31 Jan 2013

Kamu

Hei kamu. Iya kamu yang lagi aku tulis di blog tersayang ini
Kamu apa kabar? Baik-baik aja kan? 
Hei kamu! Kamu tahu nggak kalo aku kangen sama kamu? Kangen banget! Padahal baru beberapa hari kita ga ketemu :')
Ya, mungkin hati kamu sudah dengan yang lain, tapi hati aku masih tetep aja di kamu

Aku sendiri nggak ngerti kenapa. Tapi mungkin karena kamu terlalu special di hati ini sampai-sampai nggak ada yang bisa gantiin
Padahal banyak kamu, kamu lain yang datang di kehidupan aku. Tapi tetep aja aku maunya cuma kamu. Seperti aku bilang tadi... hati aku masih tetap di kamu. Aku terlalu pemilih, karena maunya cuma kamu 

Hei, kamu inget nggak pertama kali kita ketemu? Waktu itu aku cuma iseng-iseng aja suka sama kamu.  Sebagai motivasi. Kamu terlihat paling biasa saat itu. Tidak macam-macam. Tapi justru itu yang membuat kamu menarik. Kamu ramah, kamu baik, kamu pintar, dan itu yang membuat aku semakin suka kamu.
Tanpa sadar, aku semakin tertarik padamu. Tertarik pada sorot matamu yang teduh hingga menentramkan hati. Terpesona pada beratnya suaramu saat bicara padaku. Aku... semakin menyukaimu.
Seiring berjalannya waktu, rasa itu timbul tenggelam. Kadang rasa itu bertambah, tetapi kadang rasa itu hilang begitu saja. Apalagi setelah aku tahu sesuatu. Aku jadi semakin ingin menghilangkan rasaku padamu. Tapi sulit. Dan aku memutuskan untuk menyukaimu... hanya dari jauh. Tanpa kau ketahui. Dan tanpa sadar, aku menikmatinya. Rasanya menyenangkan bisa selalu dekat denganmu. Tanpa  kau tahu perasaan ini sebenarnya. Hingga aku merasa lebih leluasa saat bercanda denganmu

Tapi, semuanya berbeda. Ya... saat kau mulai memberiku harapan. Harapan palsu tepatnya. Ya, mungkin aku berlebihan, tapi aku memang merasa kau memberiku harapan. Sikapmu mulai berubah terhadapku. Kau mulai mengirimkan pesan-pesan singkat yang aneh. Dan aku merasa kau juga menyukaiku. Aku semakin yakin ketika temanmu memberi sinyal-sinyal padaku. Saat itu akupun mulai berharap.
Tapi, harapan itu musnah ketika kau tidak lagi mengirimkan pesan-pesan singkat padaku. Saat aku juga merasa canggung jika berhadapan denganmu. Apalagi saat terakhir kali kita bertemu, kita bahkan seperti orang tidak kenal. Dan sepertinya kau pun mulai tahu aku menyukaimu. Aku benci hal itu. Hal yang membuat semuanya berbeda. Berubah.

Dan secara sadar, aku merindukan kita yang dulu. Kamu yang dulu. Kamu yang hanya dapat kutatap dari jauh. Kamu yang bisa bercanda tawa denganku dengan santai tanpa takut melukai perasaan masing-masing. Kamu yang tidak tahu bahwa aku SANGAT menyukaimu. Kamu yang kusukai secara diam-diam. Yah... aku merindukan itu.

Entah apa yang akan terjadi bila kita bertemu suatu hari nanti. Aku berharap semoga kita akan baik-baik saja. Kamu akan melupakan perasaanku padamu, begitu pula aku yang akan melupakan perasaanmu padaku. Sekarang aku  menyadari, bahwa aku tak pantas berharap lebih padamu. Aku hanya bisa berharap kita bisa menjadi teman. Bahkan sahabat. Hanya itu. Tidak lebih dan tidak kurang.   :-)


Tertanda
Aku yAng merindukAnmu :)



21 Jan 2013

Review - Oppa & I "Love Missions"





Sinopsis :

Jae In 
Oppa.

Cinta itu sebenarnya apa?
Kenapa ia tidak bisa membuat orang-orang tetap tinggal?
Katakan padaku, aku harus bagaimana?

Jae Kwon
Jae In-a.

Tak usah cemas, ada Oppa di sampingmu kan?
Kita akan melalui semuanya bersama,
Kau hanya harus percaya pada Oppa!



Review :

Kembar Park-Park Jae In dan Park Jae Kwon, memiliki masalah cinta yang komplikasi. Cinta terhadap keluarga maupun cinta terhadap sesamanya.

Hati yang gembira adalah obat yang bisa menambal hati yang retak

Jae Kwon merasa hatinya retak saat melihat Hye Rin jelas-jelas menolak cintanya. Jae Kwon seperti tak punya semangat hidup. Hye Rin yang sangat dicintainya. Kakak kelas yang selalu memenuhi mimpinya. Jae Kwon tak percaya tentang penolakan itu. Jadi ia tetap bersikeras, meyakinkan dirinya sendiri, bahwa Hye Rin tidak menolaknya. Hingga akhirnya Jae Kwon terus hidup dalam bayang-bayang Hye Rin.

Cinta. Apa sih yang membuat semua orang sepertinya mabuk oleh satu kata itu?

Jae-In masih tidak percaya kalau akhirnya dia berhasil terhipnotis oleh kata itu. Cinta. Sosok Seung Won justru membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Bersama Seung Won, Jae-In segera melupakan masalahnya. Tapi sosok Seung-Won yang sekarang, membuat Jae-In ragu. Seung-Won yang telah berubah menjadi seorang yang tidak diinginkannya-artis. Yang bisa kapanpun berakting di depannya. Yang bisa kapanpun menipu dirinya.

Selain itu, masalah mereka harus ditambah dengan perginya ayah mereka dan ibunya yang selalu menangis setiap kali si kembar menyebut nama ayahnya. Mereka mulai mengalami krisis kepercayaan. Apalagi Jae-In. Jae-In merasa tidak ada orang lagi yang bisa dipercaya. Jae-In merasa semua orang berakting di depannya. Berpura-pura tegar di depannya. Jae-In juga tidak percaya arti persahabatan, sampai ia bertemu dengan Ha-Neul dan Sa-Ra. Bersama keduanya, akhirnya Jae-In menyadari arti persahabatan yang sesungguhnya.

Begitu juga dengan Jae-Kwon. Dengan bantuan teman-temannya, akhirnya ia bisa menemukan cinta sejatinya. Di tambah dengan ayahnya yang akhirnya kembali bersama alasan-alasan yang ditutupinya selama ini dari keluarganya. Love Missions kembar Park berakhir bahagia.

Akhirnya aku menemukan mantra, yang bisa membuat siapapun bahagia

^0^

Novel ini secara garis besar menarik banget. Menggambarkan segi cinta dari manapun. Baik keluarga, sahabat, cinta monyet, pokoknya semuanya campur aduk deh. Tiap bagiannya juga selalu aja bikin penasaran. Pokoknya ga kalah deh sama Oppa & I yang pertama! Yang ini malah lebih keren!

Selain itu, banyak quote-quote menarik yang bisa di ambil dari novel ini. Pokoknya full amanat deh. Kak Ori sama Kak Lia emang keren banget deh. TE O PE BE GE TE!

Terus aku denger-denger juga Oppa & I ini ada seri ketiganya. Pantesan aja agak-agak gantung di ceritanya yang kedua ini. Ya mudah-mudahan aja cepet-cepet diterbitin biar memuaskan rasa penasaran pembacanya hehehehe...
Untuk yang belum punya bukunya, ayoo cepet dibeli sebelum keabisan! Nyesel loh ga beli bukunya :D



21 Nov 2012

Dia(m)enyakitkan

Diam memang selalu menyakitkan.. Ketika aku harus menyayangimu dalam diam, mengagumimu dalam diam, dan merindukanmu dalam diam.. Ketika aku harus menyimpan semuanya sendirian karena kediamanku..

Tapi yang lebih menyakitkan dari itu semua, ketika aku harus berpura-pura mendukung dia yang menyukaimu. Ketika aku harus diam untuk menahan cemburu saat dia bercerita tentangmu. Saat yang lain mendukung dia untuk mendekatimu. Kuakui, itu sangat menyakitkan..

Sekarang, aku juga harus lebih berhati-hati dalam menatapmu. Aku tak bisa lagi menatap punggungmu dengan leluasa. Aku juga tak bisa lagi menatap matamu yang begitu mempesona. Mendengar suaramu yang selalu membuat jantungku berdesir. Aku juga harus menjaga jarak denganmu saat kau berada di tengah-tengah kita. Aku menjauh karena merasa tidak enak. Takut yang lain tahu akan perasaanku yang sebenarnya. Aku takut perasaan ini semakin besar. Aku takut keegoisan ini muncul. Membiarkan hatiku menguasai tubuhku dan merebutmu darinya. Memutuskan pertemanan yang telah aku jalani bersama dia.

Aku memang munafik. Tapi inilah aku. Mungkin aku mengalah, tapi aku tidak kalah. Mungkin, jika suatu saat nanti kau dekat dengan dia, aku juga akhirnya bisa ikut dekat denganmu. Bisa berbicara denganmu lebih sering, bisa menatap matamu setiap waktu, dan bisa melihat kau secara lebih dekat. Mungkin aku sedikit cemburu, tapi rasa senangku justru lebih besar. Karena dekat denganmu menjadi salah satu impianku. Dan yang kuinginkan adalah kamu mau menatapku paling tidak 1 kali saja seperti yang kau lakukan selama ini. Karena itu adalah salah satu momen terbahagiaku :a)

Mencintaimu dalam diam cukup menyenangkan. Mengalahkan keegoisan juga membuatku menjadi lebih dewasa. Ketika memendam rasa ini sendirian memang cukup menyakitkan, tapi aku tidak sepenuhnya sendirian. Karena Tuhan selalu bersamaku :-)


up