“Kenapa sih lo hari ini? Ini kan
hari ulang tahun lo. Jangan cemberut dong!” kata Iqbal, seseorang yang sangat
aku cintai tapi tak ku miliki.
Aku hanya diam. Seharian ini, aku
sedang berharap dia melakukan sesuatu yang spesial hari ini. Menembakku misalnya.
Iqbal tersenyum jail ke arahku.
Meletakkan headset yang sedari tadi ia dengarkan ke telingaku. Lagu Jadilah
Pacarku berkumandang di sana. Aku berharap Iqbal menyanyikannya untukku.
“Apa jawabannya?” Aku tersentak
bingung maksudnya apa. “Jawaban lagu tadi..”
Aku tersenyum lalu mengangguk.
Iqbal membalas senyumanku dengan jitakan kecil. Cara yang tidak romantis. Tapi itu lebih dari
cukup. Apalagi dari seorang Iqbal.
Andara memandang ke luar jalanan yang tengah ditetesi oleh air hujan. Matanya terus menatap kearah hujan itu, kosong. Dan seperti sebelum-sebelumnya, air matanya segera mengalir di pipinya untuk ke sekian kalinya. Dan seperti sebelum-sebelumnya pula, ia segera menghapus air matanya.
Andara segera mengalihkan perhatiannya pada sebuah buku berwarna hitam yang terletak di atas mejanya. Dengan langkah perlahan, ia mendekati buku itu. Tatapannya terus terarah pada buku itu. Hatinya kembali tergores. Rasa sakit yang terus menghampiri hatinya tetap saja tak mau hilang.
Dengan tangan bergetar, Andara mengambil buku itu. Dengan hati-hati, ia membuka lembar demi lembar dari kertas yang sudah penuh dengan tinta hitam yang timbul tenggelam.
Bersamamu kurasakan bahagia yang begitu dalam. Tapi sayang, rasa bahagia itu tak akan bertahan lama. Penyakit ini sudah meracuni tubuhku dan membuatku tak bisa hidup seperti anak normal lainnya. Aku benci keadaan ini!
Air matanya segera mengalir. Sudah lama ia tak membuka buku pemberian Rio ini. Isinya terlalu sakit untuk dibaca. Dan Andara, tak sanggup melakukannya. Apalagi pada kalimat ini. Andara mampu merasakan kebencian Rio saat menulis kalimat ini.
Andara membuka lembar berikutnya. Walau tangannya sudah gemetar tak karuan, tapi ia masih ingin menjadi saksi hidup Rio di buku ini.
Orang tua bejat itu datang padaku dengan beruraian air mata. Apa yang sebenarnya mereka pikirkan? Mengambilku… lalu membuangku? Kalian pikir aku ini apa? Sebuah mainan yang bisa kalian ambil dan buang seenaknya?
Andara jatuh terduduk di lantai. Diary itu sudah mengungkapkan salah satu penderitaan Rio dari sekian penderitaannya. Rasa penyesalan Andara kembali muncul. Ia kembali membuka halaman berikutnya.
Sudah berulang kali aku menyuruhnya untuk menjauhiku. Sudah berulang kali pula kumuntahkan cacian dan makian padanya. Tapi apa? Dia terus datang padaku dengan senyuman malaikatnya. Oh… saat itu, aku sempat berharap kalau aku tak mempunyai penyakit bodoh ini yang bisa membuatku menjauh darinya.
Andara tersenyum membaca isinya. Ia ingat saat Rio terus mencoba untuk menjauhi dirinya. Dengan cara memfitnah dirinya, dengan cara mengatakan hal-hal bodoh seperti mengatakan bahwa Rio adalah seorang guy dan sebagainya.
Awalnya Andara percaya akan itu semua. Tapi kelamaan, Andara tahu bahwa Rio hanyalah seorang pembohong dan tidak mempercayai itu semua dan kembali dekat dengan Rio.
Andara pikir, Rio adalah seorang anak yang sedang cari perhatian karena memang tak pernah mendapat kasih sayang dari siapapun. Tapi ternyata, alasannya lebih dari itu.
Andara kembali membuka lembar berikutnya.
Ya, sekarang aku kembali ke rumah orang tuaku berkat bujukan Anda, sponge-bob ku. Aku menamainya sponge bob karena ia seperti film sponge bob yang selalu membuatku ceria dan bahagia. Aku bahagia saat ini karena adanya sponge bob ku. Bukan karena orang tuaku.
Tubuhnya sudah melemas. Ia tahu persis itu isi dari buku itu. Tapi entah mengapa, tangannya terus saja membuka lembar demi lembar dari buku itu. Tangannya seakan terhipnotis oleh kekuatan dari buku itu.
Aku memutuskan untuk memiliki gadis itu dengan memilihnya sebagai pacarku. Egois memang, karena aku memilihnya di saat penyakitku sedang parah. Aku memang ingin terus berada di sampingnya di sisa-sisa hidupku yang sudah penuh dengan penderitaan. Apalagi saat orang tuaku kembali membuangku karena kekayaan mereka sudah kembali. Rupanya, mereka mengambilku hanya supaya mereka mendapat dana lebih dari pemerintah. Cih… orang tua macam apa mereka? Kenapa Tuhan begitu tega menitipkanku di kandungan mereka?
Aku juga memutuskan untuk memberitahu semuanya pada Anda. Aku sudah siap menerima semuanya, bahkan ditinggal oleh Anda. Dan ternyata, semua itu benar, Anda memutuskan hubungannya karena penyakitku yang nista itu. Ia bahkan tak mau mendengarkan penjelasanku darimana aku memiliki penyakit itu. Haha…. Aku begitu bodoh merasa bahwa Anda akan menerimaku apa adanya. Ia sama seperti yang lainnya. Dan berkat pemikiranku itu, aku jadi lebih tertutup. Tertutup pada siapapun. Tertutup pada apapun. Sangat tertutup.
Penyakit ini terus saja menggerogoti tubuhku. Sakit menerimanya. Aku tak kuat. Merintih, mengaduh, hanya itu yang bisa kulakukan. Tak ada yang menemaniku di sisa-sisa hidupku ini. Bahkan Anda yang sekarang malah menatapku dengan tatapan yang seolah mengatakan bahwa aku adalah sampah. Ya, penyakit ini adalah penyakit nista dan hanya orang-orang busuk yang memilikinya. HIV. Inilah penyakit sampah itu. Penyakit yang membuat kebahagiaan diriku menjauh.
Aku terus mengerang kesakitan di kamar dengan suara tertahan. Sendirian. Penyakit ini yang membuat hidupku terus menderita. Penyakit yang kudapatkan dari orang tuaku. Orang tua bejat itu. Orang tua yang selalu kuakui sebagai orang tua, tapi tak pernah menunjukan diri mereka sebagai orang tua. Ya Tuhan… adakah beban hidup lain yang harus ku panggul selain ini? Apa bebanku masih kurang?
Rumah sakit. Sepertinya tempat ini menjadi tempat kunjungan terakhirku. Rasa sakit yang menyiksa tubuhku sudah tak dapat kutahan. Jeritan, tangis, teriakan, auman, bahkan serentetan doa tak mampu mengusir rasa sakit ini. Tuhan… apakah kau belum puas menyiksaku? Apakah Kau lebih suka menyiksaku daripada mengambilku dari dunia yang kelam ini? Apa kau suka melihatku begitu menderita? Pertanyaan-pertanyaan tak terjawab terus berkelabat di benakku.
Mata itu. Mata yang selalu aku nantikan, hadir di depanku. Memberiku secercah harapan untuk tetap hidup. Tapi… mata itu tak lembut seperti dulu. Mata itu berubah. Mata itu terus menatapku dengan tatapan jijik. Tapi tetap saja, aku suka melihat mata ini. Mata milikmu, Andara Anggraeni.
Aku merasa kalau ini adalah akhir dari hidupku. Memang, sakitku sudah mulai mereda, tapi tetap saja aku merasa kalau Tuhan sudah menyuruhku duduk di pangkuannya.
Aku sudah melihat sekeliling. Tak ada orang yang menemaniku sama sekali. Padahal, kantuk ini sudah sangat parah. Aku ingin secepatnya memejamkan mata. Tapi, aku ingin ada seseorang yang menemaniku di saat kematianku. Khususnya kehadiran Anda, yang masih belum tahu hal yang sebenarnya tentang penyakitku. Yang masih salah paham dan tak mau lagi mendekatiku. Asal kau tahu Andara, aku bukan lelaki nakal.
Nihil. Sudah setengah jam aku menunggu disini, tapi tak ada seorangpun yang datang untuk mengunjungiku. Kasihan sekali nasibku. Hidup sendiri, di saat akhir hidupku pun sendiri. Haha.
Mungkin, aku akan menitipkan diary deritaku ini pada Andara. Setidaknya, saat aku tiada nanti, ia bisa memaafkanku atas penyakitku. Dan yang paling aku inginkan, ia bisa tahu semua tentangku. Tentang perasaanku.
Andara menjatuhkan buku itu ke lantai. Penyesalan kembali datang menyelimutinya. ia merasa kalau ia adalah orang paling kejam di dunia. Ia meninggalkan Rio hanya karena suatu alasan yang sebenarnya ia juga tak mau menerimanya.
Andara sebenarnya sudah tahu kalau penyakit Rio itu memang datang dari orang tuanya. Karena sesaat setelah Rio meninggal, orang tua Rio langsung meninggal karena memang penyakit yang menggerogotinya. Tapi ternyata, membaca diary ini jauh lebih membuatnya sedih, kehilangan, dan yang terpenting menyesal.
Penyesalan memang selalu datang belakangan. Dan ia berjanji akan menebus kesalahannya dengan membuat semua orang yang terkena penyakit mematikan itu merasa sangat bahagia di sisa-sisa hidupnya dengan menjadi perawat. Ia tak ingin banyak Rio-Rio lain di dunia ini yang baik hidup atau mati terus saja menderita.
Dengan tangan bergetar, Andara mengambil buku yang tertulis berbagai penderitaan itu dan memeluknya. Ia berjanji akan menjaga buku itu dan tak akan melepaskannya, walau ia telah melakukan itu pada pemiliknya. Tapi Andara berjanji, tak akan melakukan itu pada kenangannya.
Andara menghapus air matanya. Ia menatap keluar jendela. Langit sudah bersih dan bersinar. Mungkin seperti Rio saat ini yang sudah bahagia di sana. Memang, ia sangat pantas di sana. Dunia tak membawa kebahagiaan untuknya, tapi Andara yakin, Tuhan pasti menempatkan Rio pada sisi terbaiknya.
“Anda,” panggil seseorang yang sudah berdiri di balik pintu.
Andara menoleh setelah sebelumnya meletakkan buku itu di sebuah kotak yang ia beri nama ‘istimewa’.
“Hei, Alan,” sapa Andara balik sambil mendekati laki-laki itu. “Sudah lama kamu di sini?”
Alan menggeleng lalu mengikuti Andara yang segera keluar dari kamarnya. “Belom, kok. Baru aja. Oh, ya, hari ini Cinta melahirkan bayinya. Dan hebatnya, bayi itu tak terkena HIV seperti ibunya. Sungguh hal yang sangat luar biasa!”
“Oh ya?! Bagaimana bisa?!” seru Andara senang. Tak percaya. Bagaimanapun HIV adalah penyakit turunan.
“Aku juga tak tahu,” jawab Alan sambil tersenyum. “Oh, ya, Anda. Mengenai pernyataan cintaku… Bagaimana jawabanmu?”
Andara tersentak. Wajahnya langsung memerah. Kopi yang tadinya mau diberikan pada Alan pun malah dibiarkannya melayang di udara.
Waktu itu, Alan menyatakan cinta padanya, tapi Andara masih bingung sehingga ia mengundur jawaban itu hingga hari ini. Tapi sampai hari ini, ia belum tahu apa keputusannya. Ia juga tak mau mengambil keputusan secara gegabah. Ia tak mau menyesal lagi.
“Aku… tidak tahu,” lirih Andara sambil membayangkan sosok Rio.
Alan lalu tersenyum sambil mengusap rambut Andara. “Tak usah bertampang sedih begitu. Aku ngerti, kok. Nggak usah di jawab cepet-cepet. Aku akan selalu menunggu kamu.”
Andara bernafas lega. “Syukurlah. Oh, ya, kamu mau kan menemani aku ke kuburan?”
“Tentu saja. Memang, itu kuburan siapa? Kamu selalu memintaku untuk menemaniku ke sana, tapi kamu tak pernah memberitahuku itu siapa,” Tanya Alan dengan raut wajah penasaran.
“Dia adalah malaikatku,” jawab Andara singkat meninggalkan Alan yang hanya menatap Andara bingung.
Alan pun tersentak, merasa ditinggalkan oleh teman kuliahnya itu. “Anda! Tunggu!” panggil Alan lalu mengejar Anda dan menyamai langkahnya.
sebenernyaa ini ak buat pas ada tugas Bahasa Indonesia dan sengaja ak karang sesingkat mungkin jadinya agak aneeeh. yaaa, mogaa ajaaa agak bagusan ajaa deeh setelah ak edit beberapa kalimat. sebenernya siih ga bisa dibilang di edit juga siih. wkwk.
^0^
Ara memandang artis idola di TV dengan mata berkaca-kaca. Permainan piano yang merdu dari Kevin Vierra membuatnya tak bisa berkedip. Apalagi saat ia mengadu permainan pianonya dengan ayahnya, makin membuat Ara tak bisa berkedip. Ara ingin bisa sepertinya. Didukung oleh orangtuanya apapun yang ia inginkan.
“Kapan ya aku bisa seperti dia? Rasanya gak mungkin deh,” keluh Ara sambil menopang dagunya dengan tangan. “Kenapa mama gak ngebolehin aku untuk les piano? Kenapa mama gak memberi alas an?”
Banyak pertanyaan muncul di kepala Ara. Memang, saat Ara kelas 6 SD, mamanya tidak membolehkannya ikut les piano tanpa alasan. Padahal, kemampuan Ara saat itu sudah dibilang cukup. Ara pun tidak buta nada. Ia bisa membaca not dalam keadaan apapun. Mau ditambah kres, mau ditambah mol, Ara tetap bisa membacanya. Not balok pun sudah sangat ia kuasai. Lalu, apa alasannya hingga mama tak memperbolehkan Ara untuk mengikuti les piano? Sampai saat ini, Ara belum menemukan jawabannya. Selain karena tidak berani, ia juga takut kalau mamanya tersinggung atas pertanyaan Ara itu. Mau nggak mau, Ara tetap menyimpan rasa penasarannya itu sendirian.
“Kak Ara! Makan tuh, dipanggil Mama,” panggil Ben, adik Ara yang masih berusia 6 tahun.
“Diketok dulu, kek pintunya. Main nyelonong aja,” omel Ara lembut sambil mencubit gemas pipi Ben, adik laki-lakinya yang memang sangat imut.
“Iiih, kak Ara. Jangan dicubit dong pipi aku. Nanti jadi merah,” kata Ben sambil melepaskan pipinya dari cubitan Ara.
“iya, iya. Ayo kita makan,” ajak Ara sambil mengacak-acak rambut adiknya yang beda 10 tahun darinya itu.
^0^
Ara makan malam di rumahnya dengan perasaan tak menentu. Ingin rasanya ia bertanya kepada ibunya apa alasannya hingga tak memperbolehkan Ara ikut les piano saat kelas 6 SD dulu. Mau nggak mau Ara memendam harapan dan impiannya itu hingga ia berusia 16 tahun.
“Ara, kenapa kamu? Kok nasinya gak dimakan?” Tanya mama saat melihat nasi Ara yang Cuma terpencar-pencar tanpa arah.
“Hah? Oh.. gak apa-apa kok, ma,” jawab Ara sambil memakan sesendok nasinya yang terasa hambar. Mama makin heran.
“Ada apa sih, Ra? Ada masalah di sekolah?” Tanya mama lembut saat menyadari bahwa sikap Ara tak seperti biasanya.
Ara langsung menghentikan gerakannya. Hatinya berkata, inilah saatnya ia menanyakan alasan mama. Kalaupun alasan mama nanti adalah menjadi pianis itu tidak menguntungkan. Mungkin akan sukses kalau dia terkenal nanti, tapi kalau hanya mentok sebagai pianis biasa, tentunnya akan membuat Ara kecewa bahkan tertekan. Apapun alasan mama, Ara siap. Dan Ara, harus menyelesaikan masalah ini sekarang juga.
“ma… aku… aku…,” kata Ara terpotong. Ia menelan ludahnya. Ingin sekali berbicara, tapi ada sesuatu yang mencekat tenggorokannya.
Melihat Ara yang agak aneh, mama menatap Ara dengan tatapan bingung. Apalagi, wajah Ara yang kelihatan murung sejak pagi. Mama memang tidak mengetahuinya, tapi mama yakin seyakin-yakinnya kalau kemurungan itu juga berlangsung di sekolah. Feeling seorang ibu.
“Ara mau ngomong apa sayang?” Tanya mama lagi dengan lebih lembut dan juga dihiasi dengan senyum manis ibunya.
“aku… aku… aku….,” Ara menghela nafasnya dalam-dalam. Ia pun meletakkan sendoknya dan menatap mata mamanya dalam-dalam. “aku… aku… aku… aku… gak laper ma. Mau ke kamar aja.”
Ara pun langsung menuju ke kamarnya dengan langkah gontai. Mama menatap Ara semakin bingung. Tapi, ia langsung mengacuhkannya. Ara pasti akan bercerita kalau ia sudah siap. Toh, Ara sudah besar. Kalau tak mampu memendam perasannya sendirian, seseorang yang didatanginya siapa lagi kalau bukan mama.
^0^
“Si Rama main pianonya keren banget,” puji Ara pada salah satu teman sekelasnya. Saat ini sedang ada pengambilan nilai seni musik. Jadi semua siswa harus menunjukkan kebolehannya dalam bidang musik. Mau pake suling kek, pianika kek, yang penting alat musik.
“Lo kan juga bisa main piano. Sayang aja lo gak les. Jadi kemampuan lo gak begitu terasah,” kata Lani, teman akrab Ara yang langsung membuat Ara lemas seketika. Lani langsung memasang muka minta maaf. “maaf, Ra. Gue salah ngomong ya? Maaf, maaf. Ceroboh banget deh mulut gue.”
“Bukan salah lo kok. Lo kan bicara kenyataan,” kata Ara lemas sambil tersenyum paksa. “Apalagi nyokap gue sendiri yang gak ngebolehin gue buat les piano.”
“lo belum tahu alasan nyokap lo gak ngebolehin lo les piano?” Tanya Lani yang dibalas gelengan oleh Ara. “terus, kenapa lo gak Tanya?”
Ara menghela nafasnya. “gue ngerasa gak enak aja sama nyokap gue.”
“Kenapa mesti ngerasa gak enak?” Tanya Lani lagi dengan tatapan menyelidik.
“Gak tahu juga deh, Lan. Setiap gue mau ngomong, gue ngerasa ada sesuatu yang mengganjal. Ya, walau menurut gue, alasan nyokap gue gak ngebolehin gue les piano karena takut gue akan terpukul kalo gue gagal nanti. Apalagi itu hal yang paling gue inginkan di dunia ini,” jelas Ara membuat Lani mengangguk paham.
“Tapi, gue tetep ngerasa lo mesti tanya ke nyokap lo sendiri. Mungkin itu pendapatnya nanti, tapi tetep aja lo akan lebih ngerasa lega kalo nyokap lo sendiri yang ngomong,” kata Lani sambil menepuk bahu Ara lembut.
Ara terperangah dengan sikap Lani sekarang ini. Dia benar-benar dewasa. Berbeda jauh dengan dirinya. Sebenarnya sih itu hal yang wajar mengingat mereka sekarang sudah kelas 1 SMA.
“Ayuwindra Prahara!” panggil Pak Fuad selaku guru Seni Musik mereka.
“Ra, lo dipanggil tuh,” tegur Lani membuat Ara sadar dari keterperangahannya. Ia pun maju ke depan setelah sebelumnya menarik nafas dalam-dalam.
Ara pun maju ke depan dengan langkah pasti. Jemari tangannya sudah siap memainkan piano di depannya. Dan dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan, Ara mulai memainkan jarinya ke atas piano itu. Nada-nada yang melantun pun terdengar begitu indah. Ya, walau tak seindah permainan piano dari Rama. Tapi itu wajar karena Ara belajar piano secara otodidak. Sementara Rama, sudah diikutikan les piano oleh ibunya sejak kelas 5 SD.
Tepukan meriah pun mengiringi selesainya permainan Ara. Ara tersenyum puas. Ternyata banyak orang yang menyukai permainanya. Ara semakin merasa bahwa ia memang sangat ingin menjadi pianis terkenal. Memberikan kebahagiaan kepada seseorang lewat permainan pianonya ternyata sangat menyenangkan.
“Ara permainan kamu memang hebat. Tapi, sayang, pendidikan kamu dalam memainkan nada-nada yang kamu lantunkan kurang terasah,” kata Pak Fuad sambil bertepuk tangan. “Apa kamu belum pernah les piano?”
“Belum pak,” jawab Ara lesu. Ada nada penyesalan di suaranya. Seandainya dulu ia tetap bersikeras ikut les piano dan melawan larangan mamanya, pasti sekarang kemampuan Ara jauh melebihi kemampuannya sekarang.
“Sayang sekali ya, Ra. Padahal, kamu sangat berbakat. Memangnya kenapa kamu sampe nggak les piano?” Tanya Pak Fuad lagi membuat wajah Ara yang tadinya muram jadi bertambah muram.
“Nggak diizinin sama mama pak,” jawab Ara dengan nada kesal.
Pak Fuad hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Lalu mempersilahkan Ara duduk.
“Keren permainan lo!” puji Lani yang membuat senyum Ara kembali terkembang.
“Makasih, Lan. Tapi tetep aja, permainan gue gak sebagus Rama.”
“Tapi, itu kan karena kemampuan lo belum diasah aja. Kalo udah diasah pasti bakalan keren banget,” hibur Lani sambil tersenyum.
“Tapi sayang kemampuan gue nggak akan pernah bisa diasah,” kata Ara kesal. “Coba aja Mama ngizinin gue buat-”
“Stop!” kata Lani membuat ucapan Ara terpotong. “Berhenti nyalahin nyokap lo. Kasihan nyokap lo. Siapa tahu dia punya alasan khusus kenapa dia gak ngijinin lo les piano. “
“Tapi, tetep aja. Coba nyokap ngijinin gue buat les piano. Pasti gue gak bakalan kayak gini. Gue pengen menggapai cita-cita gue. Gue pengen kayak anak-anak yang lain yang mimpinya direstuin sama orang tuanya! Gue pengen kayak mereka! Didukung!” kata Ara dengan emosi yang tertumpah.
Lani menghela napas dan mengelus-elus pundak Ara supaya bisa sedikit menahan emosinya. “Gue tahu. Itu mimpi lo. Itu harapan lo. Bahkan, itu dunia lo. Tapi, lo gak tahu alasan nyokap lo ngelarang lo les piano. Lo bahkan gak pernah nanya.”
“Berarti gue harus nanya nyokap gue apa alasan dia ngelarang gue?” Tanya Ara yang sudah bisa menahan emosinya. Lani mengangguk setuju. “Tapi, kalo nyokap gak mau cerita dan tetep ngelarang gue les piano?”
“Kita gak akan tahu sebelum mencoba,” jawab Lani membuat senyum Ara terlukis kembali di wajahnya. Ia pun memeluk Lani, sahabat yang memang benar-benar sahabatnya. Ara juga bertekad untuk bertanya kepada mamanya dan mengetahui alasannya.
^0^
Sepulang sekolah, Ara langsung menemui mamanya dan mengajaknya untuk berbicara serius di taman belakang rumahnya. Mamanya yang memang sedang tidak sibuk mau saja menuruti permintaan putrinya. Namun, beberapa menit menunggu, Ara tak kunjung mengeluarkan suaranya.
“Ara, kamu mau ngomong apa ngajak mama ke sini?” Tanya mama sambil mengelus lembut rambut Ara.
“Ehm… tapi, mama jangan marah?” jawab Ara yang masih agak ragu.
“Iya sayang. Memangnya ada apa?”
Ara terdiam sejenak. Masih ada keraguan menyelimuti hatinya. Tapi, ia ingin tahu alasan mamanya. Setidaknya kalau ia tahu, ia bisa sedikit lebih lega dalam menjalani hari-harinya. Dan ia ingin hari-hari menyenangkan itu dimulai sekarang yang berarti pertanyaan itu harus diajukan sekarang.
“Ma, aku… aku mau tahu,” ujar Ara sambil menenangkan jantungnya yang berdetak keras. “Kenapa… waktu aku minta mama untuk les piano, mama gak ngijinin aku?”
Mama menatap mata Ara dalam-dalam. Ara mulai ketakutan. Namun, ia sudah siap dengan segala apapun reaksi mamanya.
“Jadi, itu yang membuat kamu muram selama ini?” Tanya mama sambil mendekatkan posisi duduknya lebih dekat dengan Ara. Ara mengangguk. “Jadi kamu mau tahu alasannya?”
“Iya,” jawab Ara yakin.
“Begini, mama ngelarang kamu untuk les piano waktu itu karena saat itu kamu kan kelas 6 SD. Persiapan untuk UASBN dan kamu harus terfokus sama belajar. Makanya, saat itu mama nggak setuju kalo kamu ikutan les piano. Mama takut kamu gak fokus sama ujian kamu,” jelas mama membuat mulut Ara menganga. Alasannya sesepele itu?
“Jadi… mama gak setuju bukannya karena mama gak suka aku jadi pianis?” Tanya Ara yang mulai menyadari kebodohannya.
“Ya iyalah. Mana mungkin mama gak setuju kalo kamu jadi pianis. Apalagi bakat kamu di bidang itu udah besar banget. Mama setuju apapun yang kamu lakukan, asalkan itu bersikap positif dan nyaman untuk kamu lakukan,” kata mama sambil mengacak-acak rambut Ara lembut.
Ara menyadari kekeliruannya selama ini. Ternyata, alasan mama adalah hanya karena dia mau mengadakan UASBN. Dan mama seperti orang tua yang lain yang menyetujui tindak tanduk anaknya dan apa yang menjadi harapan anaknya. Ara menyesal tak menanyakan ini sebelumnya. Ara juga menyesal karena telah menyalahkan mamanya terus menerus tanpa mau tahu alasan sebelumnya. Ara benar-benar bodoh.