru terpikirkan sekarang?
Seulas senyum terpancar di bibir Ify. Ia bertekad tak akan menunda pernikahan itu. Ia sudah tahu tujuannya. Dan ia tidak akan ragu lagi akan keputusannya. Tak akan lagi.


^0^
Hari pernikahan pun akhirnya tiba. Debo merasa lega saat di keesokan hari –setelah Oik menceramahinya- Ify kembali ke sikapnya semula. Malahan, Ify lebih bersemangat dari sebelumnya. Oik juga merasa lega. Bukan hanya karena Ify merubah pikirannya, tapi karena ia berhasil menjadi penasihat yang baik. Dan motivasinya menjadi psikolong semakin besar. Oik pun merasa kalau ia memang sangat berbakat sebagai psikolog.
Setelah kelulusan, acara itu pun dilaksanakan. Semua teman kampus Debo dan Ify pun hadir semua di situ. Acara pernikahan ini memang diadakan semeriah mungkin Karena dari pihak Debo maupun Ify tak mau membiarkan acara sekali seumur hidup ini terlihat biasa saja.
“Aduh, aku deg-degan nih,” keluh Ify pada Oik yang sedang sibuk mendandaninya.
“Wajar lah, kak. Namanya juga pertama kali nikah,” sahut Oik yang membuat Ify menatap tajam ke arahnya.
“Maksud kamu apaan? Aku bukan janda yang udah pernah nikah ya,” kata Ify garang. Oik pun segera memberikan symbol ‘peace’ di jarinya.
“Oh, ya kak. Emang tujuan kakak nikah ini apa? Kakak belum cerita-cerita nih sama aku,” tanya Oik sambil duduk di sebelah Ify.
Ify tersenyum penuh misteri kemudian tertawa. “Alesanku simple kok, Ik.”
“Iya tau. Tapi apa? Siapa tau kan kalo aku mau nikah nanti, terus aku nggak tau apa tujuanku, tujuan kakak kan bisa aku pake, hehe,” gurau Oik.
Ify ikut tertawa, kemudian menatap lurus sambil tersenyum.
“Tujuan aku nikah adalah… aku kepengen lebih bahagia,” jawab Ify membuat Oik juga ikut tersenyum. “Bego banget ya aku baru menyadarinya sekarang. Aku tau tujuanku itu setelah aku merenungi kebersamaan aku sama Debo. Betapa bahagianya saat aku di sisi Debo. Dan aku menikah karena aku pengen ngerasain kebahagiaan yang lebih besar saat bersama Debo. Saat nggak ada satupun orang yang bisa ngerebut Debo dari aku.”
Oik bertepuk tangan membuat Ify menatapnya bingung. “Tumben kakak bijak.”
Ify pun langsung melancarkan serangan cubitannya pada Oik. Oik berteriak kesakitan sambil mengelus-ngelus tangannya yang perih.
“Rasain kau!” kata Ify sambil tersenyum penuh kemenangan. Oik menatap kakaknya sambil cemberut.
“Ify!” panggil Gina, Mama Ify yang kini sedang berjalan mendekatinya. “Ayo, acaranya udah dimulai!”
Ify mengangguk kemudian berjalan mengikuti mamanya mendekati Debo yang terlihat tampan dengan pakaian adat sunda yang dikenakannya. Debo meraih jemari Ify yang membuat satu sama lain merasa hangat.
“Kamu siap, Fy?” tanya Debo membuat Ify mengangguk dengan debaran hebat di dadanya.
Mereka berdua pun berjalan bersama, kemudian mengucapkan janji suci dengan tujuan yang sama. Menjadi lebih bahagia. Dari ‘satu’ menjadi ‘berpasangan’. Diawali dengan kata ‘Ify-Debo’, diakhiri dengan ‘Selamanya’. Ify-Debo happily ever-after :)

8 komentar:

Aysa Novira Yunaz mengatakan...

wow! :D
Namanya kok banyak yg dari Idola Cilik ya? haha. Overall it's nice :)

yossyozy mengatakan...

emang aku sengaja. ini kan di pos nya di salah satu grup cople nya hehe^^
thanks yaaa udah mau dibaca hoho

Azizah Ananda mengatakan...

AAAA yossy jahat nggak bilang2 ada cerpen IDF baru uuuu...keren tau yos, aku jadi ngebayangin yang dua tu menikah beneran haha Aminin aja deh wkwkw, ayo buat lagi ccepeeet !*maksa*

yossyozy mengatakan...

zhi :: aku pengen bilang, tpinya lupa mulu hahhaa. yang penting kan udah liat hihi. kamu juga bikin dong jii hho

Novi mengatakan...

Apik juga hehe :3

yossyozy mengatakan...

haha. terima kasih yaaa ^^

Astian mengatakan...

Bagus deh, Yos!! :D
sukak sukaakkk ^,^p
bikin lagi yaahhh!!

yossyozy mengatakan...

ga nyangka kamu suka haha. makasih yaaa :) ntar kalo ada inspirasi aku buat lagi deh hihi


up