24 Sep 2010

Lelaki di Balik Jendela

 Lintar, Ozy, Cakka, Sivia, Shilla, dan Oik, menatap tudung saji di depannya dengan tatapan ingin tahu. Bahkan, perut mereka sudah berbunyi riuh sejak tadi. Bocah-bocah berusia 9 tahun itu tak sabar menunggu waktunya berbuka puasa. Bagi anak seumuran mereka, puasa full merupakan hal yang memberatkan. 1 menit saja terasa seperti 1 jam.
 “Eh, jangan ngeliatin sampe segitunya, dong. Nanti batal puasanya,” tegur Bunda Ucie yang tengah menyiapkan kolak.
 “Biarin aja,” kata Ozy yang sudah tak bisa menahan rasa laparnya.
 “Eh, Ozy, nggak boleh gitu. Nanti Allah marah sama Ozy. Ntar pahalanya Ozy berkurang, loh,” kata Bunda Ucie. Ozy pun jadi khawatir.
 “Eh, iya iya. Maafin Ozy ya Allah,” kata Ozy sambil menengadahkan tangannya dan menatap ke atas.
 Bunda Uchi pun tersenyum.
 Tak berapa lama, bedug Maghrib pun terdengar. Semua anak pun langsung berteriak senang. Dengan tak sabar, Shilla membuka tudung saji di depannya dan menatap beberapa makanan lezat yang tersaji di depannya. Ada ayam goreng, sayur asem, ikan bakar, dan buah-buahan yang terlihat sangat segar.
 Lintar yang sudah mengeluarkan air liurnya pun dengan sigap mengambil ayam goreng di depannya dan berniat untuk memakannya.
 “Heh! Berdoa dulu!” tegur Bunda Ucie membuat Lintar meletakkan ayam gorengnya kembali ke piring dengan wajah kecewa.
 Bunda Ucie meletakkan kolak di atas meja makan dan bergabung bersama anak-anak panti kesayangannya itu. Harapan Ayah adalah sebuah panti kecil-kecilan yang dibangun Ucie bersama kawan-kawannya dulu. Namun, kawan-kawannya hanya senang membuatnya, namun tak senang merawat. Untuk itu, hanya Ucie lah yang merawat anak-anak ini dengan sepenuh hati. Dan panti ini dikelolanya sendirian.
 Selesai berdoa bersama, anak-anak ini pun segera sibuk memakan makanan mereka. Lapar yang sejak tadi menghujam mereka, akhirnya termusnahkan sudah.
 Ozy menatap ke arah jendela depan dengan serius. Dan seperti yang Ozy duga, sosok yang Ozy tunggu akhirnya datang juga. Sesosok lelaki yang seumuran dengannya yang kembali datang setiap buka puasa tiba. Laki-laki yang sama sekali tak Ozy kenal. Tapi, lelaki itu selalu datang ke panti ini dan duduk di sana.
 “Ozy, kok bengong, makananya dimakan dong,” tegur Bunda Ucie membuat Ozy segera memakan makananya dan menatap laki-laki di jendela tanpa tahu apa yang sebenarnya ia lakukan.

^0^
  Sudah seminggu berturut-turut bocah laki-laki itu selalu muncul di balik jendelanya. Rutin selama bulan puasa ini. Ozy juga jadi penasaran. Ia berniat berkenalan dengan laki-laki itu dan menanyakan perihal kedatangannya ke pantinya.
 “Ozy makannya pelan-pelan aja, dong,” kata Oik yang merasa risih melihat Ozy makannya jadi berantakan kemana-mana karena terburu-buru.
 “Biarin aja,” jawab Ozy dengan mulut penuh dengan nasi. Oik semakin sebal melihatnya. “Bunda, udah habis! Ozy keluar dulu!”
 “Tapi, masih ada kolak, kamu nggak mau?” tawar Bunda Ucie bingung melihat Ozy yang tergesa-gesa.
 “Enggak!” teriak Ozy sambil berlari keluar dan menutup pintu. Bunda Ucie hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Ozy yang mendadak aneh.

^0^
 Ozy mengintip dari balik tembok. Seorang laki-laki yang misterius tengah menikmati makanannya. Laki-laki itu memang terlihat agak kumel. Bajunya sudah sobek-sobek dan kotor. Kulitnya pun tak bersih. Sepertinya, ia anak jalanan yang sering Ozy liat di pinggir jalanan.
 Anak itu segera membereskan makananya. Sepertinya, ia sudah selesai makan. Ozy terus mengintip laki-laki yang sekarang sedang asyik minum itu tanpa bermaksud mendekatinya.
 “Udah, nggak usah ngintip-ngintip. Aku udah tau kok,” katanya setelah meminum air mineral yang segera habis di tangannya.
 Ozy tersentak. Jadi, selama ini anak itu tau kalo Ozy mengintipnya? Padahal anak itu sama sekali tak melirik kearahnya. Matanya tetap  tertuju pada makanan di depannya. Tapi dia bisa mengetahui keberadaan Ozy.
 “Nggak usah heran, deh kenapa aku bisa tau,” katanya lagi membuat Ozy mengerutkan keningnya, heran. Anak ini ternyata bisa membaca pikirannya.
 Merasa sudah kepalang basah, Ozy pun segera keluar dari persembunyiannya dan menatap anak di depannya yang sudah beranjak bangun dari posisi duduknya. Anak itu menatap Ozy lembut, kemudian tersenyum. Ozy pun membalas senyum itu dengan agak ragu.
 “Kenapa kamu ngintipin aku?” tanya anak itu langsung, tanpa basa-basi.
 Ozy memainkan kakinya sambil menunduk ke bawah. Pertanyaan anak di depannya tadi membuat nyali Ozy ciut seketika. Anak itu memang terlihat ramah, tapi dari nada suaranya terdengar datar, juga dingin.
 “Aku Cuma penasaran, selama seminggu ini, kamu sering banget dateng ke sini,” jawab Ozy sambil memberanikan menatap anak itu  yang masih tersenyum.
 “Ooh.. Cuma karena itu?” tanya anak itu membuat Ozy mengangguk. Anak itu pun mengangguk-anggukan kepalanya. “Aku dateng ke sini karena aku Cuma mau buka puasa aja kok. Aku sama sekali nggak berniat jahat.”
 Ozy menatap anak itu bingung. “Kok buka puasanya sampe ke sini? Emang di rumahmu kenapa?”
 Anak itu malah menghela nafasnya dan kembali duduk di tempatnya semula. Ozy pun mendekatinya dan duduk di sebelahnya.
 “Ngomong-ngomong.. kita belum kenalan, nih,” kata anak itu sambil mengulurkan tangannya. “Debo. Kamu?”
 Ozy pun membalas uluran tangan itu seraya tersenyum. “Ozy.”
 Mereka berdua pun melepaskan tangannya. Ozy menatap Debo lekat-lekat, masih menunggu jawaban. Sementara Debo, sibuk memandang bintang di langit karena memang hari sudah menunjukkan bahwa malam sudah tiba.
 “Kenapa kamu pengen tahu?” tanya Debo masih tak mengalihkan pandangannya dari bintang-bintang.
 “Emangnya nggak boleh, ya?” tanya Ozy balik membuat Debo terkekeh. “Kalo nggak mau jawab juga nggak apa-apa, kok. Walau sebenernya aku pengen banget tahu.”
 Debo menatap Ozy jahil. “Kasih tau nggak ya? Hem~ nggak usah deh. Hahahahaha.”
 Ozy manyun lalu mengalihkan pandangannya dari Debo. Ternyata bocah seumurannya ini jahil juga.
 “Hehehe. Bercanda, kok,” kata Debo membuat Ozy sekarang menatapnya ingin tahu. “Ya, aku pengen aja buka puasa di sini. Abisnya kalo di rumah, aku nggak bakalan bisa buka.”
 “Loh, emangnya kenapa?” tanya Ozy lagi, masih penasaran.
 “Karena kalo aku bawa makanan ini ke rumah, pasti makanan ini direbut sama ayah tiri aku. Dan aku nggak bakalan punya makanan buat buka puasa,” terang Debo. Matanya terlihat sedikit berkaca-kaca.
 “Kok, ayah kamu jahat banget,” kata Ozy sambil menatap Debo iba.
 Debo menghela nafasnya berat, lalu menatap Ozy yang juga sedang menatapnya. “Namanya juga ayah tiri. Ayah tiri sama jahatnya dengan ibu tiri yang ada di film Cinderella.”
 Ozy menundukkan kepalanya. Ia merasa beryukur tidak memiliki orang tua yang jahat padanya. Ia hanya punya Bunda Ucie, orang asing yang amat menyayanginya dengan sepenuh hati. Nasibnya jauh lebih beruntung daripada Debo.
 “Ozy!” panggil Bunda Ucie dari depan pintu. “Ayo ke dalem, sayang. Udah malem.”
 “Iya, Bunda!” teriak Ozy yang berada di halaman belakang bersama Debo. “Maaf ya, De, aku harus masuk. Nanti aku diomelin Bunda lagi.”
 Debo mengangguk sambil beranjak dari duduknya diikuti Ozy.
 “Aku juga udah mau pulang. Dadah Ozy,” kata Debo sambil melambaikan tangannya.
 “Tapi, besok kamu ke sini lagi kan?” tanya Ozy dengan wajah penuh harap. Ozy merasa bahwa dirinya dan Debo sudah menjadi sahabat walau hanya untuk sesaat.
 “Pastilah,” jawab Debo sambil mengacungkan jempolnya.
 Ozy tersenyum senang, kemudian ia berpamitan pada Debo dan segera berlari menuju Bunda Ucie yang sudah bertampang khawatir.

^0^
 Sudah beberapa hari ini Ozy dan Debo sering bertemu yang mangakibatkan mereka jadi teman akrab. Tapi, Debo justru lebih banyak diam, Ozy yang lebih sering bercerita tentang kehidupan pribadinya. Sementara Debo jadi pendengar setia. Tapi tetap saja tak membuat Ozy bosan berteman dengan Debo.
 “Ozy, nggak tidur?” tanya Lintar yang sudah menguap berkali-kali.
 Ozy melirik jam dinding bergambar kodok yang tepat berada di sampingnya. Jam menunjukkan pukul 1 siang. Memang, siang bolong gini paling enak buat tidur.
 “Nggak, ah. Belom ngantuk,” jawab Ozy yang masih asyik dengan komik Naruto-nya.
 Lintar kembali menguap. Wajahnya sudah lemas. Matanya pun ikutan merah. Sepertinya Lintar terkena syndrome ngantuk stadium 4.
 “Zy, aku tidur, ya. Nggak apa-apa kan sendirian?” tanya Lintar diseling uapannya.
 Ozy mengangguk. Dan akhirnya, dengan langkah gontai, Lintar pun berjalan menuju kamarnya. Sementara Ozy, masih asyik membaca di ruang keluarga sendirian. Karena memang semua penghuni panti udah kena syndrome ngantuk jam-jam segini. Tak ada yang lebih enak untuk menunggu berbuka selain tidur.
 Tak berapa lama, terdengar ketukan pelan dari arah jendela yang tepat berada di belakang Ozy. Ozy segera menghentikan aktifitasnya. Dengan perlahan, Ozy menatap kearah jendela. Ozy tersenyum girang dan segera berlari kearah jendela.
 “Debo, tumben ke sini siang-siang?” tanya Ozy setelah membuka jendela.
 “Zy, aku boleh minta tolong nggak?” tanya Debo dengan keringat yang sudah bercucuran tak tentu arah.
 “Tentu aja boleh. Mau minta tolong apa?” tanya Ozy balik sambil tersenyum ramah.
 “Aku… aku mau minta beras,” jawab Debo ragu. Ozy terlihat mengerutkan keningnya. “Cuma sedikit doang, kok. Please, Zy, buat buka puasa doang kok.”
 “Oke,” kata Ozy tanpa berpikir panjang dan langsung melesat menuju kearah dapur. Debo segera tersenyum. Ternyata di dunia ini masih ada orang baik.
 Di dapur, Ozy segera mencari sesuatu untuk meletakkan beras. Akhirnya, Ozy menemukan sebuah karung dan meletakkan beras itu ke dalamnya. Ozy mengisinya sampai setengah dari karung itu.
 Setelah merasa pas, Ozy segera membawa karung itu keluar dengan susah payah. Rupanya karung itu cukup terasa berat bagi Ozy. Mau tak mau Ozy jadi menyeretnya, bukan menentengnya.
 “Ya, ampun, Ozy, makasih banget ya,” kata Debo sambil membantu Ozy mengangkat karung beras itu. “Tapi, apa ini nggak kebanyakan?”
 Ozy menggeleng. Nafasnya sudah ngo-ngosan parah. Tapi anehnya, Debo mampu mengangkat karung beras itu dengan gampang. Seakan-akan karung beras itu tidak ada beratnya sama sekali. Padahal, dilihat dari kondisinya, tubuh Debo sudah sangat kelelahan. Apalagi bulan puasa itu mataharinya terik banget. Jemuran mungkin bisa aja gosong seketika.
 “Ozy, makasih banget, ya. Kebaikanmu nggak akan pernah aku lupain,” kata Debo yang beranjak pergi. Tapi, tangan Ozy mencegahnya. Debo menatapnya heran. “Kenapa, Zy?”
 “Ehm… aku boleh nggak ke rumah kamu?” tanya Ozy dengan raut wajah penuh harap.
 “Lah? Kok? Tumben,” kata Debo bingung.
 “Semuanya lagi pada tidur, De. Aku bosen sendirian di rumah,” jawab Ozy dengan nada memelas.
 Debo menggaruk kepalanya. Dari ekspresinya terlihat sangat ragu. Sementara Ozy, terus memaksanya dengan tatapan kucing menggemaskan. Debo menghela nafasnya berat.
 “Oke deh. Tapi, sekarang jam berapa?” tanya Debo. Ozy segera bersorak senang.
 Dengan mata memicing, Ozy melihat jam dinding yang berada cukup jauh dari tempatnya sekarang. “Jam satu.”
 “Oke, masih aman. Ayo berangkat,” ajak Debo. Ozy pun segera melompat dari jendela setelah sebelumnya menuliskan sebuah surat supaya Bunda Ucie tidak bingung mencarinya.

^0^
 Ozy menatap sekeliling kampung, tempat tinggal Debo dengan tatapan prihatin. Tempat itu bukan seperti kampong, tapi lebih mirip tempat pembuangan sampah. Ya, walau tempat itu tak begitu berbau seperti sampah karena Debo bilang, sampah itu sudah di netralisir oleh penduduk sekitar. Tapi tetap saja mengganggu pemandangan.
 Perjalanan dari panti ke sini juga cukup jauh. Menghabiskan waktu nyaris satu jam. Ozy tak habis pikir dengan kekuatan Debo. Puasa-puasa begini ia masih kuat mengangkat karung beras itu sambil melakukan perjalanan yang cukup jauh. Ozy yang tidak membawa apa-apa aja udah mau pingsan rasanya.
 “De, rumah kamu dimana sih? Kok nggak nyampe-nyampe?” tanya Ozy yang kepalanya sudah mulai pusing. Diakibatkan karena terlalu lama terkena sinar matahari.
 Debo menghentikan langkahnya. Wajah Ozy sudah memucat, Debo jadi nggak tega.
 “Mau istirahat dulu?” tawar Debo.
 Ozy tak menjawab. Ia sibuk menarik nafas, mengeluarkannya, dan begitu seterusnya. Ozy tak mau kelihatan lemah. Masa ia kalah sama Debo yang tenaganya sedari tadi seakan-akan nggak pernah habis.
 “Aku nggak apa-apa, kok,” jawab Ozy yang tak terlihat meyakinkan. “Lagian aku Cuma nanya, rumah kamu masih jauh apa enggak.”
 Debo mengangguk mengerti. “Kalo di bilang udah deket, ya enggak juga. Kalo di bilang masih jauh, juga enggak.”
 Ozy terkulai lemas. “Yah… cari tempat buat istirahat, deh. Udah nggak kuat. Daripada nanti batal.”
 Debo terkekeh. Lucu melihat tampang Ozy yang udah kayak orang sekarat. Debo pun melihat ke kanan dan kiri, mencari tempat yang tepat buat ngadem sekalian istirahat. Sebenarnya, Debo berpikir untuk singgah di pohon besar. Tapi, di kampungnya ini, mana ada pohon. Tumbuhan kecil aja langsung mati kalau ditanam di sini.
 “Kita istirahat di situ aja,” ajak Debo sambil menunjuk sebuah mobil bak di dekat bak sampah besar.
 Ozy segera melihat arah yang di tunjuk Debo. Ozy menelan ludahnya tak percaya. Istirahat di dekat bak sampah adalah pengalaman pertamanya dan mungkin akan ‘mengesankan’. Tapi, daripada tak ada tempat istirahat, mau tidak mau, suka tidak suka… ya sudahlah.
 “Huaaaaaaaaaa!” tangis seorang anak yang sepertinya sudah berada di sana sejak tadi.
 Ozy segera mendekati anak yang kayaknya berusia sekitar 4 tahunan. Ozy pun berlutut, berusaha menyamai tingginya dengan anak itu.
 “Adek kecil, kok nangis?” tanya Ozy sambil membelai lembut rambut anak itu.
 “Mama… mama… aku… pelgi,” kata anak itu cadel dibonusi dengan suara seraknya.
 Ozy menatap sekeliling. Banyak orang berseliweran di sekitar situ, tapi tak ada seorangpun yang mempedulikan anak kecil itu. Ada apa sebenarnya dengan pikiran orang-orang ini? Debo juga terlihat cuek, dia malah sedang sibuk merapikan mobil bak yang akan mereka tempati supaya lebih nyaman untuk diduduki.
 Ozy menatap mereka bingung. Anak itu kembali menangis, membuat pemikiran Ozy buyar seketika. Ozy kembali menatap anak itu.
 “Emang tadi ibu kamu ke mana?” tanya Ozy lagi. Anak itu menggeleng, tanda tidak tahu. “Ibu kamu nggak bilang mau ke mana?”
 “Zy!” panggil Debo membuat Ozy menatapnya sebal. “Ini udah bersih tempatnya. Jadi istirahat nggak sih?”
 “Kamu nggak liat aku lagi bantuin nih anak. Kasian tau!” jawab Ozy dengan nada sedikit membentak.
 Debo hanya mengangguk-anggukan kepalanya dan malah bersantai di atas mobil bak itu. Ozy hanya geleng-geleng kepala melihat sahabat barunya itu.
 Ozy ingin kembali berbicara dengan anak itu, tapi anak itu sudah menghilang. Ozy panik mencarinya. Tiba-tiba, pandangan Ozy tertumbuk pada seorang ibu yang sedang menggendong anaknya, dan anak itu adalah anak yang ditolong Ozy. Ozy tersenyum pada ibu itu yang kebetulan menatapnya, bukannya membalas senyum sebagai ungkapan terimakasih, ibu itu malah melengos dan pergi.
 “Sabar, sabar,” gumam Ozy sambil mengelus-elus dadanya.
 Ozy segera menyusul Debo menuju mobil bak. Kakinya juga mulai terasa pegal lagi. Ozy pun menyelonjorkan kakinya sambil sedikit memijat-mijatnya.
 “De, kamu kok tadi nggak nolongin anak itu? Kasian tahu. Ini tuh bulan puasa. Bulan yang penuh kebaikan,” terang Ozy sambil menatap Debo yang sedang kipas-kipas.
 “Di kampung ini nggak usak sok-sok berbuat kebaikan. Kita buat kebaikan, malah dianggep negative sama orang lain,” jawab Debo membuat Ozy mengerutkan keningnya.
 “Maksudnya?” tanya Ozy dengan wajah tak mengerti.
 Debo menghela nafasnya. Sebenarnya ia malas menceritakan. “Jadi gini, Zy, di kampung ini tuh nggak ada satu orang pun yang peduli satu sama lain. Bisa di bilang, kamu ya kamu, aku ya aku.”
 “Emangnya kenapa? Emangnya salah kalo kita berbuat baik?” tanya Ozy dengan nada keberatan.
 “Ya, gitulah,” kata Debo sambil menghela nafasnya, lalu menatap Ozy dengan tatapan kosong. “Pemerintah aja nggak pernah peduliin warga di kampung ini, kenapa kita juga harus peduli sama orang lain?”
 Ozy terdiam. Ozy sangat bisa mendengar nada sedih pada kalimat-kalimat yang ditunjukkan Debo padanya.
 Memang, kampung ini sangat tidak terawat. Beberapa tempat bahkan sudah penuh dengan sampah, tapi sampah itu sudah tidak begitu berbau, entah apa yang mereka lakukan pada sampah-sampah itu. Rumah yang mereka tinggali juga tidak lebih besar dari ruang keluarga yang berada di Panti Ozy. Ozy jadi merasa sedikit bersalah menanyakan hal itu pada Debo.
 “Udah belum istirahatnya? Ke rumahku, yuk, buruan! Takut ayahku nanti pulang,” kata Debo dengan nada gelisah sambil turun dari mobil bak itu diikuti Ozy.
 “Emangnya kenapa?” tanya Ozy yang hanya dijawab helaan nafas dari Debo.
 Langkah Debo juga semakin cepat, Ozy pun jadi harus mengikutinya sambil berlari.

^0^
 Ozy menatap rumah Debo dengan mulut menganga. Rumahnya jauh di luar dugaan Ozy. Bahkan, kalau bisa dibilang, rumah Debo jauh lebih buruk dari rumah di sekitarnya. Rumahnya hanya terbuat dari papan yang terlihat sangat rapuh. Ukuran rumahnya pun hanya cukup untuk 3 orang, itupun pas-pasan. Tapi, kalau untuk tidur, satu orang saja kayaknya sudah sesak.
  “De, kamu kalo tidur gimana?” tanya Ozy sambil duduk di atas batu besar yang diselimuti karung yang sepertinya berfungsi sebagai kursi.
 “Ganti-gantian,” jawab Debo sambil sibuk menanak nasi di dapurnya yang Cuma berjarak 10 jengkal.
 “Hah?! Ganti-gantian?” tanya Ozy nggak percaya.
 “Iya,” jawab Debo yang masih sibuk. “Dari jam 9 sampe jam 2 pagi, aku yang tidur di dalem, nah, dari jam 2 sampe seterusnya, barulah ayahku yang tidur di dalem.”
 “Ya ampun,” lirih Ozy sambil kembali menatap sekeliling rumah Debo.
 Ozy tak menyangka, anak sekecil Debo, bisa hidup seperti ini. Ozy saja yang berada di panti yang bahkan sudah di didik mandiri, mungkin tak akan mampu menghadapi hidup yang sama seperti Debo. Terlalu berat.
 Tak berapa lama, ada suara ribut-ribut di luar. Ozy segera memandang kearah pintu, sumber suara keributan itu. Wajah Debo seketika memucat. Dia menghentikan aksi memasaknya, dan segera menghampiri Ozy yang masih asyik menatap pintu rumahnya.
 “Zy, kamu harus cepat pulang!” kata Debo dengan wajah sangat pucat dan ketakutan.
 Ozy mengalihkan pandangannya dari pintu dan kembali menatap Debo. “Loh kenapa?”
 BRAK! Terdengar pintu depan terbuka dengan keras. Ozy dan Debo segera mengalihkan pandangannya ke laki-laki itu. laki-laki itu bertubuh sangat besar dengan luka di beberapa bagian tubuhnya. Tato-tato aneh juga menghiasi tubuhnya yang berotot. Wajahnya juga menyeramkan. Dari ekspresinya, sangat tidak bersahabat.
 “De, itu siapa?” tanya Ozy dengan raut wajah ketakutan.
 Debo hanya diam. Keringat dingin mulai membanjiri seluruh tubuhnya. Sosok itu pasti akan melakukan hal yang tidak-tidak pada Ozy. Ia adalah ayah tiri Debo.
 Ayah Debo pun menatap Debo dan Ozy secara bergantian. Saat matanya menatap Ozy, senyum sinis segera menghiasi wajahnya. Ozy semakin takut. Ada apa sebenarnya? Apa ini yang menyebabkan Debo tak menginginkan ayahnya pulang saat Ozy berada di rumahnya?
 “Siapa anak ini?” tanya ayah Debo masih tersenyum sinis. Debo terdiam. “Apa ini hadiah buat ayah?”
 Debo tetap terdiam. Ozy semakin takut. Tangannya gemetaran. Sementara ayah Debo, lebih tertarik untuk mendekati Ozy. Ozy segera berdiri dan mundur selangkah mendekati Debo. Ozy benar-benar ketakutan. Sementara ayah Debo terus mendekati Ozy sambil menatap Ozy dengan tatapan yang tak bisa ditebak.
 Ozy mundur ke belakang Debo. Tapi, ayah Debo malah menyingkirkan Debo ke sampingnya dengan kasar. Sekarang, ayah Debo dan Ozy sudah saling bertatapan. Ozy tak tahu lagi harus berbuat apa. Ozy sangat ingin menangis.
 Tiba-tiba, tangan Ayah Debo mencengkramnya dengan kuat. Ozy sudah menangis. Sekujur tubuhnya gemetaran. Ozy merasakan firasat yang sangat buruk.
 “Kamu… akan aku jual,” desis Ayah Debo mengerikan.
 Ozy langsung menangis. Air matanya turun berkejaran. Dia terus meronta-ronta, mencoba melepaskan cengraman Ayah Debo dari tangannya. Tapi nihil, tenaganya tidak lebih kuat dari tangan Ayah Debo. Tapi, Ozy tak begitu saja putus asa, ia berteriak minta tolong pada Debo. Tapi, Debo hanya diam, diam, dan tetap diam dengan tatapan yang tak bisa ditebak. Akhirnya, Ozy dibawa oleh Ayah Debo, entah kemana.

^0^
 Ozy menatap sekeliling ruangan itu sambil terisak. Ruangan itu begitu gelap. Lebih mirip ruang isolasi. Ayah Debo tadi membawanya ke tempat ini. Entah maksudnya dijual itu apa, tapi yang jelas, Ozy sudah mulai menyesali kedatangannya ke sini, apalagi Debo yang dipikir adalah sahabat Ozy tak melakukan apa-apa saat Ozy membutuhkannya.
 Segerombolan anak yang tak tahu dari mana asalnya, tiba-tiba masuk ke ruangan itu. Ozy menatap mereka satu persatu. Kalau dilihat dari penampilannya, sepertinya mereka juga anak daerah sini.
 “Kamu Ozy, ya?” tanya seorang gadis berkuncir kuda sambil menatap Ozy ingin tahu.
 Ozy menatap gadis berkulit hitam manis itu sambil mengangguk.
 “Temennya Debo?” tanya gadis itu lagi.
 Ozy segera mengalihkan pandangannya dari gadis itu. Entah mengapa, ia sangat sebal mendengar nama Debo. “Jangan sebut nama dia lagi!”
 Gadis itu menatap Ozy bingung lalu duduk di sebelahnya. “Loh? Emangnya kenapa?”
 Ozy mendengus. “Pasti dia yang ngejebak aku dateng ke sini pas ayahnya pulang supaya aku bisa dijual sama ayahnya yang menyeramkan itu. Dia juga sama sekali nggak ngebela aku pas aku dibawa ayahnya ke sini. Aku benci dia!”
 Gadis itu memandang Ozy prihatin. “Kamu berpendapat kayak gitu karena kamu nggak tahu ayah Debo itu kayak gimana. Debo bisa dibunuh sama ayahnya kalo terang-terangan nolongin kamu.”
 Ozy langsung merinding. Memang, Ozy tahu kalau ayah Debo itu kejam, tapi masa sampai sebegitunya.
 “Oh, ya, kenalin, namaku Agni,” kata gadis itu sambil mengulurkan tangannya pada Ozy. Ozy segera membalasnya. “Aku juga salah satu anak yang diculik sama Ayah Debo. Aku diculik olehnya saat pulang sekolah.”
 “Kamu… juga. Sampai sekarang kamu belum pulang?” tanya Ozy agak shock.
 Wajah Agni berubah murung. Ia merengkuh kakinya dan memendamkan kepalanya di sana. “Aku betah di sini. Aku nggak mau pulang. Walaupun, aku kangen banget sama kedua orang tuaku.”
 “Kenapa?” tanya Ozy sambil mengerutkan keningnya.
 Agni mendongakan kepalanya dan berganti menatap Ozy dengan mata yang sudah basah dengan air mata. Ozy sempat terkejut. Jadi, sejak tadi Agni menangis.
 “Mereka aja nggak tahu kalo aku ilang,” kata Agni dengan agak terisak.
 Ozy membelalakkan matanya. Tak percaya. Debo, Agni, mereka adalah dua orang yang sama. Sama-sama tak dipedulikan oleh orang tua mereka. Ternyata masih ada orang tua sekejam itu di dunia ini. Padahal selama ini Ozy merasa kalau memiliki orang tua adalah hal terbahagia dalam hidup. Tapi tak seperti itulah yang dirasakan oleh Debo dan Agni.
 Tok.. tok… tok. Ozy dan Agni segera menoleh kebelakang. Tempat di mana jendela diketuk. Ozy kembali terkejut. Debo ada di sana dengan wajah sangat pucat.
 Debo mengisyaratkan kepada Agni untuk membantunya membuka jendela itu. Setelah menengok ke kanan dan ke kiri, Agni menyanggupi permintaannya.
 “Zy, ayo kabur!” perintah Debo setelah jendela itu terbuka.
 Ozy mengangguk tanpa perlu pikir panjang. Ozy pun melangkahkan kakinya melewati jendela itu. tapi rupanya, suara gaduh Debo membuat ayahnya datang ke situ dan melihat kejadian itu. Tatapan matanya seram.  Bulu kuduk Ozy merinding. Sementara Debo, malah menarik tangan Ozy menjauh dari sana.
 “Dasar anak sialan! Cepet balikin anak itu!” teriak ayahnya sambil berlari mengikuti Debo dan Ozy.
 Debo dan Ozy tentunya berlari semakin kencang begitu tahu mereka berdua dikejar. Ozy nyaris sesak nafas. Puasa-puasa begini disuruh lari marathon. Tapi kalo nggak begini, Ozy nggak bakalan bisa kembali ke Panti, bertemu teman-teman dan Bunda Uchie. Ozy nggak mau hal itu terjadi.
 Ozy sempat berharap supaya warga di sekitar situ menolong mereka. Tapi percuma, mereka terlalu cuek, tak peduli, masa bodoh. Mereka tetap saja sibuk melakukan aktivitasnya. Ozy panik, bingung, sedih, semua bercampur aduk menjadi satu.
 Ozy menengok ke belakang. Ayah Debo semakin dekat. Bahkan sekarang, sudah ada pistol di tangannya, yang siap menembaknya kapan saja. Tiba-tiba, Debo menarik tangan Ozy, membuat Ozy menatap ke arahnya.
 “Jangan nengok ke belakang mulu! Kamu bisa kesandung!” perintah Debo yang keringatnya sudah bercucuan ke mana-mana.
 “Tapi… tapi… ayah.. ayah kamu bawa pistol,” jawab Ozy dengan tergagap.
 “Dia emang selalu bawa pistol ke mana-mana! Makanya, tadi aku nggak berani nolongin kamu. Nyawaku bisa melayang sebelum nyelametin kamu!”
 Mulut Ozy segera terkunci. Ayah Debo memang menyeramkan. Sangat menyeramkan. Bagaimana bisa, Debo yang berhati selembut kapas, tinggal bersama monster sekejam beliau?
 “Heh! Anak sialan, cepetan berhenti!” ayah Debo pun meng-kokang pistolnya sambil membidik tepat ke arah Debo.
 DOR! Peluru di tembakkan.
 Peluru itu mendarat nyaris mendekati kaki Debo. Debo menghela nafas lega. Sangat lega. Pasalnya, Ayah Debo amat sangat jarang meleset dalam hal menembak.
 “Sialan!” umpat ayahnya sambil kembali meng-kokang pistolnya. Menunggu saat yang tepat untuk menembak.
 Ozy merasa kakinya sudah hampir putus. Sangat melelahkan. Kecepatan larinya pun berkurang menyebabkan jarak mereka dengan ayah Debo sudah semakin dekat.
 “De, belum sampe juga ya?” tanya Ozy dengan nafas yang sudah nggak karuan.
 “Masih lumayan jauh,” jawab Debo yang masih terlihat kuat. “Mendingan kamu nggak usah ngomong dulu. Kasihan nafasmu.”
 Ozy mengangguk dan kembali menoleh ke belakang. Terlihat ayah Debo sedang berdiri, diam. Berkonsentrasi untuk membidik. Ozy sangat ketakutan. Walau jarak mereka cukup jauh, tapi Ozy takut, kalo tembakan ayah Debo mengenai dirinya.
 Ayah Debo kembali melepaskan tembakan itu. terdengar cukup keras, dan DOR! Ozy memejamkan matanya. Dia selamat. Tapi, Debo terduduk. Memegangi lehernya yang sekarang sudah bersimbah darah. Ozy mendekati Debo. Mencoba menahan darah Debo supaya tidak keluar lebih banyak lagi.
 “La… ri,” rintih Debo yang darahnya sudah mulai membanjir. Bibirnya memutih. Rupanya, peluru tadi tepat mengenai urat nadi di lehernya. Mustahil di selamatkan. “Ayah… ku.. su… su… su… sudah… dekat.”
 Ozy menggeleng. Air mata mulai membanjiri wajahnya, seperti darah Debo yang sudah membanjir di tanah, tapi hebatnya, tak ada satu orangpun di sana yang mau menolong.
 “Aku.. aku nggak bisa… ninggalin kamu… dalam keadaan… keadaan kayak gini,” isak Ozy membuat Debo tersenyum. Ozy masih mencoba menghentikan pendarahan Debo dengan melepas bajunya dan menekannya di leher Debo.
 “Zy… kamu… kamu… mau nyia-nyiain perjuangan aku?” tanya Debo dengan sisa tenaganya. Ozy segera menggeleng cepat. “Makanya itu… sekarang… sekarang kamu lari. Sebelum… ayah… ayahku… mendekat. Aku udah sekarat begini, masa… masa… kamu masih tega juga. Percuma dong aku mengorbankan nyawa… kalo… kalo… akhirnya… kamu nggak selamat.”
 Ozy masih ragu. Ozy tak ingin meninggalkan Debo dalam keadaan seperti ini, tapi ia juga tak ingin mengecewakan Debo. Sementara ayah Debo sudah semakin dekat. Debo makin panik. Ia pun melepaskan tangan Ozy dan mendorongnya dengan tenaganya yang sudah sangat melemah.
 “Kalo kamu nggak pergi sekarang, kamu bukan SAHABAT aku!” bentak Debo lemah.
 Mau tak mau, Ozy akhirnya berdiri begitu melihat mata Debo perlahan-lahan mulai terpejam disertai senyumannya. Ozy menutup wajah Debo dengan kausnya lalu berlari kembali sambil menangis. Ia harus keluar dari sini sesegera mungkin.
 “Heh! Anak kurang ajar! Kamu juga mau aku matiin kayak tuh bocah?! Hah?!” bentak ayah Debo sambil meng-kokang kembali pistolnya. Tapi, rupanya tembakan kearah Debo tadi adalah peluru terakhir miliknya.
 Ozy sudah berlari ke luar dari kampung neraka tadi. Kampung yang benar-benar nggak punya hati sama sekali. Kecuali Debo tentunya. Debo, seorang anak yang memiliki hati sebening air pegunungan. Yang rela mengorbankan nyawanya, hanya demi Ozy. Seorang sahabat yang baru dikenalnya. Sangat baru.
 Ozy berlari sambil menangis histeris. Seorang gadis remaja yang melihat Ozy menjadi prihatin. Apalagi, Ozy hanya mengenakan kaus dalam dan celana pendeknya. Wajahnya pucat dan air mata membasahi pipinya. Keringat pun bercucuran membasahi seluruh tubuhnya. Kondisi Ozy saat itu sangat memprihatinkan.
 “Dek, adek kenapa?” tanya orang itu khawatir sambil menghentikan laju lari Ozy serta memegang kedua bahunya, berusaha menenangkan.
 Tangisan Ozy melemah. Kepalanya pusing, matanya juga sudah berkunang-kunang. Rasa lelah menyelimuti tubuh Ozy seketika. Ozy jatuh terduduk. Untung saja orang itu berhasil menahan tubuh Ozy supaya tidak membentur tanah dengan keras.
 Ozy menunjuk ke suatu arah dengan lemas. “Dia… dia… pembunuh.”
 Tiba-tiba semuanya terasa gelap.

^0^
 Ozy membuka matanya. Aroma jeruk yang sudah sangat ia kenal muai memasuki hidungnya. Cahaya terang perlahan-lahan mulai memasuki lensa matanya. Ozy tersadar setelah pingsan entah berapa lama. Ozy merasakan seluruh tubuhnya sakit. Mungkin karena habis berlari-lari di tengah-tengah panasnya matahari.
 “Bunda! Ozy udah sadar!” teriak Oik yang sejak tadi menungguinya sampai tersadar.
 Semua penghuni panti pun tergopoh-gopoh menghampiri mereka. Rupanya, Ozy sudah berada dipanti. Mungkin orang itu yang membawanya ke sini.
 “Ozy! Ozy, kamu nggak apa-apa kan sayang?!” tanya Bunda Ucie panik sambil memberikan segelas teh pada Ozy dibantu Oik.
 Ozy meneguk teh manis hangatnya lalu meletakannya di atas meja. Ozy menghela nafasnya, lega. Merasa bahwa hari-hari beratnya telah terlampaui dengan baik. Tapi, Ozy juga merasakan kehilangan, kehilangan sosok lelaki di balik jendela itu.
“Tadi, katanya kamu dikejar-kejar sama penjahat, emangnya kamu ngapain, Zy?” tanya Cakka membuyarkan lamunan Ozy.
 Ozy menggeleng. Tak mau menceritakan apapun. Ia takut kalau akhirnya menangis. Mengenang Debo kembali sama saja dengan mengenang kisah pahit. Apalagi, Debo pergi karena salahnya. Mata Ozy kembali berkaca-kaca.
 “Ozy mungkin mau istirahat,” kata Bunda Ucie lembut sambil membelai kepala Ozy. “Ayo, semuanya, kita keluar dulu.”
 Anak-anak panti itupun menatap Bunda Ucie kecewa. Mereka masih penasaran atas kejadian yang menimpa Ozy.
 Pintu kamar tertutup. Ozy kembali merenung. Ia ingin melakukan sesuatu untuk membalas kebaikan Debo. Ozy berpikir. Tak berapa lama, seulas senyum pun terpancar di bibirnya. Ozy tahu akan melakukan apa. Mungkin, hal ini tak sebanding dengan apa yang dilakukan Debo. Tapi, Ozy berharap sesuatu ini akan berguna.

^0^
 Bulan Ramadhan, adalah bulan yang penuh berkah. Bulan berbagi keceriaan, kebaikan, ketulusan, serta senyuman kepada orang-orang. Itulah yang akan Ozy serta kawan-kawan Panti lakukan hari ini.
 Ozy berencana untuk membawa teman-teman pantinya ke Kampung Duloh, Kampung kumuh tempat tinggal Debo. Kampung itu tak pernah mengenal kebaikan, jadi Ozy akan mengenalkannya. Sekaligus membalas jasa atas kebaikan Debo yang tak terhingga.
 Ozy kembali merasa bersalah karena ia tak tahu di mana Debo dimakamkan. Ia khawatir kalau Debo dimakamkan secara tidak layak. Ozy mendekati jendela, membayangkan Debo ada di sana sedang berbuka puasa. Ozy rindu sosok itu.
 “De, aku kangen banget sama kamu,” gumam Ozy sambil menatap ke langit. “Makasih ya buat semuanya. Kamu udah membuat aku merasa bahwa aku orang paling beruntung sesudah kamu. Pokoknya, aku akan terus menjaga persahabatan kita sampai aku jadi kakek-kakek nanti. Dan kalau aku udah selesai jadi kakek-kakek, berarti kan aku udah nggak ada, kita bisa main di surga sama-sama kalo aku di kasih kesempatan sama Allah untuk berada di sana. Sekali lagi makasih ya, Debo, sahabat terbaikku.”
 Ozy menengadahkan tangannya, berdoa untuk kebahagiaan Debo dan semoga Debo berada di tempat yang seharusnya.
 Seseorang menepuk bahu Ozy. Ozy pun tersentak dan menoleh ke belakang. Ternyata Sivia yang mengagetkannya.
 “Zy, barang-barang yang mau dibagiin udah siap. Kapan mau berangkat? Tinggal nunggu kamu doang. Lagian Cuma kamu yang tau tempatnya,” cecar Sivia membuat Ozy harus menjauhkan sedikit tubuhnya karena suara Sivia yang amat memekakan telinga.
 “Iya, ini juga mau berangkat,” kata Ozy sambil berjalan mengikuti Sivia kearah mobil bak yang sudah dipenuhi barang-barang.
 “Tarik, Mang!” teriak Lintar membuat semua yang berada di mobil itu tertawa.
 Ozy tak sabar melihat reaksi warga kampung melihat kehadiran mereka. Melihat, bahwa masih ada yang peduli terhadap kehidupan mereka. Bukan orang-orang besar yang sok cari perhatian, tapi orang-orang sederhana yang ingin membagi sedikit keberuntungan mereka.
  

17 Sep 2010

Don't judge the book just from the cover

 Oik memandang sekeliling toko buku itu bingung. Ia sedang mencari buku pelajaran yang diperintahkan oleh guru bahasa inggrisnya. Katanya buku itu ada di sini. Tapi, seharian berkeliling, Oik tak kunjung menemukan buku yang dicarinya.
 Untuk mengistirahatkan diri, Oik pun duduk di sebuah kursi yang kebetulan sedang kosong. Maklum, di toko buku biasanya kursi penuh oleh para pelanggan yang pengen baca gratis. Termasuk, Oik. Hehe. :P tapi sayang, buku yang di carinya tak juga ditemukan. Padahal kalau sudah menemukan yang cocok, Oik berniat membelinya.
 “Hai,” tegur seseorang saat Oik memijat-mijat kakinya yang pegal. Oik segera melihat kearah seseorang yang menegurnya. Orang itu tersenyum. Senyumnya, waduuh…. Manis banget. “Kenalin, nama gue Irsyad.”
 Oik masih takjub memandangi sosok di depannya. Wajahnya hitam manis. Senyumnya, waduuuh, nggak usah ditanya. Di antara pria lainnya, menurut Oik, cowok inilah yang auranya paling memancar di antara pria-pria lain. Sangking takjubnya, Oik sampai mengabaikan uluran tangan Irsyad.
 Irsyad menatap Oik bingung lalu meletakkan tangannya di atas dahi Oik. Oik makin terpesona. Dan belum juga tersadar dari awang-awangnya. Dan, malah terbang semakin menjauh.
 “Kamu kenapa? Sakit?” tanya Irsyad lembut. Oik belum tersadar. Irsyad tersenyum lagi dan malah semakin mendekatkan duduknya pada Oik. “Tapi, kok nggak panas, ya?”
 Oik segera mengulurkan tangannya. Irsyad memandang tangan Oik bingung, tapi kemudian segera mengerti dan menyambut uluran tangan Oik yang baru setengah sadar.
 “Oik,” ucap Oik dengan nada terpesona.
 Irsyad segera melepaskan genggaman tangannya dari Oik. Oik segera tersadar dan menyadari kebodohannya. Lalu tersenyum garing ke Irsyad yang sudah terbahak.
 “Kamu lucu,” ujar Irsyad sambil terbahak.
 ‘Lebih tepatnya… bodoh,’ batin Oik sambil manyun. Lalu memainkan kakinya, bingung mau membicarakan apa. Kesalahan di awal membuatnya jadi tak berminat utuk mendekati cowok ganteng ini lebih jauh lagi.
 “Oh, ya, kamu ke sini nyari buku apa?” tanya Irsyad setelah diam-diaman beberapa saat.
 “Nyari buku tentang drama bahasa inggris, nih. Kamu sendiri?” tanya Oik balik setelah berhasil menetralkan rasa malunya.
 “Aku lagi keliling-keliling aja, kok. Kebetulan, aku suka ke sini sambil nyari-nyari buku,” jawab Irsyad sambil melihat sekeliling. “Ngomong-ngomong, buku yang kamu cari udah ketemu belum?”
 Oik menggeleng lemah. Kembali teringat tugasnya. Kalo tugas itu nggak dikumpulin besok, bisa-bisa Oik disuruh nyanyi lagu Buka Hatimu nya Armada pake bahasa inggris lagi. Memang sih, suara Oik nggak jelek-jelek banget, malah tergolong merdu, tapi masalahnya, Oik tuh paling nggak bisa bahasa inggris.
 “Mau cari bareng?” tawar Irsyad langsung sumringah. Oik pun segera mengangguk semangat. Sangking semangatnya, leher Oik hampir saja keseleo.
 “Syad!” tegur seseorang sambil menepuk bahu Irsyad.
 Kontan Oik dan Irsyad langsung menoleh ke belakang. Oik kembali terperangah. Ternyata, seseorang yang menegur Irsyad tadi wajahnya ganteng banget. Mirip artis-artis korea. Matanya sipit, kulitnya putih, hidungnya mancung. Cocok lah jadi saingannya Kim Bum.
 “Eh, Alvin,” sapa Irsyad lalu berdiri menghampiri cowok korea yang ternyata bernama Alvin.
 “Oh, ya, kenalin, ini temen baru gue Oik,” kata Irsyad memperkenalkan Oik pada Alvin. Alvin segera tersenyum pada Oik.
 “Alvin,” sapa Alvin tanpa mengulurkan tangannya dan tetap memasukkan tangannya ke saku. Kayaknya nih cowok cool banget. Senyum aja senyum irit. Tapi sebodo amat, yang penting dalam sehari ini, Oik bisa kenalan sama 2 cowok ganteng.
 “Oik,” balas Oik sambil berusaha tersenyum semanis mungkin.
 “Sorry, nih harus mengganggu kemesraan kalian berdua, tapi gue sama Irsyad harus pergi,” pamit Alvin dengan nada menggoda. Irsyad hanya tersenyum, sementara Oik juga ikut tersenyum tipis. Agak kecewa juga. Baru aja mereka mau jalan bareng. “Nggak apa-apa, kan?”
 Oik mengangguk lemas. Lalu memaksakan diri tersenyum.
 “Ya udah, Ik, gue duluan, ya. Semoga kita bisa ketemu di lain waktu,” pamit Irsyad lalu ber-tosan dengan Alvin sambil berjalan. Entah karena apa.
 Irsyad pun segera melambai pada Oik setelah menghilang dari pandangannya. Tapi tiba-tiba, wajah Irsyad memucat, begitu juga dengan Alvin. Mereka pun berlari-lari dengan panik. Oik hanya menatap mereka bingung.
 Baru saja Oik menatap Alvin dan Irsyad bingung, seseorang menepuk pundaknya. Oik tersentak dan segera menoleh kearah orang itu. Ternyata, itu adalah Obiet, teman satu sekolahnya di SMA 2. Oik menatap Obiet yang segera duduk di sebelahnya dan ngos-ngosan parah.
 “Biet, lo kenapa?” tanya Oik. Obiet segera memandang Oik khawatir, tapi Oik malah menatap Obiet bingung. “Ada apaan?”
 “Periksa tas lo, sekarang!” perintah Obiet galak dan berusaha menetralkan pernafasannya.
 Oik masih bingung. Tapi akhirnya, dituruti juga permintaan Obiet. Oik segera memeriksa isi tasnya. Semakin lama, semakin panik. Ia pun segera membongkar isi tasnya dan mengeluarkan semua isi tasnya yang memang tak begitu banyak. Wajah Oik berubah cemas. Matanya berkaca-kaca.
 “Biet… dompet gue ilang,” lirih Oik sambil terus mengecek isi tas-nya.
 Obiet menghela napasnya. Kasihan juga dia melihat sahabatnya kemalingan. “Lo sih nggak hati-hati. Main kenal-kenalan aja lagi sama orang yang nggak dikenal. Mereka berdua tuh maling di sini udah lamaaaaaaa banget. Cuma jarang ketangkep aja karena mereka larinya udah professional. Mereka ngincer orang baru kayak lo. Mereka juga memanfaatkan kegantengan mereka buat memudahkan pekerjaan mereka.”
 Oik langsung lemas seketika. pantesan tadi Irsyad deket-deket sama dia. Rupanya, tuh anak pengen ngambil dompet Oik. Wajahnya emang manis, tapi hatinya asem.
 “Terus dompet gue gimana? Gue nggak bisa pulang, nih. Gue juga harus beli buku pelajaran buat besok dan harus dikumpulin besok,” cerita Oik membuat Obiet tambah iba melihatnya.
 “Tadi sih Debo lagi ngejar. Semoga aja mereka ketangkep,” jawab Obiet sambil menepuk bahu Oik yang sedang lemah tak berdaya. “Makanya, lain kali hati-hati. Don’t judge the book just from the cover.”
 Oik hanya menunduk sambil memperhatikan isi tas-nya. Oik benar-benar menyesal. Kalau saja tadi dia lebih hati-hati dan nggak terhipnotis sama kegantengan Irsyad tadi, pasti nggak bakalan jadi begini. Mana tuh uang jajan selama sebulan lagi. Nggak bakalan bisa minta lagi dah sama orang tuanya karena mereka memang nggak bakalan ngasih.
 Tak berapa lama, Debo pun datang dengan nafas tak beraturan. Ia pun duduk di sebelah Oik sambil menatap Oik yang sudah tak bersemangat. Debo yang kebetulan sekelas dengan Oik, tahu persis perasaan Oik. Masalahnya, Debo juga ke sini sedang mencari buku bersama Obiet.
 “Gimana, De?” tanya Obiet pada Debo yang hanya bengong menatap Oik.
 Debo menatap Obiet sebentar, lalu menggeleng lemah. Ia menatap Oik yang sekarang sedang bercucuran air mata. Gimana nggak nangis, dia harus pulang naik apa kalo semua uangnya hilang tak bersisa. Kalau jalan kaki, rumah Oik juga jauh dari sini. Bisa bengkak mendadak nanti pas sampe di rumah. Gimana juga dia bisa nyelesein tugas dari gurunya kalo nggak ada uangnya.
 “Terus gue harus gimana? Gue nggak bisa pulang. Gue juga nggak bisa ngumpulin tugas, padahal kan besok udah dikumpulin. Mana sekarang udah jam 7 malem lagi,” kata Oik sambil sesenggukan.
 “Tenang aja, soal ongkos, gue yang bakalan nganterin lo pulang,” tawar Obiet membuat Oik menatap Obiet tak percaya.
 “Sementara masalah buku, gue pinjemin dulu deh duitnya,” tambah Debo yang membuat senyum Oik semakin sumringah. Oik pun segera memeluk kedua sahabatnya itu dengan kencang, sangat kencang. Obiet dan Debo sampai protes karena kesakitan. Tapi, Oik tak peduli. Ia masih terus memeluk kedua sahabatnya itu dengan erat.
 “Lo berdua emang sahabat gue yang paliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing baik!” puji Oik senang. Oik pun melepaskan pelukannya dan mencubit pipi Debo dan Obiet secara bersamaan. Debo dan Obiet kembali mengaduh kesakitan.
 “Kalo cara berterima kasih lo nyakitin gini, mah, ogah gue tolongin,” keluh Debo sambil memegangi pipi chubby-nya yang memerah. Disetujui dengan anggukan Obiet.
 Mata Oik kembali berkaca-kaca membuat Debo dan Obiet langsung menatap Oik bersalah.
 “Bercanda, kok, Ik. Jangan nangis, ya,” hibur Obiet sambil mengusap-usap kepala Oik.
 Oik kembali tersenyum sumringah dan tertawa-tawa. Obiet mulai merasa kalau dirinya sedang dikerjai oleh sahabatnya ini. Kemudian, Oik menggandeng tangan Obiet dan Debo mengelilingi toko buku untuk mencari buku yang dicarinya.
 “Coba duit gue nggak ilang, gue kan pengen sekalian beli novel ini,” kata Oik sambil memegang sebuah novel teenlit.
 “Makanya, hati-hati. Luarnya bagus, belum tentu dalemnya bagus. Emang lo nggak diajarin sama nyokap lo untuk nggak deket-deket sama orang yang baru dikenal? Adek gue aja ngerti,” omel Debo membuat Oik manyun.
 “Pokoknya lain kali.. lo harus hati-hati,” nasihat Obiet dengan nada lembut membuat Oik tambah manyun.
 “Heran deh, gue punya sahabat, cowok lagi, cerewetnya melebihi guru-guru di sekolahan,” cibir Oik, tapi kemudian ia tersenyum. “Tapi, makasih ya, berkat kejadian ini, gue tahu kalo lo berdua adalah sahabat gue paling baik di dunia. Hehe. Makasih, ya.”
 Debo dan Obiet saling berpandangan sambil tersenyum misterius. Dengan kompak, mereka pun mencubit kedua pipi Oik secara bersamaan. Oik pun segera melepaskan tangan Debo dan Obiet dari pipinya. Oik mengelus pipinya yang sekarang sudah memerah dan sakit.
 “Tuh kan, mendingan sama kita. Biarpun kita nggak lebih imut dari mereka, tapi hati kita baik, ya nggak, De?” tanya Obiet membuat Debo segera menggeleng cepat. Obiet menatap Debo bingung.
 “Gue sih merasa kalo gue lebih imut dari mereka. Lo aja kali yang merasa begitu,” jawab Debo membuat Obiet dan Oik terbahak.
 Pokoknya, jangan pernah menilai seseorang dari luarnya. Ibaratnya, lain di mulut, lain juga di hati. Waspadalah, waspadalaaah! Hehe. :P

13 Sep 2010

ada yang abadi

Takkan selamanya, tanganku mendekapmu..
Takkan selamanya, raga ini menjagamu...

”Hai kak Sify,” panggil debo riang dan menghentikan senandung dari bibir mungil Sify.
”hai, debo. Loh, kok udah pulang sekolah?” tanya Sify heran saat melihat debo memakai baju bebas, bukan seragam. Biasanya kan debo main ke rumah ify pake baju seragam.
”ini kan hari sabtu, kak. Libur,” kata debo sambil mencubit kedua pipi Sify gemas. Sfy tersenyum malu.
”hehe. Kak Sify lupa. Maklum, udah tua,” kata Sify sambil memperlihatkan kembali senyumnya. Namun yang ini terlihat lebih manis. ”duduk, de.”
”nggak usah, kak. Lagian aku yakin bentar lagi kakak mau dijemput kan?” tanya debo jahil membuat semburat merah muncul di kedua pipi Sify.
”di jemput siapa?” tanya Sify sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.
”ah, nggak usah pura-pura nggak tau deh,” ledek debo sambil mencubit kedua pipi Sify, yang sepertinya sudah jadi kebiasaannya. ”sama ayang rio.”
”ah, debo. Nggak usah cubit-cubit deh. Aku tahu, aku emang imut, tapi nggak usah cubit-cubit dong,” kesal Sify sambil mengusap-usap pipinya. debo malah nyengir.
Tiba-tiba terdengar suara motor yang sedang diparkir di depan rumah Sify. Pengendara motor itupun membuka helm-nya dan merapikan rambutnya yang agak berantakan. Setelah itu, dia turun dari motor setelah sebelumnya berkaca di spion motor sambil membereskan rambutnya, lalu masuk ke dalam rumah Sify disertai senyum manisnya yang khas.
”hai, fy. Ayo berangkat?” ajak orang itu sambil tersenyum ke arah Sify. Lalu melihat debo yang juga tengah tersenyum padanya. ”eh, ada debo juga. Mau ikutan?”
Debo tersenyum kecil, lalu melirik Sify yang juga tersenyum padanya. Sepertinya sih, Sify juga barharap debo ikutan. Itu hanya dari pandangan debo semata. Entah apa itu kenyataan, atau hanya sekedar perasaan.
”nggak usah deh, kak. Nggak enak ganggu,” tolak debo halus dan tak lupa memberi senyuman manisnya pada rio juga Sify.
”nggak apa-apa kali, de. Kayak baru kenal aja,” kata Sify sambil membalas senyuman debo.
Debo menggeleng pelan. ”nggak ah. Nanti aku jadi pajangan doang lagi di sana. Udah, kakak-kakak kencan aja berdua. Apa jangan-jangan kalian takut kangen sama aku?”
SIfy dan rio pun langsung tertawa terbahak-bahak. Dengan gemas, Sify pun mencubit kedua pipi debo membuat debo berteriak kesakitan. Sementara rio mengacak-acak rambut debo yang membuat debo segera mendelik ke arah rio. Debo kan memang kesal kalau rambutnya di acak-acak setelah sebelumnya ia sudah pakaikan gel, katanya sih supaya terlihat lebih macho.
”kak rio sama kak Sify nih ya. Emang debo imut, nggak usah pake acara nyubit pipi sama ngacak-ngacak rambut deh,” keluh debo sambil membetulkan lagi posisi rambutnya. Lalu menatap jengkel ke rio dan Sify yang sedang tertawa melihat ekspresi manja debo. ”udah sana. Pergi!”
”ini juga udah mau pergi tanpa kamu suruh. Yok, fy,” kata rio yang kembali ingin mengacak rambut debo, namun kali ini debo berhasil mencegah tangan jahil rio menyentuh rambutnya. Debo tersenyum penuh kemenangan, sementara rio langsung memasang ekspresi manyunnya.
”ayo. Jangan kangen ya, de,” kata Sify yang langsung berlari setelah sebelumnya berhasil mencubit pipi chubby debo.
Debo ingin membalas. Tapi, apa daya saat Sify langsung menarik rio dan memaksa rio untuk segera menyalakan motornya dan berlalu dari sana. Debo ingin mengejar, tapi apa daya dia kalah cepat dari Sify yang sampai duluan ke motor rio. Debo makin kesal saat melihat Sify melambai padanya dan tersenyum mengejek.
Debo menatap motor yamaha r-15 merah milik rio yang mulai menghilang dari pandangannya. Debo menghela nafas panjang. Lalu, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang menggelikan dan akhirnya tertawa girang. Tawanya sangat girang sampai memekakan telinga.
”debo. Kenapa kamu ketawa kaya begitu?” tanya tante gina, mama Sify yang sudah berdiri di samping debo dan menatap debo bingung. ”ayo masuk. Temenin tante. Si Sify baru aja pergi kan?”
Debo langsung tersenyum salting. Dia mulai merasa kalau dirinya seperti orang gila. Debo pun segera menyalami tante gina. Entah apa maksudnya. Dan tiba-tiba langsung ngacir meninggalkan tante gina yang terbengong-bengong.
Debo yang tengah berlari langsung menoleh ke belakang, ke arah dimana tante gina berdiri. ”nggak usah tante! Udah sore! Debo pamit ya!”
debo yang tengah berlari cepat-cepat dan tergesa-gesa itupun ditatap heran oleh tante gina. Tante gina yang sedang kebingungan pun melihat ke arah jam tangannya yang jelas-jelas masih menunjukan angka sepuluh, dan angka sepuluh itu juga menunjukan masih pagi karena matahari masih bersinar dengan terangnya.
Tante gina pun segera menggeleng pelan lalu tertawa kecil melihat tingkah debo yang polos dan asal-asalan itu. Tante gina pun memasuki rumahnya dan mengunci pintu gerbang yang engselnya sudah mau patah.
’dasar anak kelas 3 smp jaman sekarang. Udah mau deket ujian kok malah pada aneh begitu ya. Apa karena mereka setres mau ngadepin ujian. Kasian,’ batin tante gina lalu tertawa geli. ’perasaan dulu Sify nggak gitu-gitu amat ah. Debo, debo.’

^0^
”sori, yo. Kayaknya... kita... mendingan...,” kata Sify terpotong. Sify pun menghelakan nafas untuk kesekian kalinya. Menenangkan hatinya, lalu menatap mata rio dalam-dalam. ”putus.”
Rio segera menyemburkan air jeruk yang sekarang sudah menghambur ke mana-mana. Rio memandang Sify tak percaya. Sedangkan Sify takut untuk menatap mata rio. Sify pun menunduk. Rio sama sekali tak percaya akan pendengarannya. Rio menelan ludah berusaha mencerna kata-kata Sify yang menurutnya sama sekali tak masuk akal.
”maksud kamu tuh apa? Kenapa tiba-tiba kamu minta putus? Salah aku apa? Atau... kamu punya cowok lain yang kamu sayang?” cerca rio sambil memegang pundak Sify yang sudah bergerak naik turun. Sify menangis.
Sify segera menggeleng pelan. Mulutnya seakan terkunci rapat. Kepalanya masih menunduk. Dia tak mau menatap wajah rio. Rio menatap sosok di depannya dengan pandangan iba. Lalu, ia memeluk Sify dan membopong Sify ke tempat yang lebih sepi. Kan nggak enak jadi pusat perhatian. Apalagi di sebuah mall.
Rio kembali memeluk Sify setelah sampai di loteng atas mall. Sify menangis semakin keras. Sementara rio masih bingung. Setalah agak lama rio membiarkan Sify menangis di pelukannya, Sify melepaskan pelukan rio yang terasa sangat hangat itu. Semakin lama berada di pelukan rio, semakin lama pula ia harus menyelesaikan ini semua.
”yo, aku... aku... aku minta putus,” kata Sify lagi dengan suara serak dan tertahan.
”tapi, kenapa?” tanya rio lagi. Walau hatinya sakit, tapi dari nada suaranya masih saja terdengar sangat lembut.
”aku... aku... aku... udah nggak... nggak... sayang lagi sama... sama... kamu,” kata Sify dengan suara tertahan.
Rio mengangguk. Hatinya sudah hancur berkeping-keping. Tapi, dia juga nggak bisa memaksakan kehendak. Itu adalah keputusan Sify. Keputusan yang harus diterimanya. Walau terasa sangat menyakitkan.
”oke deh kalo gitu. Aku juga nggak bisa maksain. Dan kalo itu mau kamu... kita... kita... kita... putus,” kata rio lirih. Berat rasanya mengatakan kata ’putus’.
Rio pun meninggalkan Sify yang masih terpaku. Air mata Sify kembali meleleh saat rio meninggalkannya. Semakin deras saat tahu kalau status nya dengan rio sekarang sudah sebatas teman. Hubungan yang ia pertahankan selama delapan bulan akhirnya selesai. Sify berjongkok dan menutup wajahnya dengan tangannya. Berusaha meredam tangisannya yang terdengar semakin keras.
Tiba-tiba sebuah tangan mampir di pundak Sify. Sify segera menghentikan tangisnya dan mengusap air matanya. Ternyata rio. Rio tersenyum pahit pada Sify, lalu membantu Sify berdiri. Dan membetulkan rambut Sify dan menghapus air mata Sify yang belum bersih sepenuhnya.
”nggak mungkin kan aku.... maksudnya gue, ninggalin kamu... eh, lo sendirian di sini,” kata rio masih tersenyum dan terlihat agak canggung. ”ayo pulang.”
Sify mengangguk dan menghindari tatapan rio yang lembut itu. Sify menyesal mengambil keputusan itu, tapi hati kecilnya berkata itu adalah keputusan yang terbaik untuknya. Sify mengikuti langkah rio dalam diam. Rio juga tak berkata apa-apa lagi saat dia mengantarkan Sify sampai ke rumahnya.

^0^
Seperti biasa, minggu pagi ini debo jogging keliling komplek sendirian. Dan seperti biasa pula perhentian terakhirnya adalah rumah Sify. Tak sengaja, debo melihat rio yang sedang asik memainkan basketnya namun dengan wajah yang tak seperti biasanya. Bahkan, rio yang jago basket itu, tak kunjung dapat memasukkan bola itu ke ring basket.
”kak rio!” panggil debo lalu berlari mendekati rio yang masih asik bermain di lapangan basket tengah kompleknya itu.
Rio segera menghentikan permainan basketnya dan menoleh ke arah debo yang tersenyum ke arahnya. ”eh, debo. Tumben mau negor? Biasanya sombong kalo ngeliat aku. Haha.”
”yaelah. Biasanya kan kamu yang sombong kak, apalagi kalo lagi berduaan sama kak Sify. Hehe,” ledek debo sambil nyengir. Ekspresi rio berubah seketika. Apalagi saat mendengar nama Sify.
Debo yang tidak menyadari perubahan ekspresi rio, lebih tertarik akan basket yang dipegang oleh rio. Dengan cepat, debo mengambil bola yang ada di tangan rio. Rio sempat kaget saat debo melakukannya. Lebih kaget lagi saat debo dari jarak yang cukup jauh berhasil memasukkan bola basket itu ke ring-nya.
”de, lo jago juga basketnya,” puji rio kagum. Sempat melupakan masalahnya dengan Sify sejenak.
”haha. Enggak juga, kak. Cuma bisa dikit,” kata debo sambil mengoper bola itu kembali ke tangan rio.
”gini di bilang nggak jago? Gimana jagonya,” puji rio lagi sambil mendribel bola basketnya. ”gabung aja gih sama tim basket komplek kita. aku jamin kita bisa menang telak.”
”haha. aku sih pengen, tapi....,” kata debo terputus. Rio menatap debo heran. Tak biasanya dia melihat wajah debo semurung itu. Bagaimana tidak, debo kan selalu tampil di depannya sebagai sosok yang selalu ceria. Hidupnya seperti ada beban.
”tapi, kenapa?” tanya rio penasaran karena debo tak kunjung melanjutkan kalimatnya.
Debo mendongakan kepalanya, lalu menatap rio yang juga menatapnya heran. ”aku takut... nanti aku terkenal lagi gara-gara jago basket. Kan aku nggak mau di kerubungin fans-fans aku nanti. Apalagi sama fans aku yang fanatik. Ihhh, sumpah deh, aku nggak mau.”
Rio menghela napas kesal. Lalu menatap debo yang sedang tertawa ngakak, membuat rio tambah sebal. Debo pun menghentikan tawanya saat rio kembali sibuk bermain dengan bola basketnya. Merasa dicuekin, debo pun kembali ke tujuan utamanya, rumah Sify. Tapi, saat debo hendak meninggalkan lapangan itu, sesuatu menusuk jantungnya dengan begitu keras, tak kuat menahan sakitnya debo pun terjatuh. Dia memegang dadanya dengan keras untuk menahan rasa sakitnya.
Rio yang sedang bermain basket pun langsung menatap debo yang wajahnya sudah sangat pucat. Rio pun langsung berlari ke arah debo dan membuang bola basketnya ke arah yang tak tentu. Dengan panik, ia membopong debo ke dekat lapangan dan menyuruhnya duduk.
”de, kamu kenapa? Muka kamu pucet banget?” tanya rio sambil memberikan air minum yang dia bawa tadi dari rumah.
”hehe. Nggak apa-apa kok, kak. Tiba-tiba aja dada aku sakit banget,” kata debo dengan suara yang kesakitan. Debo pun meminum seteguk air yang diberikan rio. Debo sedang nggak nafsu untuk minum kalau sedang kesakitan begini.
”dikit banget minumnya,” kata rio sambil mengambil kembali air minumnya dari tangan debo. Debo nya sih malah cengengesan. ”kamu kenapa sih?”
”ah, kak rio perhatian banget sih sama aku. Jangan-jangan kak rio.....,” kata debo ngaco sambil menatap rio dengan genit. Rio pun langsung mengerti maksud debo. Rio pun langsung kembali menjauhkan dirinya dari debo karena tampang debo yang sudah –menurut rio- menjijikan. Matanya debo aja udah kedap-kedip kayak orang cacingan.
Rio pun langsung menunjukan ekspresi tubuhnya yang mulai merinding saat debo mulai menatap genit ke arahnya. ”amit-amit deh aku. Udah sono kamu pergi, deh. Tadi kan kamu emang udah berniat mau pergi. Hussssh.”
”ih, kak rio jahat deh sama debo,” kata debo masih dengan suara yang super genit. Wajah rio makin masam. Lalu debo tertawa terbahak-bahak lagi. ”tenang aja kali, kak. Aku masih normal.”
”kirain. makanya punya cewek dong, de,” ledek rio sambil meminum air mineralnya.
”iya deh yang punya cewek,” cibir debo, tapi entah kenapa, cibiran itu membuat hati rio sakit. ”o, ya, aku mau ke rumah kak Sify nih. Kakak ikut nggak?”
Dengan mantap rio menggeleng lalu meninggalkan debo yang terbengong-bengong melihat mata rio yang sudah memerah. Tapi, dihiraukannya masalah itu dan langsung melanjutkan perjalanannya lagi ke rumah Sify.

^0^
Debo terpaku saat tiba-tiba Sify memeluk tubuhnya dan kemeja debo basah, rupanya Sify menangis. Debo berusaha menenangkan gadis itu dengan cara mengelus-elus punggungnya dan kadang juga membelai rambutnya. Debo shock. Bagaimana tidak, saat ia baru datang ke rumah Sify, tiba-tiba saja ia disambut oleh mata merah ify dan juga pelukan hangat namun terasa menyakitkan dari Sify.
”kak Sify kenapa? Ayo deh kita masuk dulu. Ntar kak Sify cerita sama aku ya,” kata debo lembut dan membopong Sify yang tengah lemas itu masuk, seakan ia tuan rumahnya. Maklum, mereka tadi sedang berada di luar gerbang saat melakukan adegan pelukan.
Setelah duduk dengan tenang dan tangisan Sify sedikit mereda, debo pun mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Sify lembut. Sify kaget dan merasa ada yang aneh dengan genggaman debo, tapi entah kenapa Sify merasa nyaman dengan genggaman itu. Terasa hangat dan menyenangkan.
”emmm... sekarang kakak udah bisa cerita?” tanya debo sambil terus menggenggam tangan Sify. Air muka Sify berubah lagi. Segenang air mata muncul lagi di kedua matanya. Debo langsung panik dan mempererat genggaman tangannya lagi pada Sify. ”kalo kak Sify nggak bisa cerita juga nggak apa-apa kok. Aku nggak maksa. Tapi kak Sify jangan nangis lagi dong.”
Sify menggeleng lemah. ”nggak kok de. Aku mau cerita.”
Debo mengangguk dan menunggu sampai Sify siap. Namun, setiap Sify ingin mengucapkan sepatah kata dari mulutnya, tanpa Sify sadar air mata pun jatuh membasahi pipinya. Berkali-kali pula debo membantu Sify mengusap air matanya.
”aku... aku... aku putus sama rio,” kata Sify sambil terisak. Hampir saja debo menyenggol vas bunga yang berada di sebelahnya karena kaget.
”kok bisa?!” jerit debo kaget dan langsung melepaskan genggaman tangannya dari Sify. Sify akan menangis lagi. Dengan sigap, debo pun menggenggam erat tangan Sify lagi. ”maaf, maaf. Aku Cuma kaget aja kak. Emm,,, ngomong-ngomong.... kenapa kakak bisa putus sama kak rio? Bukannya kalian saling sayang?”
”aku... aku... aku... aku takut... aku takut kalo... kalo aku... semakin sayang sama rio,”isak Sify membuat debo mempersempit jaraknya dengan Sify dan membiarkan Sify menangis sepuasnya di bahu debo.
”kenapa takut?” tanya debo yang kemudian merasa sesuatu mampir di pikirannya. ”apa karena prinsip kakak itu? Kalo, sesuatu tak ada yang abadi? Kayak lagu kesukaan kakak itu?”
Sify mengangguk. Lalu melepaskan tubuhnya dari pelukan debo dan menatap debo nanar. ”iya. aku... aku takut.. kalo aku semakin sayang sama rio... aku... aku bakalan susah ngelepas rio. Dan... dan.. dan aku takut... kalo... kalo udah sayang banget sama rio... aku... aku takut bakalan... bakalan kehilangan dia. Lagipula hati kecil ku bilang... kalo.. kalo aku harus ngelepas rio. Kan ada yang bilang... kalo... kalo hati kecil itu... murni perasaan... perasaan kita sendiri.”
”tapi, kak rio itu sayang banget sama kak Sify. Aku yakin, dia juga nggak bakalan tega ninggalin kak Sify,” kata debo lagi sambil membelai kepala Sify lembut. Sify segera menghapus air matanya yang mulai terjatuh lagi.
”aku... aku tahu. Tapi, kan nggak selamanya juga rio bakalan ada untuk aku. Dia... dia pasti bakal ninggalin aku juga. Seperti papa... ninggalin mama,” kata Sify lirih dan mulai dapat mengontrol air matanya.
Debo mengerti maksud Sify. Papa Sify sudah meninggal, meninggalkan Sify dan keluarganya untuk selamanya. Memang sih, semua tak ada yang abadi. Tapi, menurut debo, Sify sudah keterlaluan. Masa mengorbankan kabahagiannya sendiri hanya karena prinsipnya yang super, duper gak masuk akal itu.
”kak Sify,” panggil debo tiba-tiba membuat Sify tersentak. ”coba pejemin mata kak Sify.”
”buat apa?” tanya Sify yang bingung.
”ini emang agak jadul sih, tapi katanya kalo kita mejemin mata, orang pertama yang kita lihat itu adalah orang yang kita bener-bener sayangi. Nah, mungkin aja ada orang lain yang muncul pas kak Sify pejemin mata. Dan itu juga merupakan alasan kenapa kak Sify mutusin kak rio,” jelas debo sambil terkekeh.
Sify mengangguk mengerti. Dia sudah sering mendengar kata-kata itu di sinetron maupun di novel dan cerpen yang ia baca. Sify juga belum pernah mencoba hal itu. Jadi, apa salahnya mecoba. Dengan mantap, Sify pun memejamkan matanya. Debo menatap Sify penasaran. Apalagi saat Sify memejamkan mata, Sify seperti sedang terkaget-kaget. Setelah agak lama, Sify pun membuka matanya.
”siapa kak yang muncul?” tanya debo sambil menatap Sify yang terlihat ragu.
”eng... wajahnya nggak jelas, de. Kabur,” kata Sify namun dengan penuh keraguan. ”emang kamu yakin, de, orang yang kita lihat kalo kita merem gitu, itu tandanya bener-bener orang yang kita sayang?”
”ya, kata orang-orang sih gitu. Tapi, nggak tahu-lah,” kata debo ikut-ikutan bingung sambil menggaruk-garuk kepalanya karena gatal sekaligus bingung.
Sify mengangguk mengerti. Lalu menatap wajah debo yang sedang memikirkan sesuatu. Dan lama-lama ada suatu pikiran janggal di benak Sify. Ia merasa wajah debo terlihat sangaaaaaaaaaat manis. Padahal selama ini, Sify sering melihat wajah debo, memang debo itu manis, tapi tidak semanis saat Sify melihat debo sekarang ini.
”kak Sify,” panggil debo sambil menerawang ke langit. Sify langsung mengalihkan pandangannya dari wajah debo. Sify merasa ada sesuatu yang menyenangkan dalam dadanya. ”aku mau kasih hadiah buat kak Sify.”
”hah? Apaan?” tanya Sify yang sebenarnya tak sepenuhnya mendengar kata-kata debo. Masih sibuk dengan debaran menyenangkan di dadanya.
”aku pengen buktiin ke kak Sify, kalo ada sesuatu yang abadi!” kata debo mantap sambil menatap Sify yakin.
”apa?!” teriak Sify kaget. Ia baru sadar apa yang debo katakan sejak tadi. ”emang ada apa sesuatu yang abadi?”
”ada. Dan aku bakalan buktiin ke kak Sify,” kata debo masih seyakin tadi. Sify mengerutkan keningnya.
”apaan tuh? Jangan bikin aku penasaran deh,” paksa Sify yang sangat penasaran.
”jangan sekarang. Nggak seru lagi. Nanti aja deh kalo aku selesai ujian nasional,” jawab debo enteng membuat Sify gemas dan tak sabar. Tapi, nanti juga dia pasti tahu.
”oh, iya ya. Besok kamu udah UAN. Si ozy juga kan?” tanya Sify sambil menatap debo yang mengangguk santai. ”si ozy... bukannya belajar malah jalan tuh sama si acha. Kamu juga tuh, bukannya belajar, malah mampir ke sini.”
”hehehee. Niat aku ke sini kan pengen belajar sama ozy. Eh, ternyata ngeliat kak Sify lagi nangis. Terpaksa deh aku hibur,” ledek debo membuat Sify merengut.
”jadi terpaksa nih?” sindir Sify. Debo pun terkekeh.
Tak berapa lama, ozy pun datang dengan membawa sekantong plastik belanjaan. Sify terlihat girang melihat ozy dan membantu ozy membuka gerbang pagar rumahnya, dan memasukkan motornya ke dalam garasi. Sify sudah melupakan masalahnya sejenak. Ozy adalah adik ify yang keberulan satu sekolah bahkan satu kelas sama debo. Ozy dan Sify hanya berbeda satu tahun. Ozy kelas 3 smp dan ify kelas 1 sma.
”eh, debo. Jadi belajar bareng?” tanya ozy saat sudah berada di hadapan debo.
”jadilah. Kasihan tuh debo udah nungguin kamu dari tadi,” kata Sify sambil membawa barang-barang belanjaan ozy ke dalam.
”yeee, perasaan tadi gue nanya lo deh, de. Kenapa kak Sify yang jawab?” tanya ozy bingung lalu melepaskan kedua sepatunya. ”yok, ke dalem.”
Debo mengangguk lalu masuk ke dalam rumah Sify yang sedang bersama tante gina. Debo tersenyum malu pada tante gina, ingat kejadian waktu itu. Sementara tante gina udah mesem-mesem nggak karuan. Ozy menatap debo dan mamanya aneh, namun ia tak begitu mempedulikannya.
Mereka pun memulai pelajaran mereka hari itu. Senin waktunya mereka akan menjalani UAN selama 4 hari. Dimulai dengan pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan diakhiri dengan IPA. Ozy juga sempet meledek Sify saat Sify membawakan sirup untuk debo. Setau ozy, Sify itu paling males nyiapin apapun untuk tamunya. Tapi, saat ada debo, Sify berubah jadi rajin. Pokoknya sore itu menjadi hari ozy untuk meledek debo dan Sify deh. Tapi, tetap saja debo dan ozy menjalankan acara belajar bersamanya.

^0^
Hari ujian sudah selesai. Dan kali ini, Sify menunggu kedatangan debo dan ozy yang berjanji men-traktirnya karena sudah selesai ujian. Kebetulan sekarang Sify sedang libur. Anak kelas 3 dan kelas 2 sma sedang study tour, jadinya kelas 1 nya di liburkan saja. Lagian pasti banyak anak yang malas masuk karena beberapa guru juga ikut.
Sify sedang duduk santai sambil membolak-balik majalahnya. Tanpa sengaja, ia merobek sedikit bagian dari majalah itu. Sify mencoba menyambungnya supaya tak begitu terlihat, tapi saat Sify mau membetulkan majalahnya, sebagian dari kertas itu malah robek. Ify pun jadi malas membaca majalah itu.
Saat ify melihat dari jauh, ia melihat motor ozy yang sudah terparkir di depan rumahnya. Ozy membuka helm-nya, dari wajahnya terlihat kalau ozy sedang panik.
”zy, kok sendirian? Debo mana? Jadi nraktir kan?” tanya Sify tak mempedulikan wajah ozy yang terlihat sangat panik.
”debo, debo... udahlah. Mending sekarang kakak cepetan naik deh! Sini!” perintah ozy yang tak sanggup mengatakan apapun lagi.
”debo? Debo kenapa? Terus kenapa aku harus naik ke motor kamu, sih,” kata Sify bingung melihat wajah ozy yang sudah merah padam.
”udah cepetan!” bentak ozy membuat Sify tersentak kaget. Sify pun mendekati motor ozy dengan wajah ketakutan. Ozy sadar ia telah melakukan suatu kesalahan. ”maaf, kak. Tapi ini penting banget. Nanti aku ceritain di sana kalo udah sampe.”
”emang kita mau ke mana?” tanya Sify dengan ragu.
”rumah sakit,” jawab ozy singkat.
Sify tidak bertanya apa-apa lagi setelah itu karena ia harus berkonsentrasi pada pegangannya ke kemeja ozy. Habis, ozy mengendarai motornya kayak nggak ngeliat lampu merah, ngebut banget. Pembalap F1 aja kalah.

^0^
Ozy segera memarkirkan motornya dan menarik tangan Sify paksa menuju ke dalam rumah sakit. Sify sih Cuma pasrah aja. Ingin bertanya, tapi takut kena amukan ozy. Ternyata ozy adik semata wayangnya ini kalau sedang marah sangat menyeramkan. Setelah, menanyakan informasi pada administrasi, ozy pun segera berlari menuju ruangan yang diberi tahu suster itu.
”kakak nggak pengen nanya ngapain kita ke sini?” tanya ozy saat mereka berada di dalam lift.
”yah... pengen sih. Tapi kakak takut di bentak lagi sama kamu. Serem,” jawab Sify sambil bergidik ngeri.
”maaf, kak. Tapi ini gawat banget,” kata ozy sambil mengusap peluhnya yang sudah membanjiri wajahnya dan juga seragamnya.
”gawat kenapa?” tanya Sify sambil keluar lift bersama ozy karena sudah sampai di tempat yang mereka tuju.
”debo kak, debo,” ozy mulai panik lagi. Kemudian, ozy menarik nafasnya dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya. ”debo, tadi pas udah selesai ujian, tiba-tiba dia kayak tidur gitu dan nggak bangun-bangun biarpun udah di panggil-panggil. Terus, karena penasaran, pengawas pun ngedeketin debo. Dan ternyata setelah di periksa, jantung debo udah lemah banget. Nafasnya aja suka ada suka enggak. Langsung aja deh dia dibawa ke rumah sakit. Dan, di kertas ujian debo, ada nama kakak ditulis di situ. Ya udah, aku langsung panggil aja kakak. Aku juga udah telepon kak rio, katanya dia mau ke sini.”
Sify merasa tubuhnya terasa lemas. Badannya pun limbung, untung ada ozy yang sigap menangkap tubuh kakaknya itu. Air mata Sify langsung terjatuh dan saling berkejar-kejaran membasahi pipinya. Ozy berusaha menyeimbangkan tubuh Sify yang semakin melemah. Ozy semakin tidak kuat dan hampir saja jatuh kalau rio tidak datang tiba-tiba membantu ozy menyeimbangkan tubuh Sify.
Ozy dan rio pun memapah tubuh Sify menuju ke depan sebuah ruangan, tepat di mana ruangan itu dihuni debo. Orang-orang yang berada di depan ruangan itu rata-rata sedang menangis. Ada juga alvin, kakak dari debo yang terlihat cool, namun ternyata turut menambahkan suasana berduka di ruangan itu.
Entah ada kekuatan dari mana, tiba-tiba Sify segera berlari menghampiri tante halimah, mama debo. Ozy dan rio yang masih takjub pun mengikuti Sify yang tiba-tiba menjadi kuat kembali, berlari mendekati tante halimah. Tante halimah menatap Sify dengan mata sembab-nya. Kemudian, tante halimah mencoba tersenyum paksa pada ify. Sify mengelus-elus punggung tante halimah, mencoba menenangkan, walau ternyata dirinya sendiri juga tak bisa tenang.
”tante, tante, debo... debo... debo keadaannya gimana tante? Apa... apa semakin... semakin parah?” tanya Sify panik tak bisa menahan air matanya.
”debo, debo...... debo.......... debo........ udah nggak ada,” kata tante halimah dengan suara tercekat. Tangisnya juga semakin parah.
Sify serasa mau pingsan. Ozy dan rio juga tersentak sangat kaget. Jantung mereka berdetak sangat cepat. Rio dengan sigap kembali menahan tubuh Sify yang kembali limbung. Namun, kali ini Sify tidak terlalu lemas seperti tadi. Ia masih bisa menahan tubuhnya walau hanya sedikit. Jadi, rio tak sepenuhnya menahan beban tubuh Sify.
Dengan sedikit kekuatan yang Sify miliki, Sify pun berlari ke ruangan debo tanpa mempedulikan apapun lagi. Air mata Sify kembali meleleh saat melihat tubuh debo sudah terbujur kaku, matanya terpejam, namun senyuman manisnya masih setia menghiasi bibirnya. Sify pun menggenggam tangan debo yang sudah mulai terasa dingin itu.
”debo,” panggil Sify lirih, kemudian terjatuh karena kakinya terasa lemas. Tapi, tangannya masih menggenggam erat tangan debo. ”mana janji kamu?! Mana?! Katanya kamu mau nraktir aku abis ujian?! Katanya kamu mau buktiin kalo ada sesuatu yang abadi?! Tapi mana?! Kamu aja ninggalin aku secepat ini! Kamu jahat debo! Kamu jahat!”
”kak Sify,” tiba-tiba ozy sudah muncul di belakangnya sambil menyerahkan amplop surat di sebelah Sify. Tangan Sify gemetar saat memegang surat itu. ”tadi pas selesai ujian, aku ngeliat surat itu di atas meja debo. Ya, aku ambil aja, karena saat aku liat, surat itu buat kak Sify. Kak Sify baca sekarang ya.”
Sify mengangguk lemah. Lalu mencoba berdiri dengan kakinya. Lalu membuka surat itu perlahan-lahan.

Hai, kak Sify, hehe,,,
Mungkin kak Sify lagi nangis pas baca surat ini,,,
Hehehe,,,

Kak, mungkin di surat ini, debo pengen ngucapin kata perpisahan untuk kak Sify,,, maaf yah kak, debo nggak cerita-cerita sama kak Sify, kalo debo punya penyakit jantung,,, hehehe,,, yah, di vonis dokter bahwa hidup debo nggak bakalan lama lagi, dan debo sadar akan hal itu,, tapi, debo ikhlas kok menjalani hidup yang udah Tuhan kasih ke Debo.
Jujur dari lubuk hati debo, debo sayaaaaaaaaaang banget sama kak Sify. Bukan sayangnya seorang adik ke kakaknya, tapi lebih. Yah, bisa dibilang itu cinta. Udah beberapa kali debo berniat untuk nembak kak Sify, tapi kasihan, nanti kak Sify mati. Hahahahaha,, bercanda kak.
Aku gagal terus untuk nyatain cinta ke kak Sify karena aku takut kalo kakak nggak mau pacaran sama aku karena aku lebih muda dari kakak. Mungkin aja kakak malu kan pacaran sama berondong. Hehehe...
Jujur nih kak, hati aku sempet sakit banget waktu kak Sify bilang udah jadian sama kak rio. Dan wajah kak Sify juga keliatan bahagia banget. Tapi, akhirnya aku berhasil menutupi rasa sakitku itu dengan selalu ada di deket kak Sify. Dan ternyata aku cukup bahagia dengan hal itu. Aku bahagia kalo kak Sify juga bahagia. Ah, kata-kata lama emang, tapi ternyata kata-kata itu bernilai ajaib loh.
Waktu kakak cerita kalo kakak putus sama kak rio, entah apa yang ku rasain, sedih apa seneng. Aku juga bingung. Tapi, aku lega karena keputusan yang kak Sify ambil. Apalagi, semenjak itu, kak Sify jadi lebih perhatian sama aku. Seneng deh kak. Hehe.
Dan aku berniat kalo aku akan meninggal saat aku sudah menyelesaikan ujian. Perjuanganku melawan sakit jantung itu emang bener-bener luar biasa sakitnya, kak. Tapi, aku tetep berniat untuk bisa menyelesaikan ujian.
Maaf ya kak janji palsu soal nraktir kakak, aku udah nggak kuat nahan rasa sakitnya kak. Cape banget. Minta traktirnya nitip sama Ozy aja ya kak. Hehe. Tapi tenang, aku tetep bakal buktiin kalo ada sesuatu yang abadi.

Sesuatu yang abadi itu adalah rasa sayang aku ke kakak. Aku udah buktiin hal itu. Aku tetep cinta dan sayang sama kakak bahkan walau kakak udah jadi milik seseorang. Aku sayaaaaaaaaaang banget sama kakak. Bahkan, sampai saat aku nggak ada, aku bakal terus sayang sama kakak. Dan kasih sayang itu bakalan terus abadi.
Seperti papa kak Sify, mungkin papa kak Sify nggak bisa abadi berada di sisi kak Sify, tapi aku yakin, rasa sayang papa kak Sify ke kakak, tante gina, bahkan ozy akan terus abadi. Jadi, jangan pernah berpikir kalo nggak ada sesuatu yang abadi. Ada kok yang abadi.

Salam juga ya kak buat ozy, kak rio, dan tante gina. Maaf kalo aku pergi tanpa pamit. Dan inget kak, lupain prinsip kakak kalo ’tak ada yang abadi’, aku udah buktiin kan kak kalo ada yang abadi. Sekian dulu deh kak surat dari aku. Pegel nih nulisnya juga. Hehe.

Salam sayang dari debo untuk kak Sify tercinta dan semua orang :D


Sify tak bisa menahan air matanya lagi saat ini. Isakan keras Sify pun mulai memenuhi ruangan itu. Sify nggak nyangka kalo selama ini debo menyukainya, lebih dari seorang sahabat. Sify menatap tubuh debo lagi yang tengah tersenyum, senyum penuh kedamaian. Dengan gerakan cepat, Sify membuang kertas itu seenaknya dan memeluk debo dengan erat. Tubuh itu sudah dingin, namun masih terasa hangat di hati Sify.
Ozy dan rio yang mendengar isakan keras Sify langsung mengambil surat yang ify buang dan membaca isinya. Ozy dan rio sampai terperangah, tak menyangka kalau debo ternyata menyukai Sify. Ozy dan rio juga tak kunjung dapat menahan air matanya dan mendekati mayat debo dan menggenggam erat tangannya.
”de, kenapa kamu nggak bilang kalo kamu suka sama Sify?” tanya rio pada debo sambil mengacak-acak rambut debo. Kalau debo masih hidup, pasti debo akan marah sama rio. ”dasar, anak bodoh.”
”emang, debo bodoh. Masa, kamu juga nggak cerita sama aku, kalo kamu punya penyakit jantung? Aku kan bisa ngebahagiain kamu di saat-saat terakhir,” kata ozy sambil menelungkupkan kepalanya di atas tangan debo, mencoba untuk menyembunyikan air matanya.
”de... kenapa... kenapa kamu nggak bilang kalo kamu suka sama aku. Asal kamu tahu ya, de... waktu... waktu kamu nyuruh aku pejemin mata dan kamu bilang kalo aku pejemin mata dan ngelliat seseorang, berarti itulah orang yang sangat aku sayang. Dan... dan kamu harus tahu... saat aku mejemin mata... yang muncul itu malah wajah kamu. Awalnya aku nggak menyadarinya. Tapi, tapi... tapi ternyata, aku emang sayang sama kamu,” isak Sify sambil terus memeluk mayat debo.
”permisi,” kata seorang suster yang tiba-tiba muncul di sebelah ozy. ”debonya mau di mandiin dulu.”
Dengan berat, ozy, rio, dan Sify melepaskan tubuh debo. Mereka merasa kehilangan sesosok yang berharga saat itu. Ini saatnya mereka harus kehilangan sosok jahil, selalu ceria, pinter ngelawak, bawel itu, untuk selamanya.

^0^
Saat jenazah debo dimasukkan, tangis riuh langsung menghampiri suasana siang itu. Tentu saja Sify dan tante halimah yang menangis paling keras. Rio dan ozy menangis tanpa suara, namun air matanya mengucur deras. Sedangkan alvin, kakak debo yang tengah duduk di bangku kuliah ini, tampak tak sedikitpun mengeluarkan air mata. Hanya genangan air mata yang berada di pelupuk matanya, tak berhasil menetes karena alvin dengan cepat menghapusnya. Rupanya, kematian debo membuat semua orang terluka. Teman sesekolah debo pun rata-rata hadir. Tante halimah sangat surprise. Ternyata anaknya telah menjadi sosok yang sangat berarti di manapun ia berada.
”tante, rio, ozy, kak alvin,” panggil Sify dengan suara serak saat semua orang yang menghadiri pemakaman debo sudah pada pulang. ” Sify mau ke halte deket sini dulu ya. Ke tempat kenangan debo sama Sify waktu kecil.”
”ya udah sana. Kak alvin sama lainnya tunggu di sini ya,” kata alvin mewakili semuanya karena sedang sibuk meratapi kepergian debo.
Sify mengangguk lalu meninggalkan pusara debo dan segera menuju ke halte, tempat yang sangat ingin dikunjunginya. Tempat pertama kali Sify bertemu dengan debo. Memang, gak elit banget sih, tapi itulah kenyataannya. Di tempat ini, debo berani membela Sify saat Sify sedang di ganggu oleh anak-anak SMP. Waktu itu, ify sedang duduk di kelas 3 SD, sedangkan debo masih kelas 2 SD. Dengan berani dan gaya ngebanyol-nya, debo berani membela Sify yang ujung-ujungnya debo yang malah menangis karena permennya di ambil oleh anak SMP itu. Gantian Sify yang membelanya. Sify tertawa kecil saat mengingat masa-masa itu.
Sify pun duduk di bangku halte itu, di sebelah seseorang yang sedang membaca koran dengan asyiknya. Sify pun mengamati sekitar halte itu, sampai ia melihat sesosok orang aneh yang tiba-tiba duduk di sampingnya. Orang itu menatap genit ke arah Sify. Sify mulai merinding. Apalagi, saat Sify melihat sosok laki-laki itu mengenakan tatto yang bergambar tidak senonoh.
Sify mencoba mengalihkan pandangannya menuju ke arah langit, dan kembali mengenang peristiwa yang ia lalui bersama debo. Entah kenapa, kali ini Sify sangat ingin tersenyum. Ia seperti melihat debo tersenyum di awan yang berarakan itu.
Tapi, tiba-tiba, orang aneh di sebelah Sify itupun memeluk ify erat secara tiba-tiba. Kemudian, orang aneh itu tersenyum padanya masih dengan jenis pelukan yang sama. Sify ingin berteriak, tapi kalau dalam keadaan panik begini, Sify malah tidak bisa melakukan apapun selain menangis. Sify mencoba meminta pertolongan orang di sebelahnya yang sedang membaca koran dengan seriusnya. Tapi, tak ada respon dari orang itu karena Sify juga tak bisa mengeluarkan suara sedikitpun. Orang aneh itu makin menikmati pelukannya. Sify ingin meminta tolong orang yang lewat, tapi saat itu sedang sepi jadi tak ada seorang pun yang lewat. Sify makin pasrah, menunggu keajaiban yang datang.
”pak polisi! Ada dua orang yang berbuat tidak senonoh itu di sini, pak! Mengganggu ketenangan dan ketentraman saya nih, pak!” teriak seseorang di sebelah Sify yang akhirnya memalingkan wajah dari korannya itu tiba-tiba. Sify dan orang aneh itu pun melirik ke arah orang itu dengan tatapan heran sekaligus terkejut. Sify makin terkejut saat melihat wajah orang itu.
”tenang, tenang! Kamu kesini!” teriak seseorang lagi, namun dengan suara yang agak mendelep. Sify menoleh ke sekitar tapi tak ada siapapun.
Berbeda dengan orang aneh itu yang langsung panik dan melepaskan pelukannya dari Sify. Kemudian, ia lari tunggang langgang tanpa mempedulikan arah. Orang yang wajahnya sempet membuat Sify terperangah itupun langsung tergelak geli.
”hahahaha! Dasar penjahat, dodol! Masa Cuma sama rekaman suara dari hp aja takut!” kata orang itu tak bisa menghentikan tawanya. Sify yang melihat orang itu kembali terperangah saat melihat gaya bicaranya mirip dengan sosok yang sangat ia kenal.
”ehm, makasih ya,” kata Sify dengan suara lembutnya membuat orang itu menoleh ke arahnya dan tersenyum manis. Sify pun mengulurkan tangannya. ”kenalin, gue Sify.”
”hehehe. Sama-sama. Kenalin nama gue arya,” katanya yang ternyata bernama arya sambil membalas uluran tangan Sify.
Sify terperangah kembali, wajah, senyumannya, ketawanya, gaya bicaranya, sangat mirip seseorang yang mulai saat ini sangat ia sayangi melebihi siapapun, ya, dia adalah DEBO!!
”lo... lo... lo sering ke sini?” tanya Sify dengan terbata-bata karena masih sangat terkejut.
”hemmm, di bilang sering sih juga enggak, tapi kalo di bilang jarang juga enggak,” jawab arya setelah sebelumnya berpikir sebentar.
”jadi kadang-kadang doang?” tanya Sify lagi tak bisa menghentikan senyumannya. Ia merasa telah menemukan sosok debo yang baru.
”iya, enggak juga sih,” kata arya dengan wajah polosnya. Sify ingin tertawa geli, tapi ditahannya itu semua. Sify nggak mau nyinggung perasaannya arya.
”kak Sify! Ayoooo balik!” teriak seseorang dari seberang sana. Sify menoleh dan menatapi sosok ozy dengan wajah kecewa. Ia masih ingin bersama arya.
”ya, gue pamit dulu, ya. Udah di panggil sama adek gue tuh,” pamit Sify sambil tersenyum lemas.
”oh, iya,” kata arya yang lalu melambaikan tangan ke arah Sify kemudian tersenyum lebar. ”semoga kita ketemu lagi.”
”gue yakin kita ketemu lagi. Kita kan jodoh,” kata Sify yang langsung berlari ke arah ozy, alvin, rio, dan tante halimah sambil menyembunyikan semburat merahnya. Arya sempat terbengong sebentar, tapi kemudian tersenyum dan kembali menekuni korannya.
Sify berlari dengan wajah sumringah, membuat rio dan ozy terbengong-bengong.
”ayo balik. Dan tante, jangan sedih mulu, dong. Kayak Sify nih yang udah berubah ceria. Debo akan selalu ada di sisi kita kok, bukan hanya dalam wujud sayangnya kepada kita, tapi juga dalam wujud nyata,” kata ify yang langsung meloncat riang ke arah mobil milik tante halimah itu.
Semua langsung terbengong-bengong dan bertatapan satu sama lain melihat perubahan Sify yang sangat pesat. Apalagi saat Sify mulai menyenandungkan lagu ’Akulah Dia’ yang mulai sekarang menjadi lagu favoritnya. Lagu tak ada yang abadi sudah ia lupakan jauh-jauh. Sify baru menyadari semua orang yang terpaku tanpa berbuat apapun.
”ye, bukannya pada masuk malah bengong,” tegur Sify membuat semuanya tersadar dan masuk ke mobil dengan tergesa-gesa. Sify menatap pemandangan aneh di depannya dengan heran, namun ia segera mengacuhkannya dan kembali menatap ke langit-langit.
Ia segera menyenandungkan suaranya lagi. Semua orang masih menatapnya heran, tapi kemudian mengacuhkan Sify dan terlihat senang dengan perubahan Sify –yang memang agak menyeramkan- dan tidak tenggelam lagi dalam kesedihannya. Setidaknya, itu lebih melegakan.
Sify menatap langit-langit yang kemudian seperti menampakkan sosok debo dan arya yang sedang berdiri berjejer dengan wajah dan senyum yang persis sama. Sify menemukan sosok debo baru di diri arya dan ify ingin mengenal arya lebih jauh. Dan kini, ify sendiri berniat untuk lebih agresif lagi, seperti debo lakukan dulu padanya. Walau ujung-ujungnya akan sakit hati. Sify kemudian tersenyum.
’debo, kamu udah buktiin semuanya ke aku. Kasih sayang kamu ke aku bakalan terus abadi sampai kapanpun. Kamu juga rela ber-reinkarnasi demi aku dalam wujud arya,’ batin Sify kemudian terkikik geli. ’kasih sayang aku buat kamu juga bakalan abadi kok, de.’
Tiba-tiba Sify merasa lelah dan kemudian terlelap. Di mimpinya, ia merasa bahwa arya adalah debo yang memang ber-reinkarnasi. Semakin bulatlah tekad Sify untuk mendapatkan arya dan mengenal arya lebih jauh lagi. Ia akan berusaha agar semakin dekat lagi dengan sosok arya yang merupakan debo kedua baginya. :D

Kesuksesan, kegagalan, keberuntungan, kesialan, bahkan kehidupan memang tak ada yang abadi. Tapi, kasih sayang orang yang sangat tulus kepada kita, akan terus tertanam dengan abadi di dalam lubuk hati kita. XD

up