Tampilkan postingan dengan label fanfiction-cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fanfiction-cerpen. Tampilkan semua postingan

16 Apr 2011

The Destination


“Kak Ify cantik banget!” jerit Oik histeris.
Ify tersenyum malu. Wajahnya memerah.
Oik segera memutar-mutar tubuh kakaknya itu. Ify hanya pasrah, membiarkan tubuhnya di putar-putar seenaknya. Oik pun segera menghentikan tingkat putarannya. Matanya berkaca-kaca kagum.
“Kak Debo beruntung bisa dapetin Kak Ify. Kak Ify cantik banget pake gaun pengantin ini,” ujar Oik sambil terus memandang kebaya hijau berpayet kupu-kupu yang tengah dipakai Ify.
“Masa sih?” Tanya Ify malu-malu.
Ify dan Debo. Sepasang kekasih ini akan segera melaksanakan pernikahan kurang lebih tiga bulan lagi. Mereka akan mengungkapkan janji setia ini dan kemudian akan hidup bersama sebagai keluarga.
Debo dan Ify memang belum lulus kuliah dan mereka akan melangsungkan pernikahan saat mereka lulus nanti. Lagipula, Debo yang mempunyai otak cemerlang, sudah ditawarkan di perusahaan salah satu Stasiun TV, sedangkan Ify yang memang sudah menjadi asisten dosen, akan segera melangkahkan kakinya untuk menjadi seorang dosen. Masa depan yang cerah sudah menanti mereka berdua. Untuk apa lagi menunda-nunda sebuah pernikahan.
“Oik!” panggil Gina –mama Ify dan juga Oik pastinya- yang sedang sibuk membantu Debo memakai jas-nya. Kalau tidak dibantu memakaikannya, jas itu pasti akan segera rusak sebelum waktunya. Maklum, Debo itu anaknya suka sradak sruduk.
“Iya, Ma?” jawab Oik masih tetap mengaggumi gaun yang di pakai Ify.
“Bantuin Mama dong, Ik. Debo perutnya semakin membuncit, nih. Jadi susah dipakein kemeja nya,” gurau Gina membuat Ify dan Oik tertawa. Oik pun segera menghampiri Mamanya dan ikut membantu.
“Wuuu, enak aja. Perut six pack gini,” canda Debo dengan mulut manyun.
Ify menatap Debo yang sekarang sedang sibuk menahan nafas demi mengecilkan perutnya karena kemejanya itu sepertinya sudah mengalami masa-masa kritis.
Tanpa sengaja, segurat senyum muncul di bibir Ify. Sebentar lagi, mereka berdua akan mengucapkan janji suci. Debo akan menjadi miliknya, begitu pula sebaliknya. Jantungnya berdebar-debar membayangkan mereka berdua duduk di pelaminan. Ify sudah tidak sabar lagi.
“Kayaknya kemejanya emang harus diganti, deh. Perut kak Debo udah kena tumor parah nih,” celetuk Oik yang langsung mendapat jitakan pelan dari Debo.


^0^
“Ify, selamat ya! Gak nyangka, bentar lagi lo bakalan menjalani kehidupan baru,” ucap Shilla –salah satu teman Ify- senang. Ia cukup terkejut saat melihat Ify memberikannya sebuah undangan berbentuk kipas yang di bagian kipas itu tertulis mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pernikahan Debo dan Ify.
“Lo yakin, Fy mau ngelaksanain pernikahan dalam waktu secepat ini?” Tanya Zevana –teman sekampus Ify juga- yang memang suka ceplas-ceplos dan berbicara apa adanya.
Ify langsung dengan cepat menoleh kearah Zevana. Merasa tak terima dengan apa yang Zevana katakan. Memangnya pikiran Ify sesempit itu? Tentunya ia sudah tau apa konsekuensi dari sebuah pernikahan. Dan Ify juga sudah merasa siap menerima tanggung jawab yang lebih besar di dalam kehidupannya.
“Maksud lo apa?” tanya Ify dengan nada tidak suka.
“Ya, gue ga abis pikir aja lo udah langsung mau nikah setelah lulus kuliah,” ujar Zevana santai tanpa menyadari perubahan wajah Ify yang kusut. Sementara Shilla sudah memberikan tatapan tajam ke Zevana yang mengartikan kalau ia harus tutup mulut sekarang.
“Loh? Emangnya kenapa? Gue yakin kok sama Debo. Dia baik, dia mau nerima gue apa adanya. Gue ga takut ngejalanin masa depan gue sama Debo. Gue sayang banget sama Debo dan gue yakin begitu pula sebaliknya. Terus, apa yang harus gue ragukan lagi?” jawab Ify kesal. Dia memang sudah memikirkan ini semua matang-matang. Kenapa jadi Zevana yang sekarang seolah memojokannya?
“Ya, gue ngerasa lo ngambil keputusan kecepetan,” jawab Zevana masih santai. Masih belum menyadari emosi Ify yang sudah tersulut karena kata-katanya.
“Kenapa harus kecepetan? Gue udah yakin sama ini semua kok,” ujar Ify masih belum bisa menerima kata-kata yang dilontarkan Zevana.
“Emang, tujuan lo nikah ini sebenernya apa sih?” tanya Zevana yang sekarang sudah menatap Ify.
“Gue pengen…,” kata-kata Ify terhenti sejenak. Ia bingung apa tujuannya. Ia tidak memikirkannya.
Ingin punya anak dan membangun sebuah keluarga, itu alasan yang klise. Lagipula alasan itu kurang tepat. Karena ia percaya pada Debo, itu juga bukan sebuah tujuan. Matanya menerawang ke depan. Memikirkan jawaban yang tepat. Tapi tak kunjung ditemukannya.
“Lo pengen apa?” tanya Zevana tak sabar.
Ify segera tersadar dari lamunannya. Matanya menatap Zevana dan juga sebaliknya. Ify menundukkan kepalanya, belum bisa menemukan alasan yang tepat.
“Gue nggak tau,” ujarnya pelan membuat Zevana mendesahkan nafas berat.
“Tuh kan, gue bilang apa? Lo ngambil keputusan kecepetan. Lo bahkan nggak tau tujuan lo nikah apa. Lo belum siap, Fy. Lebih baik lo pikirin dulu mateng-mateng, sebelum lo nyesel. Atau, lo batalin rencana pernikahan lo,” ujar Zevana lancar tanpa memikirkan ekspresi Ify yang sudah memucat.
Dan dengan sekuat tenaga pula, Shilla menginjak kaki Zevana dan teriakan dari mulut Zevana pun menggema seantero kantin kampus itu.

^0^
Ify menatap jalan raya yang kini sedang ia lewati. Pikirannya masih tertuju pada apa yang dikatakan Zevana tadi. Apa benar ia masih belum siap menikah? Apa benar ia harus menunda pernikahan ini? Apa benar ia terlalu cepat dalam mengambil keputusan?
Tiba-tiba, mobil yang ditumpangi Ify berhenti mendadak. Tentu saja Ify tersentak dan segera terbangun dari lamunannya. Ify menatap Debo khawatir.
“De, kenapa? Kok mobilnya kamu berhentiin?” tanya Ify panik sambil celingukan mencari sesuatu.
“Abisan dari tadi kamu bengong aja,” jawab Debo. Gerakan Ify yang celingukan sekaligus panik pun langsung terhenti. Ia menatap Debo yang juga sedang menatapnya bingung. “Kamu kenapa sih?”
Ify mengalihkan pandangannya dari Debo kemudian menunduk. “Kayaknya… aku… belum siap menikah,” gumam Ify pelan. Debo menatap Ify shock.
“Maksud kamu apa? Aku nggak suka bercandaan kamu,” ujar Debo sambil kembali melajukan mobilnya dalam keadaan shock. Ia sama sekali tak mengerti apa yang ada di pikiran Ify saat ini. Padahal, waktu itu Ify lah yang sangat semangat untuk acara pernikahan ini. Bahkan sangking tidak sabarnya, ia sampai berniat untuk mempercepat hari pernikahan itu. Tapi kenapa sekarang sifatnya berubah seratus delapan puluh derajat?
“Aku nggak bercanda, De. Kayaknya, pernikahan kita emang harus diundur,” kata Ify lirih. Debo menggeleng tak mengerti.
“Kita tetep harus nikah. Kita udah nyiapin semuanya. Lagipula, apa sih yang ngebuat kamu ragu?” tanya Debo agak kesal dengan sikap Ify yang berubah.
“Aku nggak siap, De. Aku belum siap!” jawab Ify tak berani menatap Debo.
Debo sebenarnya bisa saja kembali membalas kata-kata Ify. Tapi melihat wajah Ify yang sepertinya sudah tidak bisa diajak bicara lagi, Debo memilih untuk diam. Biarlah nanti masalah ini diselesaikan dengan baik-baik. Tanpa amarah dan pastinya dengan tenang.


^0^
“Hah?! Kok bisa?!” teriakan nyaring Oik membuat Debo harus menjauhkan sedikit dirinya dari Oik.
“Eeeeh… ga pake kenceng-kenceng bisa kali,” ujar Debo yang sekarang sedang bicara empat mata dengan Oik di halaman rumah Oik. Tadi sewaktu Debo mengantarkan Ify ke rumahnya, Ify langsung buru-buru masuk ke rumah tanpa bicara sepatah katapun pada Debo. Debo pun akhirnya memanfaatkan kesempatan ini untuk bicara berdua dengan Oik.
“Maaf,” kata Oik memelankan suaranya sambil terkikik. “Loh kok bisa sih, kak?”
“Aku mana tau. Tadi pas aku jemput Ify, tiba-tiba aja Ify ngomong gitu. Padahal kemaren kan masih baik-baik aja,” jawab Debo lemas.
Oik tampak berpikir. Setelah mengukur baju pernikahan waktu itu, Ify masih terlihat bahagia. Dan tidak ada kendala apapun yang membuat Ify berniat mengundurkan pernikahannya. Tapi kenapa sekarang tiba-tiba Ify jadi ragu?
Debo melirik jam tangannya. Sudah menunjukkan pukul lima sore. Debo sudah ada janji dengan teman-temannya. Ada acara untuk melepas masa lajang.
“Ik, aku pamit dulu, ya,” ujar Debo sambil bangkit dari kursinya.
Oik yang sibuk berpikir langsung mengalihkan perhatiannya pada Debo. “Oke deh kak. Oh, ya menurut aku, mungkin Kak Ify lagi banyak pikiran. Semoga aja pemikiran Kak Ify cepet berubah.”
“Aku harap juga gitu, deh. Pokoknya masalah ini Cuma kita bertiga aja yang tahu. Usahain, orang tua kita nggak ada yang tahu.”
Oik mengangguk sambil tersenyum. Debo pun balas tersenyum kemudian meninggalkan kediaman itu sambil berharap semoga yang dikatakan Ify tadi Cuma sekedar ucapan ngawur.


^0^
Sudah beberapa hari ini Ify menghindari Debo. Menghindar dalam hal apapun. Telepon nggak pernah diangkat, SMS nggak dibales, dijemput pun Ify selalu ngumpet atau pulang duluan demi menghindari Debo. Sebenarnya, ini sengaja ia lakukan untuk menjernihkan pikirannya. Memutuskan yang terbaik untuknya dan juga untuk Debo.
Ify merenung sendirian di kamarnya. Memikirkan apa tujuannya menikah secepat ini. Waktu semakin sempit. Dan Ify tak mau menyesal atas keputusan yang diambilnya.
Tok… tok… tok…
Ify menoleh ke pintu kamarnya yang diketuk. Ify mendesah. Saat ini ia sedang tidak mau diganggu.
“Masuk,” ujar Ify dengan berat hati. Saat itu pula pintu kamar pun terbuka.
Tampak Oik yang sedang memamerkan cengirannya. Setelah menutup pintu, Oik segera melangkahkan kakinya mendekati Ify. Ify memaksakan senyumnya saat Oik sudah duduk dengan manis di sampingnya.
“Oik nggak ganggu kan, kak?” tanya Oik membuat Ify kembali memasang senyum terpaksanya. Oik tertawa kecil. “Pasti ganggu deh. Haha.”
Ify hanya mendengus. Ify memang orang yang sulit menutupi perasaannya. Berbanding terbalik dengan Oik yang mudah saja menyembunyikan perasaannya. Karena itulah semua orang tampak mudah membaca isi hatinya.
“Masih bimbang, kak?” tanya Oik membuat Ify menatap Oik bingung.
“Bimbang apanya?” tanya Ify balik.
“Nggak usah pura-pura nggak tahu deh, kak. Tentang kebimbangan pernikahan kakak itu,” jawab Oik to the point.
“Kamu tahu dari mana?”
“Dari Kak Debo. Kak Debo cerita sama aku,” jawab Oik membuat Ify ngedumel dalam hati. Ngapain coba Debo cerita-cerita ke adiknya ini? “Emangnya kenapa sih, kak?”
Ify menghembuskan nafasnya, mencoba menyembunyikan semua perasaannya. “Enggak ada apa-apa kok, Ik.”
Oik menyelonjorkan kakinya lalu meregang-regangkan tubuhnya supaya lebih rileks. Kemudian ia menyandarkan kepalanya ke bahu Ify. Sebenarnya ini adalah salah satu trik yang biasa digunakan Oik agar Ify mau menceritakan dan membagi masalahnya dengan Oik.
“Kak Debo orangnya baik kan, ya?” tanya Oik. Ify mengangguk. “Selama ini, kak Debo nggak melakukan sesuatu yang ngebuat kak Ify kecewa, kan?” tambah Oik lagi. Ify kembali mengangguk. “Terus… kenapa kak Ify sekarang ragu-ragu?” pancing Oik sambil melirik Ify yang tampak merenung.
“Tujuan,” gumam Ify sangat pelan. Tapi Oik sudah cukup mendengarnya. Pancingannya berhasil.
“Tujuan?” ulang Oik sambil mengerutkan keningnya tak mengerti.
Ify mendesah, kemudian menatap Oik yang sudah tak lagi bersandar di bahunya. “Aku nggak tahu tujuan aku nikah apa! Kayaknya, aku ngambil keputusan terlalu cepet.”
“Kok tiba-tiba kakak kepikiran kayak gitu?”
Ify pun menceritakan semua yang dikatakan Zevana padanya. Oik menyimak dengan baik setiap perkataan Ify. Ify juga menceritakannya dengan penuh penghayatan. Ada kalanya di dalam suaranya terdengar pelan, ada saatnya juga terdengar tegas.
Oik sekarang sudah mengerti apa yang mengganjal di pikiran Ify. Memang usia Oik masih 17 tahun, lebih muda dari Ify yang sekarang berusia 22 tahun. Tapi tentu saja pikiran Oik tak kalah dewasanya dengan Ify. Bahkan, Oik bisa menjadi sangat dewasa tanpa ia sadari.
“Cuma itu yang kakak raguin?” tanya Oik sambil menghadapkan posisi tubuhnya ke Ify supaya saling berhadapan.
“Itu bukan sekedar ‘Cuma itu’ oik!” sahut Ify tak terima.
“Oke, oke, terserahlah,” kata Oik mengalah. “Tapi apa kakak yakin kalo kakak mau ngebatalin semuanya hanya demi alasan itu?”
“Kalo emang itu yang terbaik, kenapa enggak?”
“Kakak yakin?” tanya Oik lagi sambil menatap mata Ify dalam-dalam. Segurat keraguan pun segera muncul di kedua matanya. Mata kan memang tak bisa bohong dan membuat Oik yakin akan sesuatu. “Denger ya, kak. Bisa aja ucapan kak Zeva waktu itu Cuma buat menguji kakak. Aku juga yakin, sebenernya kakak udah tau apa tujuan kakak menikah, sayang aja kakak nggak menyadarinya. Mana mungkin kakak yakin banget buat nikah sama kak Debo kalo kakak nggak ngerti apa tujuan kakak.”
“Terus apa yang harus aku lakuin? Aku sama sekali nggak kepikiran apa tujuanku,” kata Ify putus asa.
“Rasain dan bayangin apa yang udah kakak lakukan sama kak Debo. Siapa tahu kakak bakal nemuin tujuan kakak di situ,” nasihat Oik dan tak berapa lama, mata Oik pun terasa berat. “Aku ke kamar dulu ya, kak. Nasihatin kakak ternyata bikin aku ngantuk juga.”
Ify mengangguk kemudian teringat sesuatu. “Oh, ya, Ik, kamu sama Debo belum bilang ke orang tua kita kan soal perkataanku waktu itu?” tanya Ify sambil mencegah Oik keluar kamar.
“Tenang aja, kak. Aku sama kak Debo yakin kok kalo kak Ify bakalan berubah pikiran,” ujar Oik lalu berjalan dengan terhuyung-huyung keluar dari kamar Ify.
Ify menghela nafas. Ternyata pencerahan dari Oik sedikit mencerahkan pikirannya. Dengan langkah dipenuhi renungan, Ify berjalan mnuju kasurnya lalu merebahkan dirinya sambil menutup matanya. Memikirkan setiap kenangan yang telah ia lalui bersama Debo.
Ify tersenyum saat membayangkan sewaktu Debo melamarnya. Tanpa Ify sangka, Debo sudah me-request sebuah lagu ke salah satu kenalannnya yang bekerja di salah satu stasiun radio di Jakarta.
Awalnya Ify bingung mengapa saat itu Debo menyuruhnya memasang headset ke telinganya. Tapi setelah headset itu terpasang, lagu ‘Janji Suci’ yang dilantunkan oleh ‘Yovie and Nuno’ terdengar di telinganya. Dan saat lagu itu mengalun, Debo berlutut di hadapannnya dan menyerahkan sebuah cincin berwarna emas putih. Dada Ify meluap-luap. Betapa banyak perasaan yang ia rasakan saat itu.
Memori-memori yang indah pun mulai terekam ulang di benaknya. Saat-saat Debo pura-pura marah padanya, saat-saat mereka bersama, saat-saat mereka bertengkar dan Cuma dalam waktu beberapa jam mereka baikan kembali, dan saat-saat dimana Ify merasakan perasaan nyaman dan senang.
Tiba-tiba sesuatu terselip di benaknya. Ya untuk itu! Untuk itu ia mau mempercepat pernikahannya. Itulah tujuannya. Kenapa Ify baru terpikirkan sekarang?
Seulas senyum terpancar di bibir Ify. Ia bertekad tak akan menunda pernikahan itu. Ia sudah tahu tujuannya. Dan ia tidak akan ragu lagi akan keputusannya. Tak akan lagi.


^0^
Hari pernikahan pun akhirnya tiba. Debo merasa lega saat di keesokan hari –setelah Oik menceramahinya- Ify kembali ke sikapnya semula. Malahan, Ify lebih bersemangat dari sebelumnya. Oik juga merasa lega. Bukan hanya karena Ify merubah pikirannya, tapi karena ia berhasil menjadi penasihat yang baik. Dan motivasinya menjadi psikolong semakin besar. Oik pun merasa kalau ia memang sangat berbakat sebagai psikolog.
Setelah kelulusan, acara itu pun dilaksanakan. Semua teman kampus Debo dan Ify pun hadir semua di situ. Acara pernikahan ini memang diadakan semeriah mungkin Karena dari pihak Debo maupun Ify tak mau membiarkan acara sekali seumur hidup ini terlihat biasa saja.
“Aduh, aku deg-degan nih,” keluh Ify pada Oik yang sedang sibuk mendandaninya.
“Wajar lah, kak. Namanya juga pertama kali nikah,” sahut Oik yang membuat Ify menatap tajam ke arahnya.
“Maksud kamu apaan? Aku bukan janda yang udah pernah nikah ya,” kata Ify garang. Oik pun segera memberikan symbol ‘peace’ di jarinya.
“Oh, ya kak. Emang tujuan kakak nikah ini apa? Kakak belum cerita-cerita nih sama aku,” tanya Oik sambil duduk di sebelah Ify.
Ify tersenyum penuh misteri kemudian tertawa. “Alesanku simple kok, Ik.”
“Iya tau. Tapi apa? Siapa tau kan kalo aku mau nikah nanti, terus aku nggak tau apa tujuanku, tujuan kakak kan bisa aku pake, hehe,” gurau Oik.
Ify ikut tertawa, kemudian menatap lurus sambil tersenyum.
“Tujuan aku nikah adalah… aku kepengen lebih bahagia,” jawab Ify membuat Oik juga ikut tersenyum. “Bego banget ya aku baru menyadarinya sekarang. Aku tau tujuanku itu setelah aku merenungi kebersamaan aku sama Debo. Betapa bahagianya saat aku di sisi Debo. Dan aku menikah karena aku pengen ngerasain kebahagiaan yang lebih besar saat bersama Debo. Saat nggak ada satupun orang yang bisa ngerebut Debo dari aku.”
Oik bertepuk tangan membuat Ify menatapnya bingung. “Tumben kakak bijak.”
Ify pun langsung melancarkan serangan cubitannya pada Oik. Oik berteriak kesakitan sambil mengelus-ngelus tangannya yang perih.
“Rasain kau!” kata Ify sambil tersenyum penuh kemenangan. Oik menatap kakaknya sambil cemberut.
“Ify!” panggil Gina, Mama Ify yang kini sedang berjalan mendekatinya. “Ayo, acaranya udah dimulai!”
Ify mengangguk kemudian berjalan mengikuti mamanya mendekati Debo yang terlihat tampan dengan pakaian adat sunda yang dikenakannya. Debo meraih jemari Ify yang membuat satu sama lain merasa hangat.
“Kamu siap, Fy?” tanya Debo membuat Ify mengangguk dengan debaran hebat di dadanya.
Mereka berdua pun berjalan bersama, kemudian mengucapkan janji suci dengan tujuan yang sama. Menjadi lebih bahagia. Dari ‘satu’ menjadi ‘berpasangan’. Diawali dengan kata ‘Ify-Debo’, diakhiri dengan ‘Selamanya’. Ify-Debo happily ever-after :)

24 Sep 2010

Lelaki di Balik Jendela

 Lintar, Ozy, Cakka, Sivia, Shilla, dan Oik, menatap tudung saji di depannya dengan tatapan ingin tahu. Bahkan, perut mereka sudah berbunyi riuh sejak tadi. Bocah-bocah berusia 9 tahun itu tak sabar menunggu waktunya berbuka puasa. Bagi anak seumuran mereka, puasa full merupakan hal yang memberatkan. 1 menit saja terasa seperti 1 jam.
 “Eh, jangan ngeliatin sampe segitunya, dong. Nanti batal puasanya,” tegur Bunda Ucie yang tengah menyiapkan kolak.
 “Biarin aja,” kata Ozy yang sudah tak bisa menahan rasa laparnya.
 “Eh, Ozy, nggak boleh gitu. Nanti Allah marah sama Ozy. Ntar pahalanya Ozy berkurang, loh,” kata Bunda Ucie. Ozy pun jadi khawatir.
 “Eh, iya iya. Maafin Ozy ya Allah,” kata Ozy sambil menengadahkan tangannya dan menatap ke atas.
 Bunda Uchi pun tersenyum.
 Tak berapa lama, bedug Maghrib pun terdengar. Semua anak pun langsung berteriak senang. Dengan tak sabar, Shilla membuka tudung saji di depannya dan menatap beberapa makanan lezat yang tersaji di depannya. Ada ayam goreng, sayur asem, ikan bakar, dan buah-buahan yang terlihat sangat segar.
 Lintar yang sudah mengeluarkan air liurnya pun dengan sigap mengambil ayam goreng di depannya dan berniat untuk memakannya.
 “Heh! Berdoa dulu!” tegur Bunda Ucie membuat Lintar meletakkan ayam gorengnya kembali ke piring dengan wajah kecewa.
 Bunda Ucie meletakkan kolak di atas meja makan dan bergabung bersama anak-anak panti kesayangannya itu. Harapan Ayah adalah sebuah panti kecil-kecilan yang dibangun Ucie bersama kawan-kawannya dulu. Namun, kawan-kawannya hanya senang membuatnya, namun tak senang merawat. Untuk itu, hanya Ucie lah yang merawat anak-anak ini dengan sepenuh hati. Dan panti ini dikelolanya sendirian.
 Selesai berdoa bersama, anak-anak ini pun segera sibuk memakan makanan mereka. Lapar yang sejak tadi menghujam mereka, akhirnya termusnahkan sudah.
 Ozy menatap ke arah jendela depan dengan serius. Dan seperti yang Ozy duga, sosok yang Ozy tunggu akhirnya datang juga. Sesosok lelaki yang seumuran dengannya yang kembali datang setiap buka puasa tiba. Laki-laki yang sama sekali tak Ozy kenal. Tapi, lelaki itu selalu datang ke panti ini dan duduk di sana.
 “Ozy, kok bengong, makananya dimakan dong,” tegur Bunda Ucie membuat Ozy segera memakan makananya dan menatap laki-laki di jendela tanpa tahu apa yang sebenarnya ia lakukan.

^0^
  Sudah seminggu berturut-turut bocah laki-laki itu selalu muncul di balik jendelanya. Rutin selama bulan puasa ini. Ozy juga jadi penasaran. Ia berniat berkenalan dengan laki-laki itu dan menanyakan perihal kedatangannya ke pantinya.
 “Ozy makannya pelan-pelan aja, dong,” kata Oik yang merasa risih melihat Ozy makannya jadi berantakan kemana-mana karena terburu-buru.
 “Biarin aja,” jawab Ozy dengan mulut penuh dengan nasi. Oik semakin sebal melihatnya. “Bunda, udah habis! Ozy keluar dulu!”
 “Tapi, masih ada kolak, kamu nggak mau?” tawar Bunda Ucie bingung melihat Ozy yang tergesa-gesa.
 “Enggak!” teriak Ozy sambil berlari keluar dan menutup pintu. Bunda Ucie hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Ozy yang mendadak aneh.

^0^
 Ozy mengintip dari balik tembok. Seorang laki-laki yang misterius tengah menikmati makanannya. Laki-laki itu memang terlihat agak kumel. Bajunya sudah sobek-sobek dan kotor. Kulitnya pun tak bersih. Sepertinya, ia anak jalanan yang sering Ozy liat di pinggir jalanan.
 Anak itu segera membereskan makananya. Sepertinya, ia sudah selesai makan. Ozy terus mengintip laki-laki yang sekarang sedang asyik minum itu tanpa bermaksud mendekatinya.
 “Udah, nggak usah ngintip-ngintip. Aku udah tau kok,” katanya setelah meminum air mineral yang segera habis di tangannya.
 Ozy tersentak. Jadi, selama ini anak itu tau kalo Ozy mengintipnya? Padahal anak itu sama sekali tak melirik kearahnya. Matanya tetap  tertuju pada makanan di depannya. Tapi dia bisa mengetahui keberadaan Ozy.
 “Nggak usah heran, deh kenapa aku bisa tau,” katanya lagi membuat Ozy mengerutkan keningnya, heran. Anak ini ternyata bisa membaca pikirannya.
 Merasa sudah kepalang basah, Ozy pun segera keluar dari persembunyiannya dan menatap anak di depannya yang sudah beranjak bangun dari posisi duduknya. Anak itu menatap Ozy lembut, kemudian tersenyum. Ozy pun membalas senyum itu dengan agak ragu.
 “Kenapa kamu ngintipin aku?” tanya anak itu langsung, tanpa basa-basi.
 Ozy memainkan kakinya sambil menunduk ke bawah. Pertanyaan anak di depannya tadi membuat nyali Ozy ciut seketika. Anak itu memang terlihat ramah, tapi dari nada suaranya terdengar datar, juga dingin.
 “Aku Cuma penasaran, selama seminggu ini, kamu sering banget dateng ke sini,” jawab Ozy sambil memberanikan menatap anak itu  yang masih tersenyum.
 “Ooh.. Cuma karena itu?” tanya anak itu membuat Ozy mengangguk. Anak itu pun mengangguk-anggukan kepalanya. “Aku dateng ke sini karena aku Cuma mau buka puasa aja kok. Aku sama sekali nggak berniat jahat.”
 Ozy menatap anak itu bingung. “Kok buka puasanya sampe ke sini? Emang di rumahmu kenapa?”
 Anak itu malah menghela nafasnya dan kembali duduk di tempatnya semula. Ozy pun mendekatinya dan duduk di sebelahnya.
 “Ngomong-ngomong.. kita belum kenalan, nih,” kata anak itu sambil mengulurkan tangannya. “Debo. Kamu?”
 Ozy pun membalas uluran tangan itu seraya tersenyum. “Ozy.”
 Mereka berdua pun melepaskan tangannya. Ozy menatap Debo lekat-lekat, masih menunggu jawaban. Sementara Debo, sibuk memandang bintang di langit karena memang hari sudah menunjukkan bahwa malam sudah tiba.
 “Kenapa kamu pengen tahu?” tanya Debo masih tak mengalihkan pandangannya dari bintang-bintang.
 “Emangnya nggak boleh, ya?” tanya Ozy balik membuat Debo terkekeh. “Kalo nggak mau jawab juga nggak apa-apa, kok. Walau sebenernya aku pengen banget tahu.”
 Debo menatap Ozy jahil. “Kasih tau nggak ya? Hem~ nggak usah deh. Hahahahaha.”
 Ozy manyun lalu mengalihkan pandangannya dari Debo. Ternyata bocah seumurannya ini jahil juga.
 “Hehehe. Bercanda, kok,” kata Debo membuat Ozy sekarang menatapnya ingin tahu. “Ya, aku pengen aja buka puasa di sini. Abisnya kalo di rumah, aku nggak bakalan bisa buka.”
 “Loh, emangnya kenapa?” tanya Ozy lagi, masih penasaran.
 “Karena kalo aku bawa makanan ini ke rumah, pasti makanan ini direbut sama ayah tiri aku. Dan aku nggak bakalan punya makanan buat buka puasa,” terang Debo. Matanya terlihat sedikit berkaca-kaca.
 “Kok, ayah kamu jahat banget,” kata Ozy sambil menatap Debo iba.
 Debo menghela nafasnya berat, lalu menatap Ozy yang juga sedang menatapnya. “Namanya juga ayah tiri. Ayah tiri sama jahatnya dengan ibu tiri yang ada di film Cinderella.”
 Ozy menundukkan kepalanya. Ia merasa beryukur tidak memiliki orang tua yang jahat padanya. Ia hanya punya Bunda Ucie, orang asing yang amat menyayanginya dengan sepenuh hati. Nasibnya jauh lebih beruntung daripada Debo.
 “Ozy!” panggil Bunda Ucie dari depan pintu. “Ayo ke dalem, sayang. Udah malem.”
 “Iya, Bunda!” teriak Ozy yang berada di halaman belakang bersama Debo. “Maaf ya, De, aku harus masuk. Nanti aku diomelin Bunda lagi.”
 Debo mengangguk sambil beranjak dari duduknya diikuti Ozy.
 “Aku juga udah mau pulang. Dadah Ozy,” kata Debo sambil melambaikan tangannya.
 “Tapi, besok kamu ke sini lagi kan?” tanya Ozy dengan wajah penuh harap. Ozy merasa bahwa dirinya dan Debo sudah menjadi sahabat walau hanya untuk sesaat.
 “Pastilah,” jawab Debo sambil mengacungkan jempolnya.
 Ozy tersenyum senang, kemudian ia berpamitan pada Debo dan segera berlari menuju Bunda Ucie yang sudah bertampang khawatir.

^0^
 Sudah beberapa hari ini Ozy dan Debo sering bertemu yang mangakibatkan mereka jadi teman akrab. Tapi, Debo justru lebih banyak diam, Ozy yang lebih sering bercerita tentang kehidupan pribadinya. Sementara Debo jadi pendengar setia. Tapi tetap saja tak membuat Ozy bosan berteman dengan Debo.
 “Ozy, nggak tidur?” tanya Lintar yang sudah menguap berkali-kali.
 Ozy melirik jam dinding bergambar kodok yang tepat berada di sampingnya. Jam menunjukkan pukul 1 siang. Memang, siang bolong gini paling enak buat tidur.
 “Nggak, ah. Belom ngantuk,” jawab Ozy yang masih asyik dengan komik Naruto-nya.
 Lintar kembali menguap. Wajahnya sudah lemas. Matanya pun ikutan merah. Sepertinya Lintar terkena syndrome ngantuk stadium 4.
 “Zy, aku tidur, ya. Nggak apa-apa kan sendirian?” tanya Lintar diseling uapannya.
 Ozy mengangguk. Dan akhirnya, dengan langkah gontai, Lintar pun berjalan menuju kamarnya. Sementara Ozy, masih asyik membaca di ruang keluarga sendirian. Karena memang semua penghuni panti udah kena syndrome ngantuk jam-jam segini. Tak ada yang lebih enak untuk menunggu berbuka selain tidur.
 Tak berapa lama, terdengar ketukan pelan dari arah jendela yang tepat berada di belakang Ozy. Ozy segera menghentikan aktifitasnya. Dengan perlahan, Ozy menatap kearah jendela. Ozy tersenyum girang dan segera berlari kearah jendela.
 “Debo, tumben ke sini siang-siang?” tanya Ozy setelah membuka jendela.
 “Zy, aku boleh minta tolong nggak?” tanya Debo dengan keringat yang sudah bercucuran tak tentu arah.
 “Tentu aja boleh. Mau minta tolong apa?” tanya Ozy balik sambil tersenyum ramah.
 “Aku… aku mau minta beras,” jawab Debo ragu. Ozy terlihat mengerutkan keningnya. “Cuma sedikit doang, kok. Please, Zy, buat buka puasa doang kok.”
 “Oke,” kata Ozy tanpa berpikir panjang dan langsung melesat menuju kearah dapur. Debo segera tersenyum. Ternyata di dunia ini masih ada orang baik.
 Di dapur, Ozy segera mencari sesuatu untuk meletakkan beras. Akhirnya, Ozy menemukan sebuah karung dan meletakkan beras itu ke dalamnya. Ozy mengisinya sampai setengah dari karung itu.
 Setelah merasa pas, Ozy segera membawa karung itu keluar dengan susah payah. Rupanya karung itu cukup terasa berat bagi Ozy. Mau tak mau Ozy jadi menyeretnya, bukan menentengnya.
 “Ya, ampun, Ozy, makasih banget ya,” kata Debo sambil membantu Ozy mengangkat karung beras itu. “Tapi, apa ini nggak kebanyakan?”
 Ozy menggeleng. Nafasnya sudah ngo-ngosan parah. Tapi anehnya, Debo mampu mengangkat karung beras itu dengan gampang. Seakan-akan karung beras itu tidak ada beratnya sama sekali. Padahal, dilihat dari kondisinya, tubuh Debo sudah sangat kelelahan. Apalagi bulan puasa itu mataharinya terik banget. Jemuran mungkin bisa aja gosong seketika.
 “Ozy, makasih banget, ya. Kebaikanmu nggak akan pernah aku lupain,” kata Debo yang beranjak pergi. Tapi, tangan Ozy mencegahnya. Debo menatapnya heran. “Kenapa, Zy?”
 “Ehm… aku boleh nggak ke rumah kamu?” tanya Ozy dengan raut wajah penuh harap.
 “Lah? Kok? Tumben,” kata Debo bingung.
 “Semuanya lagi pada tidur, De. Aku bosen sendirian di rumah,” jawab Ozy dengan nada memelas.
 Debo menggaruk kepalanya. Dari ekspresinya terlihat sangat ragu. Sementara Ozy, terus memaksanya dengan tatapan kucing menggemaskan. Debo menghela nafasnya berat.
 “Oke deh. Tapi, sekarang jam berapa?” tanya Debo. Ozy segera bersorak senang.
 Dengan mata memicing, Ozy melihat jam dinding yang berada cukup jauh dari tempatnya sekarang. “Jam satu.”
 “Oke, masih aman. Ayo berangkat,” ajak Debo. Ozy pun segera melompat dari jendela setelah sebelumnya menuliskan sebuah surat supaya Bunda Ucie tidak bingung mencarinya.

^0^
 Ozy menatap sekeliling kampung, tempat tinggal Debo dengan tatapan prihatin. Tempat itu bukan seperti kampong, tapi lebih mirip tempat pembuangan sampah. Ya, walau tempat itu tak begitu berbau seperti sampah karena Debo bilang, sampah itu sudah di netralisir oleh penduduk sekitar. Tapi tetap saja mengganggu pemandangan.
 Perjalanan dari panti ke sini juga cukup jauh. Menghabiskan waktu nyaris satu jam. Ozy tak habis pikir dengan kekuatan Debo. Puasa-puasa begini ia masih kuat mengangkat karung beras itu sambil melakukan perjalanan yang cukup jauh. Ozy yang tidak membawa apa-apa aja udah mau pingsan rasanya.
 “De, rumah kamu dimana sih? Kok nggak nyampe-nyampe?” tanya Ozy yang kepalanya sudah mulai pusing. Diakibatkan karena terlalu lama terkena sinar matahari.
 Debo menghentikan langkahnya. Wajah Ozy sudah memucat, Debo jadi nggak tega.
 “Mau istirahat dulu?” tawar Debo.
 Ozy tak menjawab. Ia sibuk menarik nafas, mengeluarkannya, dan begitu seterusnya. Ozy tak mau kelihatan lemah. Masa ia kalah sama Debo yang tenaganya sedari tadi seakan-akan nggak pernah habis.
 “Aku nggak apa-apa, kok,” jawab Ozy yang tak terlihat meyakinkan. “Lagian aku Cuma nanya, rumah kamu masih jauh apa enggak.”
 Debo mengangguk mengerti. “Kalo di bilang udah deket, ya enggak juga. Kalo di bilang masih jauh, juga enggak.”
 Ozy terkulai lemas. “Yah… cari tempat buat istirahat, deh. Udah nggak kuat. Daripada nanti batal.”
 Debo terkekeh. Lucu melihat tampang Ozy yang udah kayak orang sekarat. Debo pun melihat ke kanan dan kiri, mencari tempat yang tepat buat ngadem sekalian istirahat. Sebenarnya, Debo berpikir untuk singgah di pohon besar. Tapi, di kampungnya ini, mana ada pohon. Tumbuhan kecil aja langsung mati kalau ditanam di sini.
 “Kita istirahat di situ aja,” ajak Debo sambil menunjuk sebuah mobil bak di dekat bak sampah besar.
 Ozy segera melihat arah yang di tunjuk Debo. Ozy menelan ludahnya tak percaya. Istirahat di dekat bak sampah adalah pengalaman pertamanya dan mungkin akan ‘mengesankan’. Tapi, daripada tak ada tempat istirahat, mau tidak mau, suka tidak suka… ya sudahlah.
 “Huaaaaaaaaaa!” tangis seorang anak yang sepertinya sudah berada di sana sejak tadi.
 Ozy segera mendekati anak yang kayaknya berusia sekitar 4 tahunan. Ozy pun berlutut, berusaha menyamai tingginya dengan anak itu.
 “Adek kecil, kok nangis?” tanya Ozy sambil membelai lembut rambut anak itu.
 “Mama… mama… aku… pelgi,” kata anak itu cadel dibonusi dengan suara seraknya.
 Ozy menatap sekeliling. Banyak orang berseliweran di sekitar situ, tapi tak ada seorangpun yang mempedulikan anak kecil itu. Ada apa sebenarnya dengan pikiran orang-orang ini? Debo juga terlihat cuek, dia malah sedang sibuk merapikan mobil bak yang akan mereka tempati supaya lebih nyaman untuk diduduki.
 Ozy menatap mereka bingung. Anak itu kembali menangis, membuat pemikiran Ozy buyar seketika. Ozy kembali menatap anak itu.
 “Emang tadi ibu kamu ke mana?” tanya Ozy lagi. Anak itu menggeleng, tanda tidak tahu. “Ibu kamu nggak bilang mau ke mana?”
 “Zy!” panggil Debo membuat Ozy menatapnya sebal. “Ini udah bersih tempatnya. Jadi istirahat nggak sih?”
 “Kamu nggak liat aku lagi bantuin nih anak. Kasian tau!” jawab Ozy dengan nada sedikit membentak.
 Debo hanya mengangguk-anggukan kepalanya dan malah bersantai di atas mobil bak itu. Ozy hanya geleng-geleng kepala melihat sahabat barunya itu.
 Ozy ingin kembali berbicara dengan anak itu, tapi anak itu sudah menghilang. Ozy panik mencarinya. Tiba-tiba, pandangan Ozy tertumbuk pada seorang ibu yang sedang menggendong anaknya, dan anak itu adalah anak yang ditolong Ozy. Ozy tersenyum pada ibu itu yang kebetulan menatapnya, bukannya membalas senyum sebagai ungkapan terimakasih, ibu itu malah melengos dan pergi.
 “Sabar, sabar,” gumam Ozy sambil mengelus-elus dadanya.
 Ozy segera menyusul Debo menuju mobil bak. Kakinya juga mulai terasa pegal lagi. Ozy pun menyelonjorkan kakinya sambil sedikit memijat-mijatnya.
 “De, kamu kok tadi nggak nolongin anak itu? Kasian tahu. Ini tuh bulan puasa. Bulan yang penuh kebaikan,” terang Ozy sambil menatap Debo yang sedang kipas-kipas.
 “Di kampung ini nggak usak sok-sok berbuat kebaikan. Kita buat kebaikan, malah dianggep negative sama orang lain,” jawab Debo membuat Ozy mengerutkan keningnya.
 “Maksudnya?” tanya Ozy dengan wajah tak mengerti.
 Debo menghela nafasnya. Sebenarnya ia malas menceritakan. “Jadi gini, Zy, di kampung ini tuh nggak ada satu orang pun yang peduli satu sama lain. Bisa di bilang, kamu ya kamu, aku ya aku.”
 “Emangnya kenapa? Emangnya salah kalo kita berbuat baik?” tanya Ozy dengan nada keberatan.
 “Ya, gitulah,” kata Debo sambil menghela nafasnya, lalu menatap Ozy dengan tatapan kosong. “Pemerintah aja nggak pernah peduliin warga di kampung ini, kenapa kita juga harus peduli sama orang lain?”
 Ozy terdiam. Ozy sangat bisa mendengar nada sedih pada kalimat-kalimat yang ditunjukkan Debo padanya.
 Memang, kampung ini sangat tidak terawat. Beberapa tempat bahkan sudah penuh dengan sampah, tapi sampah itu sudah tidak begitu berbau, entah apa yang mereka lakukan pada sampah-sampah itu. Rumah yang mereka tinggali juga tidak lebih besar dari ruang keluarga yang berada di Panti Ozy. Ozy jadi merasa sedikit bersalah menanyakan hal itu pada Debo.
 “Udah belum istirahatnya? Ke rumahku, yuk, buruan! Takut ayahku nanti pulang,” kata Debo dengan nada gelisah sambil turun dari mobil bak itu diikuti Ozy.
 “Emangnya kenapa?” tanya Ozy yang hanya dijawab helaan nafas dari Debo.
 Langkah Debo juga semakin cepat, Ozy pun jadi harus mengikutinya sambil berlari.

^0^
 Ozy menatap rumah Debo dengan mulut menganga. Rumahnya jauh di luar dugaan Ozy. Bahkan, kalau bisa dibilang, rumah Debo jauh lebih buruk dari rumah di sekitarnya. Rumahnya hanya terbuat dari papan yang terlihat sangat rapuh. Ukuran rumahnya pun hanya cukup untuk 3 orang, itupun pas-pasan. Tapi, kalau untuk tidur, satu orang saja kayaknya sudah sesak.
  “De, kamu kalo tidur gimana?” tanya Ozy sambil duduk di atas batu besar yang diselimuti karung yang sepertinya berfungsi sebagai kursi.
 “Ganti-gantian,” jawab Debo sambil sibuk menanak nasi di dapurnya yang Cuma berjarak 10 jengkal.
 “Hah?! Ganti-gantian?” tanya Ozy nggak percaya.
 “Iya,” jawab Debo yang masih sibuk. “Dari jam 9 sampe jam 2 pagi, aku yang tidur di dalem, nah, dari jam 2 sampe seterusnya, barulah ayahku yang tidur di dalem.”
 “Ya ampun,” lirih Ozy sambil kembali menatap sekeliling rumah Debo.
 Ozy tak menyangka, anak sekecil Debo, bisa hidup seperti ini. Ozy saja yang berada di panti yang bahkan sudah di didik mandiri, mungkin tak akan mampu menghadapi hidup yang sama seperti Debo. Terlalu berat.
 Tak berapa lama, ada suara ribut-ribut di luar. Ozy segera memandang kearah pintu, sumber suara keributan itu. Wajah Debo seketika memucat. Dia menghentikan aksi memasaknya, dan segera menghampiri Ozy yang masih asyik menatap pintu rumahnya.
 “Zy, kamu harus cepat pulang!” kata Debo dengan wajah sangat pucat dan ketakutan.
 Ozy mengalihkan pandangannya dari pintu dan kembali menatap Debo. “Loh kenapa?”
 BRAK! Terdengar pintu depan terbuka dengan keras. Ozy dan Debo segera mengalihkan pandangannya ke laki-laki itu. laki-laki itu bertubuh sangat besar dengan luka di beberapa bagian tubuhnya. Tato-tato aneh juga menghiasi tubuhnya yang berotot. Wajahnya juga menyeramkan. Dari ekspresinya, sangat tidak bersahabat.
 “De, itu siapa?” tanya Ozy dengan raut wajah ketakutan.
 Debo hanya diam. Keringat dingin mulai membanjiri seluruh tubuhnya. Sosok itu pasti akan melakukan hal yang tidak-tidak pada Ozy. Ia adalah ayah tiri Debo.
 Ayah Debo pun menatap Debo dan Ozy secara bergantian. Saat matanya menatap Ozy, senyum sinis segera menghiasi wajahnya. Ozy semakin takut. Ada apa sebenarnya? Apa ini yang menyebabkan Debo tak menginginkan ayahnya pulang saat Ozy berada di rumahnya?
 “Siapa anak ini?” tanya ayah Debo masih tersenyum sinis. Debo terdiam. “Apa ini hadiah buat ayah?”
 Debo tetap terdiam. Ozy semakin takut. Tangannya gemetaran. Sementara ayah Debo, lebih tertarik untuk mendekati Ozy. Ozy segera berdiri dan mundur selangkah mendekati Debo. Ozy benar-benar ketakutan. Sementara ayah Debo terus mendekati Ozy sambil menatap Ozy dengan tatapan yang tak bisa ditebak.
 Ozy mundur ke belakang Debo. Tapi, ayah Debo malah menyingkirkan Debo ke sampingnya dengan kasar. Sekarang, ayah Debo dan Ozy sudah saling bertatapan. Ozy tak tahu lagi harus berbuat apa. Ozy sangat ingin menangis.
 Tiba-tiba, tangan Ayah Debo mencengkramnya dengan kuat. Ozy sudah menangis. Sekujur tubuhnya gemetaran. Ozy merasakan firasat yang sangat buruk.
 “Kamu… akan aku jual,” desis Ayah Debo mengerikan.
 Ozy langsung menangis. Air matanya turun berkejaran. Dia terus meronta-ronta, mencoba melepaskan cengraman Ayah Debo dari tangannya. Tapi nihil, tenaganya tidak lebih kuat dari tangan Ayah Debo. Tapi, Ozy tak begitu saja putus asa, ia berteriak minta tolong pada Debo. Tapi, Debo hanya diam, diam, dan tetap diam dengan tatapan yang tak bisa ditebak. Akhirnya, Ozy dibawa oleh Ayah Debo, entah kemana.

^0^
 Ozy menatap sekeliling ruangan itu sambil terisak. Ruangan itu begitu gelap. Lebih mirip ruang isolasi. Ayah Debo tadi membawanya ke tempat ini. Entah maksudnya dijual itu apa, tapi yang jelas, Ozy sudah mulai menyesali kedatangannya ke sini, apalagi Debo yang dipikir adalah sahabat Ozy tak melakukan apa-apa saat Ozy membutuhkannya.
 Segerombolan anak yang tak tahu dari mana asalnya, tiba-tiba masuk ke ruangan itu. Ozy menatap mereka satu persatu. Kalau dilihat dari penampilannya, sepertinya mereka juga anak daerah sini.
 “Kamu Ozy, ya?” tanya seorang gadis berkuncir kuda sambil menatap Ozy ingin tahu.
 Ozy menatap gadis berkulit hitam manis itu sambil mengangguk.
 “Temennya Debo?” tanya gadis itu lagi.
 Ozy segera mengalihkan pandangannya dari gadis itu. Entah mengapa, ia sangat sebal mendengar nama Debo. “Jangan sebut nama dia lagi!”
 Gadis itu menatap Ozy bingung lalu duduk di sebelahnya. “Loh? Emangnya kenapa?”
 Ozy mendengus. “Pasti dia yang ngejebak aku dateng ke sini pas ayahnya pulang supaya aku bisa dijual sama ayahnya yang menyeramkan itu. Dia juga sama sekali nggak ngebela aku pas aku dibawa ayahnya ke sini. Aku benci dia!”
 Gadis itu memandang Ozy prihatin. “Kamu berpendapat kayak gitu karena kamu nggak tahu ayah Debo itu kayak gimana. Debo bisa dibunuh sama ayahnya kalo terang-terangan nolongin kamu.”
 Ozy langsung merinding. Memang, Ozy tahu kalau ayah Debo itu kejam, tapi masa sampai sebegitunya.
 “Oh, ya, kenalin, namaku Agni,” kata gadis itu sambil mengulurkan tangannya pada Ozy. Ozy segera membalasnya. “Aku juga salah satu anak yang diculik sama Ayah Debo. Aku diculik olehnya saat pulang sekolah.”
 “Kamu… juga. Sampai sekarang kamu belum pulang?” tanya Ozy agak shock.
 Wajah Agni berubah murung. Ia merengkuh kakinya dan memendamkan kepalanya di sana. “Aku betah di sini. Aku nggak mau pulang. Walaupun, aku kangen banget sama kedua orang tuaku.”
 “Kenapa?” tanya Ozy sambil mengerutkan keningnya.
 Agni mendongakan kepalanya dan berganti menatap Ozy dengan mata yang sudah basah dengan air mata. Ozy sempat terkejut. Jadi, sejak tadi Agni menangis.
 “Mereka aja nggak tahu kalo aku ilang,” kata Agni dengan agak terisak.
 Ozy membelalakkan matanya. Tak percaya. Debo, Agni, mereka adalah dua orang yang sama. Sama-sama tak dipedulikan oleh orang tua mereka. Ternyata masih ada orang tua sekejam itu di dunia ini. Padahal selama ini Ozy merasa kalau memiliki orang tua adalah hal terbahagia dalam hidup. Tapi tak seperti itulah yang dirasakan oleh Debo dan Agni.
 Tok.. tok… tok. Ozy dan Agni segera menoleh kebelakang. Tempat di mana jendela diketuk. Ozy kembali terkejut. Debo ada di sana dengan wajah sangat pucat.
 Debo mengisyaratkan kepada Agni untuk membantunya membuka jendela itu. Setelah menengok ke kanan dan ke kiri, Agni menyanggupi permintaannya.
 “Zy, ayo kabur!” perintah Debo setelah jendela itu terbuka.
 Ozy mengangguk tanpa perlu pikir panjang. Ozy pun melangkahkan kakinya melewati jendela itu. tapi rupanya, suara gaduh Debo membuat ayahnya datang ke situ dan melihat kejadian itu. Tatapan matanya seram.  Bulu kuduk Ozy merinding. Sementara Debo, malah menarik tangan Ozy menjauh dari sana.
 “Dasar anak sialan! Cepet balikin anak itu!” teriak ayahnya sambil berlari mengikuti Debo dan Ozy.
 Debo dan Ozy tentunya berlari semakin kencang begitu tahu mereka berdua dikejar. Ozy nyaris sesak nafas. Puasa-puasa begini disuruh lari marathon. Tapi kalo nggak begini, Ozy nggak bakalan bisa kembali ke Panti, bertemu teman-teman dan Bunda Uchie. Ozy nggak mau hal itu terjadi.
 Ozy sempat berharap supaya warga di sekitar situ menolong mereka. Tapi percuma, mereka terlalu cuek, tak peduli, masa bodoh. Mereka tetap saja sibuk melakukan aktivitasnya. Ozy panik, bingung, sedih, semua bercampur aduk menjadi satu.
 Ozy menengok ke belakang. Ayah Debo semakin dekat. Bahkan sekarang, sudah ada pistol di tangannya, yang siap menembaknya kapan saja. Tiba-tiba, Debo menarik tangan Ozy, membuat Ozy menatap ke arahnya.
 “Jangan nengok ke belakang mulu! Kamu bisa kesandung!” perintah Debo yang keringatnya sudah bercucuan ke mana-mana.
 “Tapi… tapi… ayah.. ayah kamu bawa pistol,” jawab Ozy dengan tergagap.
 “Dia emang selalu bawa pistol ke mana-mana! Makanya, tadi aku nggak berani nolongin kamu. Nyawaku bisa melayang sebelum nyelametin kamu!”
 Mulut Ozy segera terkunci. Ayah Debo memang menyeramkan. Sangat menyeramkan. Bagaimana bisa, Debo yang berhati selembut kapas, tinggal bersama monster sekejam beliau?
 “Heh! Anak sialan, cepetan berhenti!” ayah Debo pun meng-kokang pistolnya sambil membidik tepat ke arah Debo.
 DOR! Peluru di tembakkan.
 Peluru itu mendarat nyaris mendekati kaki Debo. Debo menghela nafas lega. Sangat lega. Pasalnya, Ayah Debo amat sangat jarang meleset dalam hal menembak.
 “Sialan!” umpat ayahnya sambil kembali meng-kokang pistolnya. Menunggu saat yang tepat untuk menembak.
 Ozy merasa kakinya sudah hampir putus. Sangat melelahkan. Kecepatan larinya pun berkurang menyebabkan jarak mereka dengan ayah Debo sudah semakin dekat.
 “De, belum sampe juga ya?” tanya Ozy dengan nafas yang sudah nggak karuan.
 “Masih lumayan jauh,” jawab Debo yang masih terlihat kuat. “Mendingan kamu nggak usah ngomong dulu. Kasihan nafasmu.”
 Ozy mengangguk dan kembali menoleh ke belakang. Terlihat ayah Debo sedang berdiri, diam. Berkonsentrasi untuk membidik. Ozy sangat ketakutan. Walau jarak mereka cukup jauh, tapi Ozy takut, kalo tembakan ayah Debo mengenai dirinya.
 Ayah Debo kembali melepaskan tembakan itu. terdengar cukup keras, dan DOR! Ozy memejamkan matanya. Dia selamat. Tapi, Debo terduduk. Memegangi lehernya yang sekarang sudah bersimbah darah. Ozy mendekati Debo. Mencoba menahan darah Debo supaya tidak keluar lebih banyak lagi.
 “La… ri,” rintih Debo yang darahnya sudah mulai membanjir. Bibirnya memutih. Rupanya, peluru tadi tepat mengenai urat nadi di lehernya. Mustahil di selamatkan. “Ayah… ku.. su… su… su… sudah… dekat.”
 Ozy menggeleng. Air mata mulai membanjiri wajahnya, seperti darah Debo yang sudah membanjir di tanah, tapi hebatnya, tak ada satu orangpun di sana yang mau menolong.
 “Aku.. aku nggak bisa… ninggalin kamu… dalam keadaan… keadaan kayak gini,” isak Ozy membuat Debo tersenyum. Ozy masih mencoba menghentikan pendarahan Debo dengan melepas bajunya dan menekannya di leher Debo.
 “Zy… kamu… kamu… mau nyia-nyiain perjuangan aku?” tanya Debo dengan sisa tenaganya. Ozy segera menggeleng cepat. “Makanya itu… sekarang… sekarang kamu lari. Sebelum… ayah… ayahku… mendekat. Aku udah sekarat begini, masa… masa… kamu masih tega juga. Percuma dong aku mengorbankan nyawa… kalo… kalo… akhirnya… kamu nggak selamat.”
 Ozy masih ragu. Ozy tak ingin meninggalkan Debo dalam keadaan seperti ini, tapi ia juga tak ingin mengecewakan Debo. Sementara ayah Debo sudah semakin dekat. Debo makin panik. Ia pun melepaskan tangan Ozy dan mendorongnya dengan tenaganya yang sudah sangat melemah.
 “Kalo kamu nggak pergi sekarang, kamu bukan SAHABAT aku!” bentak Debo lemah.
 Mau tak mau, Ozy akhirnya berdiri begitu melihat mata Debo perlahan-lahan mulai terpejam disertai senyumannya. Ozy menutup wajah Debo dengan kausnya lalu berlari kembali sambil menangis. Ia harus keluar dari sini sesegera mungkin.
 “Heh! Anak kurang ajar! Kamu juga mau aku matiin kayak tuh bocah?! Hah?!” bentak ayah Debo sambil meng-kokang kembali pistolnya. Tapi, rupanya tembakan kearah Debo tadi adalah peluru terakhir miliknya.
 Ozy sudah berlari ke luar dari kampung neraka tadi. Kampung yang benar-benar nggak punya hati sama sekali. Kecuali Debo tentunya. Debo, seorang anak yang memiliki hati sebening air pegunungan. Yang rela mengorbankan nyawanya, hanya demi Ozy. Seorang sahabat yang baru dikenalnya. Sangat baru.
 Ozy berlari sambil menangis histeris. Seorang gadis remaja yang melihat Ozy menjadi prihatin. Apalagi, Ozy hanya mengenakan kaus dalam dan celana pendeknya. Wajahnya pucat dan air mata membasahi pipinya. Keringat pun bercucuran membasahi seluruh tubuhnya. Kondisi Ozy saat itu sangat memprihatinkan.
 “Dek, adek kenapa?” tanya orang itu khawatir sambil menghentikan laju lari Ozy serta memegang kedua bahunya, berusaha menenangkan.
 Tangisan Ozy melemah. Kepalanya pusing, matanya juga sudah berkunang-kunang. Rasa lelah menyelimuti tubuh Ozy seketika. Ozy jatuh terduduk. Untung saja orang itu berhasil menahan tubuh Ozy supaya tidak membentur tanah dengan keras.
 Ozy menunjuk ke suatu arah dengan lemas. “Dia… dia… pembunuh.”
 Tiba-tiba semuanya terasa gelap.

^0^
 Ozy membuka matanya. Aroma jeruk yang sudah sangat ia kenal muai memasuki hidungnya. Cahaya terang perlahan-lahan mulai memasuki lensa matanya. Ozy tersadar setelah pingsan entah berapa lama. Ozy merasakan seluruh tubuhnya sakit. Mungkin karena habis berlari-lari di tengah-tengah panasnya matahari.
 “Bunda! Ozy udah sadar!” teriak Oik yang sejak tadi menungguinya sampai tersadar.
 Semua penghuni panti pun tergopoh-gopoh menghampiri mereka. Rupanya, Ozy sudah berada dipanti. Mungkin orang itu yang membawanya ke sini.
 “Ozy! Ozy, kamu nggak apa-apa kan sayang?!” tanya Bunda Ucie panik sambil memberikan segelas teh pada Ozy dibantu Oik.
 Ozy meneguk teh manis hangatnya lalu meletakannya di atas meja. Ozy menghela nafasnya, lega. Merasa bahwa hari-hari beratnya telah terlampaui dengan baik. Tapi, Ozy juga merasakan kehilangan, kehilangan sosok lelaki di balik jendela itu.
“Tadi, katanya kamu dikejar-kejar sama penjahat, emangnya kamu ngapain, Zy?” tanya Cakka membuyarkan lamunan Ozy.
 Ozy menggeleng. Tak mau menceritakan apapun. Ia takut kalau akhirnya menangis. Mengenang Debo kembali sama saja dengan mengenang kisah pahit. Apalagi, Debo pergi karena salahnya. Mata Ozy kembali berkaca-kaca.
 “Ozy mungkin mau istirahat,” kata Bunda Ucie lembut sambil membelai kepala Ozy. “Ayo, semuanya, kita keluar dulu.”
 Anak-anak panti itupun menatap Bunda Ucie kecewa. Mereka masih penasaran atas kejadian yang menimpa Ozy.
 Pintu kamar tertutup. Ozy kembali merenung. Ia ingin melakukan sesuatu untuk membalas kebaikan Debo. Ozy berpikir. Tak berapa lama, seulas senyum pun terpancar di bibirnya. Ozy tahu akan melakukan apa. Mungkin, hal ini tak sebanding dengan apa yang dilakukan Debo. Tapi, Ozy berharap sesuatu ini akan berguna.

^0^
 Bulan Ramadhan, adalah bulan yang penuh berkah. Bulan berbagi keceriaan, kebaikan, ketulusan, serta senyuman kepada orang-orang. Itulah yang akan Ozy serta kawan-kawan Panti lakukan hari ini.
 Ozy berencana untuk membawa teman-teman pantinya ke Kampung Duloh, Kampung kumuh tempat tinggal Debo. Kampung itu tak pernah mengenal kebaikan, jadi Ozy akan mengenalkannya. Sekaligus membalas jasa atas kebaikan Debo yang tak terhingga.
 Ozy kembali merasa bersalah karena ia tak tahu di mana Debo dimakamkan. Ia khawatir kalau Debo dimakamkan secara tidak layak. Ozy mendekati jendela, membayangkan Debo ada di sana sedang berbuka puasa. Ozy rindu sosok itu.
 “De, aku kangen banget sama kamu,” gumam Ozy sambil menatap ke langit. “Makasih ya buat semuanya. Kamu udah membuat aku merasa bahwa aku orang paling beruntung sesudah kamu. Pokoknya, aku akan terus menjaga persahabatan kita sampai aku jadi kakek-kakek nanti. Dan kalau aku udah selesai jadi kakek-kakek, berarti kan aku udah nggak ada, kita bisa main di surga sama-sama kalo aku di kasih kesempatan sama Allah untuk berada di sana. Sekali lagi makasih ya, Debo, sahabat terbaikku.”
 Ozy menengadahkan tangannya, berdoa untuk kebahagiaan Debo dan semoga Debo berada di tempat yang seharusnya.
 Seseorang menepuk bahu Ozy. Ozy pun tersentak dan menoleh ke belakang. Ternyata Sivia yang mengagetkannya.
 “Zy, barang-barang yang mau dibagiin udah siap. Kapan mau berangkat? Tinggal nunggu kamu doang. Lagian Cuma kamu yang tau tempatnya,” cecar Sivia membuat Ozy harus menjauhkan sedikit tubuhnya karena suara Sivia yang amat memekakan telinga.
 “Iya, ini juga mau berangkat,” kata Ozy sambil berjalan mengikuti Sivia kearah mobil bak yang sudah dipenuhi barang-barang.
 “Tarik, Mang!” teriak Lintar membuat semua yang berada di mobil itu tertawa.
 Ozy tak sabar melihat reaksi warga kampung melihat kehadiran mereka. Melihat, bahwa masih ada yang peduli terhadap kehidupan mereka. Bukan orang-orang besar yang sok cari perhatian, tapi orang-orang sederhana yang ingin membagi sedikit keberuntungan mereka.
  

up