22 Okt 2010

Diary Derita-nya





 Andara memandang ke luar jalanan yang tengah ditetesi oleh air hujan. Matanya terus menatap kearah hujan itu, kosong. Dan seperti sebelum-sebelumnya, air matanya segera mengalir di pipinya untuk ke sekian kalinya. Dan seperti sebelum-sebelumnya pula, ia segera menghapus air matanya.
 Andara segera mengalihkan perhatiannya pada sebuah buku berwarna hitam yang terletak di atas mejanya. Dengan langkah perlahan, ia mendekati buku itu. Tatapannya terus terarah pada buku itu. Hatinya kembali tergores. Rasa sakit yang terus menghampiri hatinya tetap saja tak mau hilang.
 Dengan tangan bergetar, Andara mengambil buku itu. Dengan hati-hati, ia membuka lembar demi lembar dari kertas yang sudah penuh dengan tinta hitam yang timbul tenggelam.


Bersamamu kurasakan bahagia yang begitu dalam. Tapi sayang, rasa bahagia itu tak akan bertahan lama. Penyakit ini sudah meracuni tubuhku dan membuatku tak bisa hidup seperti anak normal lainnya. Aku benci keadaan ini!

 Air matanya segera mengalir. Sudah lama ia tak membuka buku pemberian Rio ini. Isinya terlalu sakit untuk dibaca. Dan Andara, tak sanggup melakukannya. Apalagi pada kalimat ini. Andara mampu merasakan kebencian Rio saat menulis kalimat ini.
 Andara membuka lembar berikutnya. Walau tangannya sudah gemetar tak karuan, tapi ia masih ingin menjadi saksi hidup Rio di buku ini.


Orang tua bejat itu datang padaku dengan beruraian air mata. Apa yang sebenarnya mereka pikirkan? Mengambilku… lalu membuangku? Kalian pikir aku ini apa? Sebuah mainan yang bisa kalian ambil dan buang seenaknya?


 Andara jatuh terduduk di lantai. Diary itu sudah mengungkapkan salah satu penderitaan Rio dari sekian penderitaannya. Rasa penyesalan Andara kembali muncul. Ia kembali membuka halaman berikutnya.


Sudah berulang kali aku menyuruhnya untuk menjauhiku. Sudah berulang kali pula kumuntahkan cacian dan makian padanya. Tapi apa? Dia terus datang padaku dengan senyuman malaikatnya. Oh… saat itu, aku sempat berharap kalau aku tak mempunyai penyakit bodoh ini yang bisa membuatku menjauh darinya.

 Andara tersenyum membaca isinya. Ia ingat saat Rio terus mencoba untuk menjauhi dirinya. Dengan cara memfitnah dirinya, dengan cara mengatakan hal-hal bodoh seperti mengatakan bahwa Rio adalah seorang guy dan sebagainya.
 Awalnya Andara percaya akan itu semua. Tapi kelamaan, Andara tahu bahwa Rio hanyalah seorang pembohong dan tidak mempercayai itu semua dan kembali dekat dengan Rio.
 Andara pikir, Rio adalah seorang anak yang sedang cari perhatian karena memang tak pernah mendapat kasih sayang dari siapapun. Tapi ternyata, alasannya lebih dari itu.
 Andara kembali membuka lembar berikutnya.


Ya, sekarang aku kembali ke rumah orang tuaku berkat bujukan Anda, sponge-bob ku. Aku menamainya sponge bob karena ia seperti film sponge bob yang selalu membuatku ceria dan bahagia. Aku bahagia saat ini karena adanya sponge bob ku. Bukan karena orang tuaku.


 Tubuhnya sudah melemas. Ia tahu persis itu isi dari buku itu. Tapi entah mengapa, tangannya terus saja membuka lembar demi lembar dari buku itu. Tangannya seakan terhipnotis oleh kekuatan dari buku itu.


Aku memutuskan untuk memiliki gadis itu dengan memilihnya sebagai pacarku. Egois memang, karena aku memilihnya di saat penyakitku sedang parah. Aku memang ingin terus berada di sampingnya di sisa-sisa hidupku yang sudah penuh dengan penderitaan. Apalagi saat orang tuaku kembali membuangku karena kekayaan mereka sudah kembali. Rupanya, mereka mengambilku hanya supaya mereka mendapat dana lebih dari pemerintah. Cih… orang tua macam apa mereka? Kenapa Tuhan begitu tega menitipkanku di kandungan mereka?


Aku juga memutuskan untuk memberitahu semuanya pada Anda. Aku sudah siap menerima semuanya, bahkan ditinggal oleh Anda. Dan ternyata, semua itu benar, Anda memutuskan hubungannya karena penyakitku yang nista itu. Ia bahkan tak mau mendengarkan penjelasanku darimana aku memiliki penyakit itu. Haha…. Aku begitu bodoh merasa bahwa Anda akan menerimaku apa adanya. Ia sama seperti yang lainnya. Dan berkat pemikiranku itu, aku jadi lebih tertutup. Tertutup pada siapapun. Tertutup pada apapun. Sangat tertutup.


Penyakit ini terus saja menggerogoti tubuhku. Sakit menerimanya. Aku tak kuat. Merintih, mengaduh, hanya itu yang bisa kulakukan. Tak ada yang menemaniku di sisa-sisa hidupku ini. Bahkan Anda yang sekarang malah menatapku dengan tatapan yang seolah mengatakan bahwa aku adalah sampah. Ya, penyakit ini adalah penyakit nista dan hanya orang-orang busuk yang memilikinya. HIV. Inilah penyakit sampah itu. Penyakit yang membuat kebahagiaan diriku menjauh.


Aku terus mengerang kesakitan di kamar dengan suara tertahan. Sendirian. Penyakit ini yang membuat hidupku terus menderita. Penyakit yang kudapatkan dari orang tuaku. Orang tua bejat itu. Orang tua yang selalu kuakui sebagai orang tua, tapi tak pernah menunjukan diri mereka sebagai orang tua. Ya Tuhan… adakah beban hidup lain yang harus ku panggul selain ini? Apa bebanku masih kurang?


Rumah sakit. Sepertinya tempat ini menjadi tempat kunjungan terakhirku. Rasa sakit yang menyiksa tubuhku sudah tak dapat kutahan. Jeritan, tangis, teriakan, auman, bahkan serentetan doa tak mampu mengusir rasa sakit ini. Tuhan… apakah kau belum puas menyiksaku? Apakah Kau lebih suka menyiksaku daripada mengambilku dari dunia yang kelam ini? Apa kau suka melihatku begitu menderita? Pertanyaan-pertanyaan tak terjawab terus berkelabat di benakku.


Mata itu. Mata yang selalu aku nantikan, hadir di depanku. Memberiku secercah harapan untuk tetap hidup. Tapi… mata itu tak lembut seperti dulu. Mata itu berubah. Mata itu terus menatapku dengan tatapan jijik. Tapi tetap saja, aku suka melihat mata ini. Mata milikmu, Andara Anggraeni.


Aku merasa kalau ini adalah akhir dari hidupku. Memang, sakitku sudah mulai mereda, tapi tetap saja aku merasa kalau Tuhan sudah menyuruhku duduk di pangkuannya.

Aku sudah melihat sekeliling. Tak ada orang yang menemaniku sama sekali. Padahal, kantuk ini sudah sangat parah. Aku ingin secepatnya memejamkan mata. Tapi, aku ingin ada seseorang yang menemaniku di saat kematianku. Khususnya kehadiran Anda, yang masih belum tahu hal yang sebenarnya tentang penyakitku. Yang masih salah paham dan tak mau lagi mendekatiku. Asal kau tahu Andara, aku bukan lelaki nakal.

Nihil. Sudah setengah jam aku menunggu disini, tapi tak ada seorangpun yang datang untuk mengunjungiku. Kasihan sekali nasibku. Hidup sendiri, di saat akhir hidupku pun sendiri. Haha.

Mungkin, aku akan menitipkan diary deritaku ini pada Andara. Setidaknya, saat aku tiada nanti, ia bisa memaafkanku atas penyakitku. Dan yang paling aku inginkan, ia bisa tahu semua tentangku. Tentang perasaanku.


 Andara menjatuhkan buku itu ke lantai. Penyesalan kembali datang menyelimutinya. ia merasa kalau ia adalah orang paling kejam di dunia. Ia meninggalkan Rio hanya karena suatu alasan yang sebenarnya ia juga tak mau menerimanya.
 Andara sebenarnya sudah tahu kalau penyakit Rio itu memang datang dari orang tuanya. Karena sesaat setelah Rio meninggal, orang tua Rio langsung meninggal karena memang penyakit yang menggerogotinya. Tapi ternyata, membaca diary ini jauh lebih membuatnya sedih, kehilangan, dan yang terpenting menyesal.
 Penyesalan memang selalu datang belakangan. Dan ia berjanji akan menebus kesalahannya dengan membuat semua orang yang terkena penyakit mematikan itu merasa sangat bahagia di sisa-sisa hidupnya dengan menjadi perawat. Ia tak ingin banyak Rio-Rio lain di dunia ini yang baik hidup atau mati terus saja menderita.
 Dengan tangan bergetar, Andara mengambil buku yang tertulis berbagai penderitaan itu dan memeluknya. Ia berjanji akan menjaga buku itu dan tak akan melepaskannya, walau ia telah melakukan itu pada pemiliknya. Tapi Andara berjanji, tak akan melakukan itu pada kenangannya.
 Andara menghapus air matanya. Ia menatap keluar jendela. Langit sudah bersih dan bersinar. Mungkin seperti Rio saat ini yang sudah bahagia di sana. Memang, ia sangat pantas di sana. Dunia tak membawa kebahagiaan untuknya, tapi Andara yakin, Tuhan pasti menempatkan Rio pada sisi terbaiknya.
 “Anda,” panggil seseorang yang sudah berdiri di balik pintu.
 Andara menoleh setelah sebelumnya meletakkan buku itu di sebuah kotak yang ia beri nama ‘istimewa’.
 “Hei, Alan,” sapa Andara balik sambil mendekati laki-laki itu. “Sudah lama kamu di sini?”
 Alan menggeleng lalu mengikuti Andara yang segera keluar dari kamarnya. “Belom, kok. Baru aja. Oh, ya, hari ini Cinta melahirkan bayinya. Dan hebatnya, bayi itu tak terkena HIV seperti ibunya. Sungguh hal yang sangat luar biasa!”
 “Oh ya?! Bagaimana bisa?!” seru Andara senang. Tak percaya. Bagaimanapun HIV adalah penyakit turunan.
 “Aku juga tak tahu,” jawab Alan sambil tersenyum. “Oh, ya, Anda. Mengenai pernyataan cintaku… Bagaimana jawabanmu?”
 Andara tersentak. Wajahnya langsung memerah. Kopi yang tadinya mau diberikan pada Alan pun malah dibiarkannya melayang di udara.
 Waktu itu, Alan menyatakan cinta padanya, tapi Andara masih bingung sehingga ia mengundur jawaban itu hingga hari ini. Tapi sampai hari ini, ia belum tahu apa keputusannya. Ia juga tak mau mengambil keputusan secara gegabah. Ia tak mau menyesal lagi.
 “Aku… tidak tahu,” lirih Andara sambil membayangkan sosok Rio.
 Alan lalu tersenyum sambil mengusap rambut Andara. “Tak usah bertampang sedih begitu. Aku ngerti, kok. Nggak usah di jawab cepet-cepet. Aku akan selalu menunggu kamu.”
 Andara bernafas lega. “Syukurlah. Oh, ya, kamu mau kan menemani aku ke kuburan?”
 “Tentu saja. Memang, itu kuburan siapa? Kamu selalu memintaku untuk menemaniku ke sana, tapi kamu tak pernah memberitahuku itu siapa,” Tanya Alan dengan raut wajah penasaran.
 “Dia adalah malaikatku,” jawab Andara singkat meninggalkan Alan yang hanya menatap Andara bingung.
 Alan pun tersentak, merasa ditinggalkan oleh teman kuliahnya itu. “Anda! Tunggu!” panggil Alan lalu mengejar Anda dan menyamai langkahnya.

^0^
THE END~










8 komentar:

♥ nadita is nacchi ♥ mengatakan...

nice fic :')
fic yang bener2 mengharukan yoss.. kamu sukses buat aku menangis :')
like it !
^^

yossyozy mengatakan...

makasiih kakak nachi!^^

kakak jugaa d tunggu lg ceritanyaa yaa. lagee kepengen baca2 niih. hehe.

♥ nadita is nacchi ♥ mengatakan...

sipp sipp.
kamu juga lho yoss.
keep writing yaah ^^

Nurul Faidatul Fatihah mengatakan...

keren kak ! hehe :D

yossyozy mengatakan...

ka nachi : oke dokee kak. haha.

nurul : tararengkyuu yaappp adeeekku. hoho :D

my mine mengatakan...

aku baru baca nih....
ceritanya bagus, menyentuh banget...

my mine mengatakan...

aku baru baca nih....
ceritanya bagus, menyentuh banget...

yossyozy mengatakan...

waduuh, jadi malu. ini cerita udah lama banget haha. makasih yah udah mau baca :D


up