13 Sep 2010

ada yang abadi

Takkan selamanya, tanganku mendekapmu..
Takkan selamanya, raga ini menjagamu...

”Hai kak Sify,” panggil debo riang dan menghentikan senandung dari bibir mungil Sify.
”hai, debo. Loh, kok udah pulang sekolah?” tanya Sify heran saat melihat debo memakai baju bebas, bukan seragam. Biasanya kan debo main ke rumah ify pake baju seragam.
”ini kan hari sabtu, kak. Libur,” kata debo sambil mencubit kedua pipi Sify gemas. Sfy tersenyum malu.
”hehe. Kak Sify lupa. Maklum, udah tua,” kata Sify sambil memperlihatkan kembali senyumnya. Namun yang ini terlihat lebih manis. ”duduk, de.”
”nggak usah, kak. Lagian aku yakin bentar lagi kakak mau dijemput kan?” tanya debo jahil membuat semburat merah muncul di kedua pipi Sify.
”di jemput siapa?” tanya Sify sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.
”ah, nggak usah pura-pura nggak tau deh,” ledek debo sambil mencubit kedua pipi Sify, yang sepertinya sudah jadi kebiasaannya. ”sama ayang rio.”
”ah, debo. Nggak usah cubit-cubit deh. Aku tahu, aku emang imut, tapi nggak usah cubit-cubit dong,” kesal Sify sambil mengusap-usap pipinya. debo malah nyengir.
Tiba-tiba terdengar suara motor yang sedang diparkir di depan rumah Sify. Pengendara motor itupun membuka helm-nya dan merapikan rambutnya yang agak berantakan. Setelah itu, dia turun dari motor setelah sebelumnya berkaca di spion motor sambil membereskan rambutnya, lalu masuk ke dalam rumah Sify disertai senyum manisnya yang khas.
”hai, fy. Ayo berangkat?” ajak orang itu sambil tersenyum ke arah Sify. Lalu melihat debo yang juga tengah tersenyum padanya. ”eh, ada debo juga. Mau ikutan?”
Debo tersenyum kecil, lalu melirik Sify yang juga tersenyum padanya. Sepertinya sih, Sify juga barharap debo ikutan. Itu hanya dari pandangan debo semata. Entah apa itu kenyataan, atau hanya sekedar perasaan.
”nggak usah deh, kak. Nggak enak ganggu,” tolak debo halus dan tak lupa memberi senyuman manisnya pada rio juga Sify.
”nggak apa-apa kali, de. Kayak baru kenal aja,” kata Sify sambil membalas senyuman debo.
Debo menggeleng pelan. ”nggak ah. Nanti aku jadi pajangan doang lagi di sana. Udah, kakak-kakak kencan aja berdua. Apa jangan-jangan kalian takut kangen sama aku?”
SIfy dan rio pun langsung tertawa terbahak-bahak. Dengan gemas, Sify pun mencubit kedua pipi debo membuat debo berteriak kesakitan. Sementara rio mengacak-acak rambut debo yang membuat debo segera mendelik ke arah rio. Debo kan memang kesal kalau rambutnya di acak-acak setelah sebelumnya ia sudah pakaikan gel, katanya sih supaya terlihat lebih macho.
”kak rio sama kak Sify nih ya. Emang debo imut, nggak usah pake acara nyubit pipi sama ngacak-ngacak rambut deh,” keluh debo sambil membetulkan lagi posisi rambutnya. Lalu menatap jengkel ke rio dan Sify yang sedang tertawa melihat ekspresi manja debo. ”udah sana. Pergi!”
”ini juga udah mau pergi tanpa kamu suruh. Yok, fy,” kata rio yang kembali ingin mengacak rambut debo, namun kali ini debo berhasil mencegah tangan jahil rio menyentuh rambutnya. Debo tersenyum penuh kemenangan, sementara rio langsung memasang ekspresi manyunnya.
”ayo. Jangan kangen ya, de,” kata Sify yang langsung berlari setelah sebelumnya berhasil mencubit pipi chubby debo.
Debo ingin membalas. Tapi, apa daya saat Sify langsung menarik rio dan memaksa rio untuk segera menyalakan motornya dan berlalu dari sana. Debo ingin mengejar, tapi apa daya dia kalah cepat dari Sify yang sampai duluan ke motor rio. Debo makin kesal saat melihat Sify melambai padanya dan tersenyum mengejek.
Debo menatap motor yamaha r-15 merah milik rio yang mulai menghilang dari pandangannya. Debo menghela nafas panjang. Lalu, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang menggelikan dan akhirnya tertawa girang. Tawanya sangat girang sampai memekakan telinga.
”debo. Kenapa kamu ketawa kaya begitu?” tanya tante gina, mama Sify yang sudah berdiri di samping debo dan menatap debo bingung. ”ayo masuk. Temenin tante. Si Sify baru aja pergi kan?”
Debo langsung tersenyum salting. Dia mulai merasa kalau dirinya seperti orang gila. Debo pun segera menyalami tante gina. Entah apa maksudnya. Dan tiba-tiba langsung ngacir meninggalkan tante gina yang terbengong-bengong.
Debo yang tengah berlari langsung menoleh ke belakang, ke arah dimana tante gina berdiri. ”nggak usah tante! Udah sore! Debo pamit ya!”
debo yang tengah berlari cepat-cepat dan tergesa-gesa itupun ditatap heran oleh tante gina. Tante gina yang sedang kebingungan pun melihat ke arah jam tangannya yang jelas-jelas masih menunjukan angka sepuluh, dan angka sepuluh itu juga menunjukan masih pagi karena matahari masih bersinar dengan terangnya.
Tante gina pun segera menggeleng pelan lalu tertawa kecil melihat tingkah debo yang polos dan asal-asalan itu. Tante gina pun memasuki rumahnya dan mengunci pintu gerbang yang engselnya sudah mau patah.
’dasar anak kelas 3 smp jaman sekarang. Udah mau deket ujian kok malah pada aneh begitu ya. Apa karena mereka setres mau ngadepin ujian. Kasian,’ batin tante gina lalu tertawa geli. ’perasaan dulu Sify nggak gitu-gitu amat ah. Debo, debo.’

^0^
”sori, yo. Kayaknya... kita... mendingan...,” kata Sify terpotong. Sify pun menghelakan nafas untuk kesekian kalinya. Menenangkan hatinya, lalu menatap mata rio dalam-dalam. ”putus.”
Rio segera menyemburkan air jeruk yang sekarang sudah menghambur ke mana-mana. Rio memandang Sify tak percaya. Sedangkan Sify takut untuk menatap mata rio. Sify pun menunduk. Rio sama sekali tak percaya akan pendengarannya. Rio menelan ludah berusaha mencerna kata-kata Sify yang menurutnya sama sekali tak masuk akal.
”maksud kamu tuh apa? Kenapa tiba-tiba kamu minta putus? Salah aku apa? Atau... kamu punya cowok lain yang kamu sayang?” cerca rio sambil memegang pundak Sify yang sudah bergerak naik turun. Sify menangis.
Sify segera menggeleng pelan. Mulutnya seakan terkunci rapat. Kepalanya masih menunduk. Dia tak mau menatap wajah rio. Rio menatap sosok di depannya dengan pandangan iba. Lalu, ia memeluk Sify dan membopong Sify ke tempat yang lebih sepi. Kan nggak enak jadi pusat perhatian. Apalagi di sebuah mall.
Rio kembali memeluk Sify setelah sampai di loteng atas mall. Sify menangis semakin keras. Sementara rio masih bingung. Setalah agak lama rio membiarkan Sify menangis di pelukannya, Sify melepaskan pelukan rio yang terasa sangat hangat itu. Semakin lama berada di pelukan rio, semakin lama pula ia harus menyelesaikan ini semua.
”yo, aku... aku... aku minta putus,” kata Sify lagi dengan suara serak dan tertahan.
”tapi, kenapa?” tanya rio lagi. Walau hatinya sakit, tapi dari nada suaranya masih saja terdengar sangat lembut.
”aku... aku... aku... udah nggak... nggak... sayang lagi sama... sama... kamu,” kata Sify dengan suara tertahan.
Rio mengangguk. Hatinya sudah hancur berkeping-keping. Tapi, dia juga nggak bisa memaksakan kehendak. Itu adalah keputusan Sify. Keputusan yang harus diterimanya. Walau terasa sangat menyakitkan.
”oke deh kalo gitu. Aku juga nggak bisa maksain. Dan kalo itu mau kamu... kita... kita... kita... putus,” kata rio lirih. Berat rasanya mengatakan kata ’putus’.
Rio pun meninggalkan Sify yang masih terpaku. Air mata Sify kembali meleleh saat rio meninggalkannya. Semakin deras saat tahu kalau status nya dengan rio sekarang sudah sebatas teman. Hubungan yang ia pertahankan selama delapan bulan akhirnya selesai. Sify berjongkok dan menutup wajahnya dengan tangannya. Berusaha meredam tangisannya yang terdengar semakin keras.
Tiba-tiba sebuah tangan mampir di pundak Sify. Sify segera menghentikan tangisnya dan mengusap air matanya. Ternyata rio. Rio tersenyum pahit pada Sify, lalu membantu Sify berdiri. Dan membetulkan rambut Sify dan menghapus air mata Sify yang belum bersih sepenuhnya.
”nggak mungkin kan aku.... maksudnya gue, ninggalin kamu... eh, lo sendirian di sini,” kata rio masih tersenyum dan terlihat agak canggung. ”ayo pulang.”
Sify mengangguk dan menghindari tatapan rio yang lembut itu. Sify menyesal mengambil keputusan itu, tapi hati kecilnya berkata itu adalah keputusan yang terbaik untuknya. Sify mengikuti langkah rio dalam diam. Rio juga tak berkata apa-apa lagi saat dia mengantarkan Sify sampai ke rumahnya.

^0^
Seperti biasa, minggu pagi ini debo jogging keliling komplek sendirian. Dan seperti biasa pula perhentian terakhirnya adalah rumah Sify. Tak sengaja, debo melihat rio yang sedang asik memainkan basketnya namun dengan wajah yang tak seperti biasanya. Bahkan, rio yang jago basket itu, tak kunjung dapat memasukkan bola itu ke ring basket.
”kak rio!” panggil debo lalu berlari mendekati rio yang masih asik bermain di lapangan basket tengah kompleknya itu.
Rio segera menghentikan permainan basketnya dan menoleh ke arah debo yang tersenyum ke arahnya. ”eh, debo. Tumben mau negor? Biasanya sombong kalo ngeliat aku. Haha.”
”yaelah. Biasanya kan kamu yang sombong kak, apalagi kalo lagi berduaan sama kak Sify. Hehe,” ledek debo sambil nyengir. Ekspresi rio berubah seketika. Apalagi saat mendengar nama Sify.
Debo yang tidak menyadari perubahan ekspresi rio, lebih tertarik akan basket yang dipegang oleh rio. Dengan cepat, debo mengambil bola yang ada di tangan rio. Rio sempat kaget saat debo melakukannya. Lebih kaget lagi saat debo dari jarak yang cukup jauh berhasil memasukkan bola basket itu ke ring-nya.
”de, lo jago juga basketnya,” puji rio kagum. Sempat melupakan masalahnya dengan Sify sejenak.
”haha. Enggak juga, kak. Cuma bisa dikit,” kata debo sambil mengoper bola itu kembali ke tangan rio.
”gini di bilang nggak jago? Gimana jagonya,” puji rio lagi sambil mendribel bola basketnya. ”gabung aja gih sama tim basket komplek kita. aku jamin kita bisa menang telak.”
”haha. aku sih pengen, tapi....,” kata debo terputus. Rio menatap debo heran. Tak biasanya dia melihat wajah debo semurung itu. Bagaimana tidak, debo kan selalu tampil di depannya sebagai sosok yang selalu ceria. Hidupnya seperti ada beban.
”tapi, kenapa?” tanya rio penasaran karena debo tak kunjung melanjutkan kalimatnya.
Debo mendongakan kepalanya, lalu menatap rio yang juga menatapnya heran. ”aku takut... nanti aku terkenal lagi gara-gara jago basket. Kan aku nggak mau di kerubungin fans-fans aku nanti. Apalagi sama fans aku yang fanatik. Ihhh, sumpah deh, aku nggak mau.”
Rio menghela napas kesal. Lalu menatap debo yang sedang tertawa ngakak, membuat rio tambah sebal. Debo pun menghentikan tawanya saat rio kembali sibuk bermain dengan bola basketnya. Merasa dicuekin, debo pun kembali ke tujuan utamanya, rumah Sify. Tapi, saat debo hendak meninggalkan lapangan itu, sesuatu menusuk jantungnya dengan begitu keras, tak kuat menahan sakitnya debo pun terjatuh. Dia memegang dadanya dengan keras untuk menahan rasa sakitnya.
Rio yang sedang bermain basket pun langsung menatap debo yang wajahnya sudah sangat pucat. Rio pun langsung berlari ke arah debo dan membuang bola basketnya ke arah yang tak tentu. Dengan panik, ia membopong debo ke dekat lapangan dan menyuruhnya duduk.
”de, kamu kenapa? Muka kamu pucet banget?” tanya rio sambil memberikan air minum yang dia bawa tadi dari rumah.
”hehe. Nggak apa-apa kok, kak. Tiba-tiba aja dada aku sakit banget,” kata debo dengan suara yang kesakitan. Debo pun meminum seteguk air yang diberikan rio. Debo sedang nggak nafsu untuk minum kalau sedang kesakitan begini.
”dikit banget minumnya,” kata rio sambil mengambil kembali air minumnya dari tangan debo. Debo nya sih malah cengengesan. ”kamu kenapa sih?”
”ah, kak rio perhatian banget sih sama aku. Jangan-jangan kak rio.....,” kata debo ngaco sambil menatap rio dengan genit. Rio pun langsung mengerti maksud debo. Rio pun langsung kembali menjauhkan dirinya dari debo karena tampang debo yang sudah –menurut rio- menjijikan. Matanya debo aja udah kedap-kedip kayak orang cacingan.
Rio pun langsung menunjukan ekspresi tubuhnya yang mulai merinding saat debo mulai menatap genit ke arahnya. ”amit-amit deh aku. Udah sono kamu pergi, deh. Tadi kan kamu emang udah berniat mau pergi. Hussssh.”
”ih, kak rio jahat deh sama debo,” kata debo masih dengan suara yang super genit. Wajah rio makin masam. Lalu debo tertawa terbahak-bahak lagi. ”tenang aja kali, kak. Aku masih normal.”
”kirain. makanya punya cewek dong, de,” ledek rio sambil meminum air mineralnya.
”iya deh yang punya cewek,” cibir debo, tapi entah kenapa, cibiran itu membuat hati rio sakit. ”o, ya, aku mau ke rumah kak Sify nih. Kakak ikut nggak?”
Dengan mantap rio menggeleng lalu meninggalkan debo yang terbengong-bengong melihat mata rio yang sudah memerah. Tapi, dihiraukannya masalah itu dan langsung melanjutkan perjalanannya lagi ke rumah Sify.

^0^
Debo terpaku saat tiba-tiba Sify memeluk tubuhnya dan kemeja debo basah, rupanya Sify menangis. Debo berusaha menenangkan gadis itu dengan cara mengelus-elus punggungnya dan kadang juga membelai rambutnya. Debo shock. Bagaimana tidak, saat ia baru datang ke rumah Sify, tiba-tiba saja ia disambut oleh mata merah ify dan juga pelukan hangat namun terasa menyakitkan dari Sify.
”kak Sify kenapa? Ayo deh kita masuk dulu. Ntar kak Sify cerita sama aku ya,” kata debo lembut dan membopong Sify yang tengah lemas itu masuk, seakan ia tuan rumahnya. Maklum, mereka tadi sedang berada di luar gerbang saat melakukan adegan pelukan.
Setelah duduk dengan tenang dan tangisan Sify sedikit mereda, debo pun mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Sify lembut. Sify kaget dan merasa ada yang aneh dengan genggaman debo, tapi entah kenapa Sify merasa nyaman dengan genggaman itu. Terasa hangat dan menyenangkan.
”emmm... sekarang kakak udah bisa cerita?” tanya debo sambil terus menggenggam tangan Sify. Air muka Sify berubah lagi. Segenang air mata muncul lagi di kedua matanya. Debo langsung panik dan mempererat genggaman tangannya lagi pada Sify. ”kalo kak Sify nggak bisa cerita juga nggak apa-apa kok. Aku nggak maksa. Tapi kak Sify jangan nangis lagi dong.”
Sify menggeleng lemah. ”nggak kok de. Aku mau cerita.”
Debo mengangguk dan menunggu sampai Sify siap. Namun, setiap Sify ingin mengucapkan sepatah kata dari mulutnya, tanpa Sify sadar air mata pun jatuh membasahi pipinya. Berkali-kali pula debo membantu Sify mengusap air matanya.
”aku... aku... aku putus sama rio,” kata Sify sambil terisak. Hampir saja debo menyenggol vas bunga yang berada di sebelahnya karena kaget.
”kok bisa?!” jerit debo kaget dan langsung melepaskan genggaman tangannya dari Sify. Sify akan menangis lagi. Dengan sigap, debo pun menggenggam erat tangan Sify lagi. ”maaf, maaf. Aku Cuma kaget aja kak. Emm,,, ngomong-ngomong.... kenapa kakak bisa putus sama kak rio? Bukannya kalian saling sayang?”
”aku... aku... aku... aku takut... aku takut kalo... kalo aku... semakin sayang sama rio,”isak Sify membuat debo mempersempit jaraknya dengan Sify dan membiarkan Sify menangis sepuasnya di bahu debo.
”kenapa takut?” tanya debo yang kemudian merasa sesuatu mampir di pikirannya. ”apa karena prinsip kakak itu? Kalo, sesuatu tak ada yang abadi? Kayak lagu kesukaan kakak itu?”
Sify mengangguk. Lalu melepaskan tubuhnya dari pelukan debo dan menatap debo nanar. ”iya. aku... aku takut.. kalo aku semakin sayang sama rio... aku... aku bakalan susah ngelepas rio. Dan... dan.. dan aku takut... kalo... kalo udah sayang banget sama rio... aku... aku takut bakalan... bakalan kehilangan dia. Lagipula hati kecil ku bilang... kalo.. kalo aku harus ngelepas rio. Kan ada yang bilang... kalo... kalo hati kecil itu... murni perasaan... perasaan kita sendiri.”
”tapi, kak rio itu sayang banget sama kak Sify. Aku yakin, dia juga nggak bakalan tega ninggalin kak Sify,” kata debo lagi sambil membelai kepala Sify lembut. Sify segera menghapus air matanya yang mulai terjatuh lagi.
”aku... aku tahu. Tapi, kan nggak selamanya juga rio bakalan ada untuk aku. Dia... dia pasti bakal ninggalin aku juga. Seperti papa... ninggalin mama,” kata Sify lirih dan mulai dapat mengontrol air matanya.
Debo mengerti maksud Sify. Papa Sify sudah meninggal, meninggalkan Sify dan keluarganya untuk selamanya. Memang sih, semua tak ada yang abadi. Tapi, menurut debo, Sify sudah keterlaluan. Masa mengorbankan kabahagiannya sendiri hanya karena prinsipnya yang super, duper gak masuk akal itu.
”kak Sify,” panggil debo tiba-tiba membuat Sify tersentak. ”coba pejemin mata kak Sify.”
”buat apa?” tanya Sify yang bingung.
”ini emang agak jadul sih, tapi katanya kalo kita mejemin mata, orang pertama yang kita lihat itu adalah orang yang kita bener-bener sayangi. Nah, mungkin aja ada orang lain yang muncul pas kak Sify pejemin mata. Dan itu juga merupakan alasan kenapa kak Sify mutusin kak rio,” jelas debo sambil terkekeh.
Sify mengangguk mengerti. Dia sudah sering mendengar kata-kata itu di sinetron maupun di novel dan cerpen yang ia baca. Sify juga belum pernah mencoba hal itu. Jadi, apa salahnya mecoba. Dengan mantap, Sify pun memejamkan matanya. Debo menatap Sify penasaran. Apalagi saat Sify memejamkan mata, Sify seperti sedang terkaget-kaget. Setelah agak lama, Sify pun membuka matanya.
”siapa kak yang muncul?” tanya debo sambil menatap Sify yang terlihat ragu.
”eng... wajahnya nggak jelas, de. Kabur,” kata Sify namun dengan penuh keraguan. ”emang kamu yakin, de, orang yang kita lihat kalo kita merem gitu, itu tandanya bener-bener orang yang kita sayang?”
”ya, kata orang-orang sih gitu. Tapi, nggak tahu-lah,” kata debo ikut-ikutan bingung sambil menggaruk-garuk kepalanya karena gatal sekaligus bingung.
Sify mengangguk mengerti. Lalu menatap wajah debo yang sedang memikirkan sesuatu. Dan lama-lama ada suatu pikiran janggal di benak Sify. Ia merasa wajah debo terlihat sangaaaaaaaaaat manis. Padahal selama ini, Sify sering melihat wajah debo, memang debo itu manis, tapi tidak semanis saat Sify melihat debo sekarang ini.
”kak Sify,” panggil debo sambil menerawang ke langit. Sify langsung mengalihkan pandangannya dari wajah debo. Sify merasa ada sesuatu yang menyenangkan dalam dadanya. ”aku mau kasih hadiah buat kak Sify.”
”hah? Apaan?” tanya Sify yang sebenarnya tak sepenuhnya mendengar kata-kata debo. Masih sibuk dengan debaran menyenangkan di dadanya.
”aku pengen buktiin ke kak Sify, kalo ada sesuatu yang abadi!” kata debo mantap sambil menatap Sify yakin.
”apa?!” teriak Sify kaget. Ia baru sadar apa yang debo katakan sejak tadi. ”emang ada apa sesuatu yang abadi?”
”ada. Dan aku bakalan buktiin ke kak Sify,” kata debo masih seyakin tadi. Sify mengerutkan keningnya.
”apaan tuh? Jangan bikin aku penasaran deh,” paksa Sify yang sangat penasaran.
”jangan sekarang. Nggak seru lagi. Nanti aja deh kalo aku selesai ujian nasional,” jawab debo enteng membuat Sify gemas dan tak sabar. Tapi, nanti juga dia pasti tahu.
”oh, iya ya. Besok kamu udah UAN. Si ozy juga kan?” tanya Sify sambil menatap debo yang mengangguk santai. ”si ozy... bukannya belajar malah jalan tuh sama si acha. Kamu juga tuh, bukannya belajar, malah mampir ke sini.”
”hehehee. Niat aku ke sini kan pengen belajar sama ozy. Eh, ternyata ngeliat kak Sify lagi nangis. Terpaksa deh aku hibur,” ledek debo membuat Sify merengut.
”jadi terpaksa nih?” sindir Sify. Debo pun terkekeh.
Tak berapa lama, ozy pun datang dengan membawa sekantong plastik belanjaan. Sify terlihat girang melihat ozy dan membantu ozy membuka gerbang pagar rumahnya, dan memasukkan motornya ke dalam garasi. Sify sudah melupakan masalahnya sejenak. Ozy adalah adik ify yang keberulan satu sekolah bahkan satu kelas sama debo. Ozy dan Sify hanya berbeda satu tahun. Ozy kelas 3 smp dan ify kelas 1 sma.
”eh, debo. Jadi belajar bareng?” tanya ozy saat sudah berada di hadapan debo.
”jadilah. Kasihan tuh debo udah nungguin kamu dari tadi,” kata Sify sambil membawa barang-barang belanjaan ozy ke dalam.
”yeee, perasaan tadi gue nanya lo deh, de. Kenapa kak Sify yang jawab?” tanya ozy bingung lalu melepaskan kedua sepatunya. ”yok, ke dalem.”
Debo mengangguk lalu masuk ke dalam rumah Sify yang sedang bersama tante gina. Debo tersenyum malu pada tante gina, ingat kejadian waktu itu. Sementara tante gina udah mesem-mesem nggak karuan. Ozy menatap debo dan mamanya aneh, namun ia tak begitu mempedulikannya.
Mereka pun memulai pelajaran mereka hari itu. Senin waktunya mereka akan menjalani UAN selama 4 hari. Dimulai dengan pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan diakhiri dengan IPA. Ozy juga sempet meledek Sify saat Sify membawakan sirup untuk debo. Setau ozy, Sify itu paling males nyiapin apapun untuk tamunya. Tapi, saat ada debo, Sify berubah jadi rajin. Pokoknya sore itu menjadi hari ozy untuk meledek debo dan Sify deh. Tapi, tetap saja debo dan ozy menjalankan acara belajar bersamanya.

^0^
Hari ujian sudah selesai. Dan kali ini, Sify menunggu kedatangan debo dan ozy yang berjanji men-traktirnya karena sudah selesai ujian. Kebetulan sekarang Sify sedang libur. Anak kelas 3 dan kelas 2 sma sedang study tour, jadinya kelas 1 nya di liburkan saja. Lagian pasti banyak anak yang malas masuk karena beberapa guru juga ikut.
Sify sedang duduk santai sambil membolak-balik majalahnya. Tanpa sengaja, ia merobek sedikit bagian dari majalah itu. Sify mencoba menyambungnya supaya tak begitu terlihat, tapi saat Sify mau membetulkan majalahnya, sebagian dari kertas itu malah robek. Ify pun jadi malas membaca majalah itu.
Saat ify melihat dari jauh, ia melihat motor ozy yang sudah terparkir di depan rumahnya. Ozy membuka helm-nya, dari wajahnya terlihat kalau ozy sedang panik.
”zy, kok sendirian? Debo mana? Jadi nraktir kan?” tanya Sify tak mempedulikan wajah ozy yang terlihat sangat panik.
”debo, debo... udahlah. Mending sekarang kakak cepetan naik deh! Sini!” perintah ozy yang tak sanggup mengatakan apapun lagi.
”debo? Debo kenapa? Terus kenapa aku harus naik ke motor kamu, sih,” kata Sify bingung melihat wajah ozy yang sudah merah padam.
”udah cepetan!” bentak ozy membuat Sify tersentak kaget. Sify pun mendekati motor ozy dengan wajah ketakutan. Ozy sadar ia telah melakukan suatu kesalahan. ”maaf, kak. Tapi ini penting banget. Nanti aku ceritain di sana kalo udah sampe.”
”emang kita mau ke mana?” tanya Sify dengan ragu.
”rumah sakit,” jawab ozy singkat.
Sify tidak bertanya apa-apa lagi setelah itu karena ia harus berkonsentrasi pada pegangannya ke kemeja ozy. Habis, ozy mengendarai motornya kayak nggak ngeliat lampu merah, ngebut banget. Pembalap F1 aja kalah.

^0^
Ozy segera memarkirkan motornya dan menarik tangan Sify paksa menuju ke dalam rumah sakit. Sify sih Cuma pasrah aja. Ingin bertanya, tapi takut kena amukan ozy. Ternyata ozy adik semata wayangnya ini kalau sedang marah sangat menyeramkan. Setelah, menanyakan informasi pada administrasi, ozy pun segera berlari menuju ruangan yang diberi tahu suster itu.
”kakak nggak pengen nanya ngapain kita ke sini?” tanya ozy saat mereka berada di dalam lift.
”yah... pengen sih. Tapi kakak takut di bentak lagi sama kamu. Serem,” jawab Sify sambil bergidik ngeri.
”maaf, kak. Tapi ini gawat banget,” kata ozy sambil mengusap peluhnya yang sudah membanjiri wajahnya dan juga seragamnya.
”gawat kenapa?” tanya Sify sambil keluar lift bersama ozy karena sudah sampai di tempat yang mereka tuju.
”debo kak, debo,” ozy mulai panik lagi. Kemudian, ozy menarik nafasnya dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya. ”debo, tadi pas udah selesai ujian, tiba-tiba dia kayak tidur gitu dan nggak bangun-bangun biarpun udah di panggil-panggil. Terus, karena penasaran, pengawas pun ngedeketin debo. Dan ternyata setelah di periksa, jantung debo udah lemah banget. Nafasnya aja suka ada suka enggak. Langsung aja deh dia dibawa ke rumah sakit. Dan, di kertas ujian debo, ada nama kakak ditulis di situ. Ya udah, aku langsung panggil aja kakak. Aku juga udah telepon kak rio, katanya dia mau ke sini.”
Sify merasa tubuhnya terasa lemas. Badannya pun limbung, untung ada ozy yang sigap menangkap tubuh kakaknya itu. Air mata Sify langsung terjatuh dan saling berkejar-kejaran membasahi pipinya. Ozy berusaha menyeimbangkan tubuh Sify yang semakin melemah. Ozy semakin tidak kuat dan hampir saja jatuh kalau rio tidak datang tiba-tiba membantu ozy menyeimbangkan tubuh Sify.
Ozy dan rio pun memapah tubuh Sify menuju ke depan sebuah ruangan, tepat di mana ruangan itu dihuni debo. Orang-orang yang berada di depan ruangan itu rata-rata sedang menangis. Ada juga alvin, kakak dari debo yang terlihat cool, namun ternyata turut menambahkan suasana berduka di ruangan itu.
Entah ada kekuatan dari mana, tiba-tiba Sify segera berlari menghampiri tante halimah, mama debo. Ozy dan rio yang masih takjub pun mengikuti Sify yang tiba-tiba menjadi kuat kembali, berlari mendekati tante halimah. Tante halimah menatap Sify dengan mata sembab-nya. Kemudian, tante halimah mencoba tersenyum paksa pada ify. Sify mengelus-elus punggung tante halimah, mencoba menenangkan, walau ternyata dirinya sendiri juga tak bisa tenang.
”tante, tante, debo... debo... debo keadaannya gimana tante? Apa... apa semakin... semakin parah?” tanya Sify panik tak bisa menahan air matanya.
”debo, debo...... debo.......... debo........ udah nggak ada,” kata tante halimah dengan suara tercekat. Tangisnya juga semakin parah.
Sify serasa mau pingsan. Ozy dan rio juga tersentak sangat kaget. Jantung mereka berdetak sangat cepat. Rio dengan sigap kembali menahan tubuh Sify yang kembali limbung. Namun, kali ini Sify tidak terlalu lemas seperti tadi. Ia masih bisa menahan tubuhnya walau hanya sedikit. Jadi, rio tak sepenuhnya menahan beban tubuh Sify.
Dengan sedikit kekuatan yang Sify miliki, Sify pun berlari ke ruangan debo tanpa mempedulikan apapun lagi. Air mata Sify kembali meleleh saat melihat tubuh debo sudah terbujur kaku, matanya terpejam, namun senyuman manisnya masih setia menghiasi bibirnya. Sify pun menggenggam tangan debo yang sudah mulai terasa dingin itu.
”debo,” panggil Sify lirih, kemudian terjatuh karena kakinya terasa lemas. Tapi, tangannya masih menggenggam erat tangan debo. ”mana janji kamu?! Mana?! Katanya kamu mau nraktir aku abis ujian?! Katanya kamu mau buktiin kalo ada sesuatu yang abadi?! Tapi mana?! Kamu aja ninggalin aku secepat ini! Kamu jahat debo! Kamu jahat!”
”kak Sify,” tiba-tiba ozy sudah muncul di belakangnya sambil menyerahkan amplop surat di sebelah Sify. Tangan Sify gemetar saat memegang surat itu. ”tadi pas selesai ujian, aku ngeliat surat itu di atas meja debo. Ya, aku ambil aja, karena saat aku liat, surat itu buat kak Sify. Kak Sify baca sekarang ya.”
Sify mengangguk lemah. Lalu mencoba berdiri dengan kakinya. Lalu membuka surat itu perlahan-lahan.

Hai, kak Sify, hehe,,,
Mungkin kak Sify lagi nangis pas baca surat ini,,,
Hehehe,,,

Kak, mungkin di surat ini, debo pengen ngucapin kata perpisahan untuk kak Sify,,, maaf yah kak, debo nggak cerita-cerita sama kak Sify, kalo debo punya penyakit jantung,,, hehehe,,, yah, di vonis dokter bahwa hidup debo nggak bakalan lama lagi, dan debo sadar akan hal itu,, tapi, debo ikhlas kok menjalani hidup yang udah Tuhan kasih ke Debo.
Jujur dari lubuk hati debo, debo sayaaaaaaaaaang banget sama kak Sify. Bukan sayangnya seorang adik ke kakaknya, tapi lebih. Yah, bisa dibilang itu cinta. Udah beberapa kali debo berniat untuk nembak kak Sify, tapi kasihan, nanti kak Sify mati. Hahahahaha,, bercanda kak.
Aku gagal terus untuk nyatain cinta ke kak Sify karena aku takut kalo kakak nggak mau pacaran sama aku karena aku lebih muda dari kakak. Mungkin aja kakak malu kan pacaran sama berondong. Hehehe...
Jujur nih kak, hati aku sempet sakit banget waktu kak Sify bilang udah jadian sama kak rio. Dan wajah kak Sify juga keliatan bahagia banget. Tapi, akhirnya aku berhasil menutupi rasa sakitku itu dengan selalu ada di deket kak Sify. Dan ternyata aku cukup bahagia dengan hal itu. Aku bahagia kalo kak Sify juga bahagia. Ah, kata-kata lama emang, tapi ternyata kata-kata itu bernilai ajaib loh.
Waktu kakak cerita kalo kakak putus sama kak rio, entah apa yang ku rasain, sedih apa seneng. Aku juga bingung. Tapi, aku lega karena keputusan yang kak Sify ambil. Apalagi, semenjak itu, kak Sify jadi lebih perhatian sama aku. Seneng deh kak. Hehe.
Dan aku berniat kalo aku akan meninggal saat aku sudah menyelesaikan ujian. Perjuanganku melawan sakit jantung itu emang bener-bener luar biasa sakitnya, kak. Tapi, aku tetep berniat untuk bisa menyelesaikan ujian.
Maaf ya kak janji palsu soal nraktir kakak, aku udah nggak kuat nahan rasa sakitnya kak. Cape banget. Minta traktirnya nitip sama Ozy aja ya kak. Hehe. Tapi tenang, aku tetep bakal buktiin kalo ada sesuatu yang abadi.

Sesuatu yang abadi itu adalah rasa sayang aku ke kakak. Aku udah buktiin hal itu. Aku tetep cinta dan sayang sama kakak bahkan walau kakak udah jadi milik seseorang. Aku sayaaaaaaaaaang banget sama kakak. Bahkan, sampai saat aku nggak ada, aku bakal terus sayang sama kakak. Dan kasih sayang itu bakalan terus abadi.
Seperti papa kak Sify, mungkin papa kak Sify nggak bisa abadi berada di sisi kak Sify, tapi aku yakin, rasa sayang papa kak Sify ke kakak, tante gina, bahkan ozy akan terus abadi. Jadi, jangan pernah berpikir kalo nggak ada sesuatu yang abadi. Ada kok yang abadi.

Salam juga ya kak buat ozy, kak rio, dan tante gina. Maaf kalo aku pergi tanpa pamit. Dan inget kak, lupain prinsip kakak kalo ’tak ada yang abadi’, aku udah buktiin kan kak kalo ada yang abadi. Sekian dulu deh kak surat dari aku. Pegel nih nulisnya juga. Hehe.

Salam sayang dari debo untuk kak Sify tercinta dan semua orang :D


Sify tak bisa menahan air matanya lagi saat ini. Isakan keras Sify pun mulai memenuhi ruangan itu. Sify nggak nyangka kalo selama ini debo menyukainya, lebih dari seorang sahabat. Sify menatap tubuh debo lagi yang tengah tersenyum, senyum penuh kedamaian. Dengan gerakan cepat, Sify membuang kertas itu seenaknya dan memeluk debo dengan erat. Tubuh itu sudah dingin, namun masih terasa hangat di hati Sify.
Ozy dan rio yang mendengar isakan keras Sify langsung mengambil surat yang ify buang dan membaca isinya. Ozy dan rio sampai terperangah, tak menyangka kalau debo ternyata menyukai Sify. Ozy dan rio juga tak kunjung dapat menahan air matanya dan mendekati mayat debo dan menggenggam erat tangannya.
”de, kenapa kamu nggak bilang kalo kamu suka sama Sify?” tanya rio pada debo sambil mengacak-acak rambut debo. Kalau debo masih hidup, pasti debo akan marah sama rio. ”dasar, anak bodoh.”
”emang, debo bodoh. Masa, kamu juga nggak cerita sama aku, kalo kamu punya penyakit jantung? Aku kan bisa ngebahagiain kamu di saat-saat terakhir,” kata ozy sambil menelungkupkan kepalanya di atas tangan debo, mencoba untuk menyembunyikan air matanya.
”de... kenapa... kenapa kamu nggak bilang kalo kamu suka sama aku. Asal kamu tahu ya, de... waktu... waktu kamu nyuruh aku pejemin mata dan kamu bilang kalo aku pejemin mata dan ngelliat seseorang, berarti itulah orang yang sangat aku sayang. Dan... dan kamu harus tahu... saat aku mejemin mata... yang muncul itu malah wajah kamu. Awalnya aku nggak menyadarinya. Tapi, tapi... tapi ternyata, aku emang sayang sama kamu,” isak Sify sambil terus memeluk mayat debo.
”permisi,” kata seorang suster yang tiba-tiba muncul di sebelah ozy. ”debonya mau di mandiin dulu.”
Dengan berat, ozy, rio, dan Sify melepaskan tubuh debo. Mereka merasa kehilangan sesosok yang berharga saat itu. Ini saatnya mereka harus kehilangan sosok jahil, selalu ceria, pinter ngelawak, bawel itu, untuk selamanya.

^0^
Saat jenazah debo dimasukkan, tangis riuh langsung menghampiri suasana siang itu. Tentu saja Sify dan tante halimah yang menangis paling keras. Rio dan ozy menangis tanpa suara, namun air matanya mengucur deras. Sedangkan alvin, kakak debo yang tengah duduk di bangku kuliah ini, tampak tak sedikitpun mengeluarkan air mata. Hanya genangan air mata yang berada di pelupuk matanya, tak berhasil menetes karena alvin dengan cepat menghapusnya. Rupanya, kematian debo membuat semua orang terluka. Teman sesekolah debo pun rata-rata hadir. Tante halimah sangat surprise. Ternyata anaknya telah menjadi sosok yang sangat berarti di manapun ia berada.
”tante, rio, ozy, kak alvin,” panggil Sify dengan suara serak saat semua orang yang menghadiri pemakaman debo sudah pada pulang. ” Sify mau ke halte deket sini dulu ya. Ke tempat kenangan debo sama Sify waktu kecil.”
”ya udah sana. Kak alvin sama lainnya tunggu di sini ya,” kata alvin mewakili semuanya karena sedang sibuk meratapi kepergian debo.
Sify mengangguk lalu meninggalkan pusara debo dan segera menuju ke halte, tempat yang sangat ingin dikunjunginya. Tempat pertama kali Sify bertemu dengan debo. Memang, gak elit banget sih, tapi itulah kenyataannya. Di tempat ini, debo berani membela Sify saat Sify sedang di ganggu oleh anak-anak SMP. Waktu itu, ify sedang duduk di kelas 3 SD, sedangkan debo masih kelas 2 SD. Dengan berani dan gaya ngebanyol-nya, debo berani membela Sify yang ujung-ujungnya debo yang malah menangis karena permennya di ambil oleh anak SMP itu. Gantian Sify yang membelanya. Sify tertawa kecil saat mengingat masa-masa itu.
Sify pun duduk di bangku halte itu, di sebelah seseorang yang sedang membaca koran dengan asyiknya. Sify pun mengamati sekitar halte itu, sampai ia melihat sesosok orang aneh yang tiba-tiba duduk di sampingnya. Orang itu menatap genit ke arah Sify. Sify mulai merinding. Apalagi, saat Sify melihat sosok laki-laki itu mengenakan tatto yang bergambar tidak senonoh.
Sify mencoba mengalihkan pandangannya menuju ke arah langit, dan kembali mengenang peristiwa yang ia lalui bersama debo. Entah kenapa, kali ini Sify sangat ingin tersenyum. Ia seperti melihat debo tersenyum di awan yang berarakan itu.
Tapi, tiba-tiba, orang aneh di sebelah Sify itupun memeluk ify erat secara tiba-tiba. Kemudian, orang aneh itu tersenyum padanya masih dengan jenis pelukan yang sama. Sify ingin berteriak, tapi kalau dalam keadaan panik begini, Sify malah tidak bisa melakukan apapun selain menangis. Sify mencoba meminta pertolongan orang di sebelahnya yang sedang membaca koran dengan seriusnya. Tapi, tak ada respon dari orang itu karena Sify juga tak bisa mengeluarkan suara sedikitpun. Orang aneh itu makin menikmati pelukannya. Sify ingin meminta tolong orang yang lewat, tapi saat itu sedang sepi jadi tak ada seorang pun yang lewat. Sify makin pasrah, menunggu keajaiban yang datang.
”pak polisi! Ada dua orang yang berbuat tidak senonoh itu di sini, pak! Mengganggu ketenangan dan ketentraman saya nih, pak!” teriak seseorang di sebelah Sify yang akhirnya memalingkan wajah dari korannya itu tiba-tiba. Sify dan orang aneh itu pun melirik ke arah orang itu dengan tatapan heran sekaligus terkejut. Sify makin terkejut saat melihat wajah orang itu.
”tenang, tenang! Kamu kesini!” teriak seseorang lagi, namun dengan suara yang agak mendelep. Sify menoleh ke sekitar tapi tak ada siapapun.
Berbeda dengan orang aneh itu yang langsung panik dan melepaskan pelukannya dari Sify. Kemudian, ia lari tunggang langgang tanpa mempedulikan arah. Orang yang wajahnya sempet membuat Sify terperangah itupun langsung tergelak geli.
”hahahaha! Dasar penjahat, dodol! Masa Cuma sama rekaman suara dari hp aja takut!” kata orang itu tak bisa menghentikan tawanya. Sify yang melihat orang itu kembali terperangah saat melihat gaya bicaranya mirip dengan sosok yang sangat ia kenal.
”ehm, makasih ya,” kata Sify dengan suara lembutnya membuat orang itu menoleh ke arahnya dan tersenyum manis. Sify pun mengulurkan tangannya. ”kenalin, gue Sify.”
”hehehe. Sama-sama. Kenalin nama gue arya,” katanya yang ternyata bernama arya sambil membalas uluran tangan Sify.
Sify terperangah kembali, wajah, senyumannya, ketawanya, gaya bicaranya, sangat mirip seseorang yang mulai saat ini sangat ia sayangi melebihi siapapun, ya, dia adalah DEBO!!
”lo... lo... lo sering ke sini?” tanya Sify dengan terbata-bata karena masih sangat terkejut.
”hemmm, di bilang sering sih juga enggak, tapi kalo di bilang jarang juga enggak,” jawab arya setelah sebelumnya berpikir sebentar.
”jadi kadang-kadang doang?” tanya Sify lagi tak bisa menghentikan senyumannya. Ia merasa telah menemukan sosok debo yang baru.
”iya, enggak juga sih,” kata arya dengan wajah polosnya. Sify ingin tertawa geli, tapi ditahannya itu semua. Sify nggak mau nyinggung perasaannya arya.
”kak Sify! Ayoooo balik!” teriak seseorang dari seberang sana. Sify menoleh dan menatapi sosok ozy dengan wajah kecewa. Ia masih ingin bersama arya.
”ya, gue pamit dulu, ya. Udah di panggil sama adek gue tuh,” pamit Sify sambil tersenyum lemas.
”oh, iya,” kata arya yang lalu melambaikan tangan ke arah Sify kemudian tersenyum lebar. ”semoga kita ketemu lagi.”
”gue yakin kita ketemu lagi. Kita kan jodoh,” kata Sify yang langsung berlari ke arah ozy, alvin, rio, dan tante halimah sambil menyembunyikan semburat merahnya. Arya sempat terbengong sebentar, tapi kemudian tersenyum dan kembali menekuni korannya.
Sify berlari dengan wajah sumringah, membuat rio dan ozy terbengong-bengong.
”ayo balik. Dan tante, jangan sedih mulu, dong. Kayak Sify nih yang udah berubah ceria. Debo akan selalu ada di sisi kita kok, bukan hanya dalam wujud sayangnya kepada kita, tapi juga dalam wujud nyata,” kata ify yang langsung meloncat riang ke arah mobil milik tante halimah itu.
Semua langsung terbengong-bengong dan bertatapan satu sama lain melihat perubahan Sify yang sangat pesat. Apalagi saat Sify mulai menyenandungkan lagu ’Akulah Dia’ yang mulai sekarang menjadi lagu favoritnya. Lagu tak ada yang abadi sudah ia lupakan jauh-jauh. Sify baru menyadari semua orang yang terpaku tanpa berbuat apapun.
”ye, bukannya pada masuk malah bengong,” tegur Sify membuat semuanya tersadar dan masuk ke mobil dengan tergesa-gesa. Sify menatap pemandangan aneh di depannya dengan heran, namun ia segera mengacuhkannya dan kembali menatap ke langit-langit.
Ia segera menyenandungkan suaranya lagi. Semua orang masih menatapnya heran, tapi kemudian mengacuhkan Sify dan terlihat senang dengan perubahan Sify –yang memang agak menyeramkan- dan tidak tenggelam lagi dalam kesedihannya. Setidaknya, itu lebih melegakan.
Sify menatap langit-langit yang kemudian seperti menampakkan sosok debo dan arya yang sedang berdiri berjejer dengan wajah dan senyum yang persis sama. Sify menemukan sosok debo baru di diri arya dan ify ingin mengenal arya lebih jauh. Dan kini, ify sendiri berniat untuk lebih agresif lagi, seperti debo lakukan dulu padanya. Walau ujung-ujungnya akan sakit hati. Sify kemudian tersenyum.
’debo, kamu udah buktiin semuanya ke aku. Kasih sayang kamu ke aku bakalan terus abadi sampai kapanpun. Kamu juga rela ber-reinkarnasi demi aku dalam wujud arya,’ batin Sify kemudian terkikik geli. ’kasih sayang aku buat kamu juga bakalan abadi kok, de.’
Tiba-tiba Sify merasa lelah dan kemudian terlelap. Di mimpinya, ia merasa bahwa arya adalah debo yang memang ber-reinkarnasi. Semakin bulatlah tekad Sify untuk mendapatkan arya dan mengenal arya lebih jauh lagi. Ia akan berusaha agar semakin dekat lagi dengan sosok arya yang merupakan debo kedua baginya. :D

Kesuksesan, kegagalan, keberuntungan, kesialan, bahkan kehidupan memang tak ada yang abadi. Tapi, kasih sayang orang yang sangat tulus kepada kita, akan terus tertanam dengan abadi di dalam lubuk hati kita. XD

1 komentar:

♥ nadita is nacchi ♥ mengatakan...

K to the E to the R to the E to the N =D
padhal dulu udah pernah baca. ah ga bosen2 baca ini haha

keep writing yoss ^o^9


up