17 Sep 2010

Don't judge the book just from the cover

 Oik memandang sekeliling toko buku itu bingung. Ia sedang mencari buku pelajaran yang diperintahkan oleh guru bahasa inggrisnya. Katanya buku itu ada di sini. Tapi, seharian berkeliling, Oik tak kunjung menemukan buku yang dicarinya.
 Untuk mengistirahatkan diri, Oik pun duduk di sebuah kursi yang kebetulan sedang kosong. Maklum, di toko buku biasanya kursi penuh oleh para pelanggan yang pengen baca gratis. Termasuk, Oik. Hehe. :P tapi sayang, buku yang di carinya tak juga ditemukan. Padahal kalau sudah menemukan yang cocok, Oik berniat membelinya.
 “Hai,” tegur seseorang saat Oik memijat-mijat kakinya yang pegal. Oik segera melihat kearah seseorang yang menegurnya. Orang itu tersenyum. Senyumnya, waduuh…. Manis banget. “Kenalin, nama gue Irsyad.”
 Oik masih takjub memandangi sosok di depannya. Wajahnya hitam manis. Senyumnya, waduuuh, nggak usah ditanya. Di antara pria lainnya, menurut Oik, cowok inilah yang auranya paling memancar di antara pria-pria lain. Sangking takjubnya, Oik sampai mengabaikan uluran tangan Irsyad.
 Irsyad menatap Oik bingung lalu meletakkan tangannya di atas dahi Oik. Oik makin terpesona. Dan belum juga tersadar dari awang-awangnya. Dan, malah terbang semakin menjauh.
 “Kamu kenapa? Sakit?” tanya Irsyad lembut. Oik belum tersadar. Irsyad tersenyum lagi dan malah semakin mendekatkan duduknya pada Oik. “Tapi, kok nggak panas, ya?”
 Oik segera mengulurkan tangannya. Irsyad memandang tangan Oik bingung, tapi kemudian segera mengerti dan menyambut uluran tangan Oik yang baru setengah sadar.
 “Oik,” ucap Oik dengan nada terpesona.
 Irsyad segera melepaskan genggaman tangannya dari Oik. Oik segera tersadar dan menyadari kebodohannya. Lalu tersenyum garing ke Irsyad yang sudah terbahak.
 “Kamu lucu,” ujar Irsyad sambil terbahak.
 ‘Lebih tepatnya… bodoh,’ batin Oik sambil manyun. Lalu memainkan kakinya, bingung mau membicarakan apa. Kesalahan di awal membuatnya jadi tak berminat utuk mendekati cowok ganteng ini lebih jauh lagi.
 “Oh, ya, kamu ke sini nyari buku apa?” tanya Irsyad setelah diam-diaman beberapa saat.
 “Nyari buku tentang drama bahasa inggris, nih. Kamu sendiri?” tanya Oik balik setelah berhasil menetralkan rasa malunya.
 “Aku lagi keliling-keliling aja, kok. Kebetulan, aku suka ke sini sambil nyari-nyari buku,” jawab Irsyad sambil melihat sekeliling. “Ngomong-ngomong, buku yang kamu cari udah ketemu belum?”
 Oik menggeleng lemah. Kembali teringat tugasnya. Kalo tugas itu nggak dikumpulin besok, bisa-bisa Oik disuruh nyanyi lagu Buka Hatimu nya Armada pake bahasa inggris lagi. Memang sih, suara Oik nggak jelek-jelek banget, malah tergolong merdu, tapi masalahnya, Oik tuh paling nggak bisa bahasa inggris.
 “Mau cari bareng?” tawar Irsyad langsung sumringah. Oik pun segera mengangguk semangat. Sangking semangatnya, leher Oik hampir saja keseleo.
 “Syad!” tegur seseorang sambil menepuk bahu Irsyad.
 Kontan Oik dan Irsyad langsung menoleh ke belakang. Oik kembali terperangah. Ternyata, seseorang yang menegur Irsyad tadi wajahnya ganteng banget. Mirip artis-artis korea. Matanya sipit, kulitnya putih, hidungnya mancung. Cocok lah jadi saingannya Kim Bum.
 “Eh, Alvin,” sapa Irsyad lalu berdiri menghampiri cowok korea yang ternyata bernama Alvin.
 “Oh, ya, kenalin, ini temen baru gue Oik,” kata Irsyad memperkenalkan Oik pada Alvin. Alvin segera tersenyum pada Oik.
 “Alvin,” sapa Alvin tanpa mengulurkan tangannya dan tetap memasukkan tangannya ke saku. Kayaknya nih cowok cool banget. Senyum aja senyum irit. Tapi sebodo amat, yang penting dalam sehari ini, Oik bisa kenalan sama 2 cowok ganteng.
 “Oik,” balas Oik sambil berusaha tersenyum semanis mungkin.
 “Sorry, nih harus mengganggu kemesraan kalian berdua, tapi gue sama Irsyad harus pergi,” pamit Alvin dengan nada menggoda. Irsyad hanya tersenyum, sementara Oik juga ikut tersenyum tipis. Agak kecewa juga. Baru aja mereka mau jalan bareng. “Nggak apa-apa, kan?”
 Oik mengangguk lemas. Lalu memaksakan diri tersenyum.
 “Ya udah, Ik, gue duluan, ya. Semoga kita bisa ketemu di lain waktu,” pamit Irsyad lalu ber-tosan dengan Alvin sambil berjalan. Entah karena apa.
 Irsyad pun segera melambai pada Oik setelah menghilang dari pandangannya. Tapi tiba-tiba, wajah Irsyad memucat, begitu juga dengan Alvin. Mereka pun berlari-lari dengan panik. Oik hanya menatap mereka bingung.
 Baru saja Oik menatap Alvin dan Irsyad bingung, seseorang menepuk pundaknya. Oik tersentak dan segera menoleh kearah orang itu. Ternyata, itu adalah Obiet, teman satu sekolahnya di SMA 2. Oik menatap Obiet yang segera duduk di sebelahnya dan ngos-ngosan parah.
 “Biet, lo kenapa?” tanya Oik. Obiet segera memandang Oik khawatir, tapi Oik malah menatap Obiet bingung. “Ada apaan?”
 “Periksa tas lo, sekarang!” perintah Obiet galak dan berusaha menetralkan pernafasannya.
 Oik masih bingung. Tapi akhirnya, dituruti juga permintaan Obiet. Oik segera memeriksa isi tasnya. Semakin lama, semakin panik. Ia pun segera membongkar isi tasnya dan mengeluarkan semua isi tasnya yang memang tak begitu banyak. Wajah Oik berubah cemas. Matanya berkaca-kaca.
 “Biet… dompet gue ilang,” lirih Oik sambil terus mengecek isi tas-nya.
 Obiet menghela napasnya. Kasihan juga dia melihat sahabatnya kemalingan. “Lo sih nggak hati-hati. Main kenal-kenalan aja lagi sama orang yang nggak dikenal. Mereka berdua tuh maling di sini udah lamaaaaaaa banget. Cuma jarang ketangkep aja karena mereka larinya udah professional. Mereka ngincer orang baru kayak lo. Mereka juga memanfaatkan kegantengan mereka buat memudahkan pekerjaan mereka.”
 Oik langsung lemas seketika. pantesan tadi Irsyad deket-deket sama dia. Rupanya, tuh anak pengen ngambil dompet Oik. Wajahnya emang manis, tapi hatinya asem.
 “Terus dompet gue gimana? Gue nggak bisa pulang, nih. Gue juga harus beli buku pelajaran buat besok dan harus dikumpulin besok,” cerita Oik membuat Obiet tambah iba melihatnya.
 “Tadi sih Debo lagi ngejar. Semoga aja mereka ketangkep,” jawab Obiet sambil menepuk bahu Oik yang sedang lemah tak berdaya. “Makanya, lain kali hati-hati. Don’t judge the book just from the cover.”
 Oik hanya menunduk sambil memperhatikan isi tas-nya. Oik benar-benar menyesal. Kalau saja tadi dia lebih hati-hati dan nggak terhipnotis sama kegantengan Irsyad tadi, pasti nggak bakalan jadi begini. Mana tuh uang jajan selama sebulan lagi. Nggak bakalan bisa minta lagi dah sama orang tuanya karena mereka memang nggak bakalan ngasih.
 Tak berapa lama, Debo pun datang dengan nafas tak beraturan. Ia pun duduk di sebelah Oik sambil menatap Oik yang sudah tak bersemangat. Debo yang kebetulan sekelas dengan Oik, tahu persis perasaan Oik. Masalahnya, Debo juga ke sini sedang mencari buku bersama Obiet.
 “Gimana, De?” tanya Obiet pada Debo yang hanya bengong menatap Oik.
 Debo menatap Obiet sebentar, lalu menggeleng lemah. Ia menatap Oik yang sekarang sedang bercucuran air mata. Gimana nggak nangis, dia harus pulang naik apa kalo semua uangnya hilang tak bersisa. Kalau jalan kaki, rumah Oik juga jauh dari sini. Bisa bengkak mendadak nanti pas sampe di rumah. Gimana juga dia bisa nyelesein tugas dari gurunya kalo nggak ada uangnya.
 “Terus gue harus gimana? Gue nggak bisa pulang. Gue juga nggak bisa ngumpulin tugas, padahal kan besok udah dikumpulin. Mana sekarang udah jam 7 malem lagi,” kata Oik sambil sesenggukan.
 “Tenang aja, soal ongkos, gue yang bakalan nganterin lo pulang,” tawar Obiet membuat Oik menatap Obiet tak percaya.
 “Sementara masalah buku, gue pinjemin dulu deh duitnya,” tambah Debo yang membuat senyum Oik semakin sumringah. Oik pun segera memeluk kedua sahabatnya itu dengan kencang, sangat kencang. Obiet dan Debo sampai protes karena kesakitan. Tapi, Oik tak peduli. Ia masih terus memeluk kedua sahabatnya itu dengan erat.
 “Lo berdua emang sahabat gue yang paliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing baik!” puji Oik senang. Oik pun melepaskan pelukannya dan mencubit pipi Debo dan Obiet secara bersamaan. Debo dan Obiet kembali mengaduh kesakitan.
 “Kalo cara berterima kasih lo nyakitin gini, mah, ogah gue tolongin,” keluh Debo sambil memegangi pipi chubby-nya yang memerah. Disetujui dengan anggukan Obiet.
 Mata Oik kembali berkaca-kaca membuat Debo dan Obiet langsung menatap Oik bersalah.
 “Bercanda, kok, Ik. Jangan nangis, ya,” hibur Obiet sambil mengusap-usap kepala Oik.
 Oik kembali tersenyum sumringah dan tertawa-tawa. Obiet mulai merasa kalau dirinya sedang dikerjai oleh sahabatnya ini. Kemudian, Oik menggandeng tangan Obiet dan Debo mengelilingi toko buku untuk mencari buku yang dicarinya.
 “Coba duit gue nggak ilang, gue kan pengen sekalian beli novel ini,” kata Oik sambil memegang sebuah novel teenlit.
 “Makanya, hati-hati. Luarnya bagus, belum tentu dalemnya bagus. Emang lo nggak diajarin sama nyokap lo untuk nggak deket-deket sama orang yang baru dikenal? Adek gue aja ngerti,” omel Debo membuat Oik manyun.
 “Pokoknya lain kali.. lo harus hati-hati,” nasihat Obiet dengan nada lembut membuat Oik tambah manyun.
 “Heran deh, gue punya sahabat, cowok lagi, cerewetnya melebihi guru-guru di sekolahan,” cibir Oik, tapi kemudian ia tersenyum. “Tapi, makasih ya, berkat kejadian ini, gue tahu kalo lo berdua adalah sahabat gue paling baik di dunia. Hehe. Makasih, ya.”
 Debo dan Obiet saling berpandangan sambil tersenyum misterius. Dengan kompak, mereka pun mencubit kedua pipi Oik secara bersamaan. Oik pun segera melepaskan tangan Debo dan Obiet dari pipinya. Oik mengelus pipinya yang sekarang sudah memerah dan sakit.
 “Tuh kan, mendingan sama kita. Biarpun kita nggak lebih imut dari mereka, tapi hati kita baik, ya nggak, De?” tanya Obiet membuat Debo segera menggeleng cepat. Obiet menatap Debo bingung.
 “Gue sih merasa kalo gue lebih imut dari mereka. Lo aja kali yang merasa begitu,” jawab Debo membuat Obiet dan Oik terbahak.
 Pokoknya, jangan pernah menilai seseorang dari luarnya. Ibaratnya, lain di mulut, lain juga di hati. Waspadalah, waspadalaaah! Hehe. :P

2 komentar:

Ziyad mengatakan...

NGAKAK BACANYA!! WKWKWKWK!!

yossyozy mengatakan...

wkwkwkwkkwk :D


up