17 Sep 2010

Don't judge the book just from the cover

 Oik memandang sekeliling toko buku itu bingung. Ia sedang mencari buku pelajaran yang diperintahkan oleh guru bahasa inggrisnya. Katanya buku itu ada di sini. Tapi, seharian berkeliling, Oik tak kunjung menemukan buku yang dicarinya.
 Untuk mengistirahatkan diri, Oik pun duduk di sebuah kursi yang kebetulan sedang kosong. Maklum, di toko buku biasanya kursi penuh oleh para pelanggan yang pengen baca gratis. Termasuk, Oik. Hehe. :P tapi sayang, buku yang di carinya tak juga ditemukan. Padahal kalau sudah menemukan yang cocok, Oik berniat membelinya.
 “Hai,” tegur seseorang saat Oik memijat-mijat kakinya yang pegal. Oik segera melihat kearah seseorang yang menegurnya. Orang itu tersenyum. Senyumnya, waduuh…. Manis banget. “Kenalin, nama gue Irsyad.”
 Oik masih takjub memandangi sosok di depannya. Wajahnya hitam manis. Senyumnya, waduuuh, nggak usah ditanya. Di antara pria lainnya, menurut Oik, cowok inilah yang auranya paling memancar di antara pria-pria lain. Sangking takjubnya, Oik sampai mengabaikan uluran tangan Irsyad.
 Irsyad menatap Oik bingung lalu meletakkan tangannya di atas dahi Oik. Oik makin terpesona. Dan belum juga tersadar dari awang-awangnya. Dan, malah terbang semakin menjauh.
 “Kamu kenapa? Sakit?” tanya Irsyad lembut. Oik belum tersadar. Irsyad tersenyum lagi dan malah semakin mendekatkan duduknya pada Oik. “Tapi, kok nggak panas, ya?”
 Oik segera mengulurkan tangannya. Irsyad memandang tangan Oik bingung, tapi kemudian segera mengerti dan menyambut uluran tangan Oik yang baru setengah sadar.
 “Oik,” ucap Oik dengan nada terpesona.
 Irsyad segera melepaskan genggaman tangannya dari Oik. Oik segera tersadar dan menyadari kebodohannya. Lalu tersenyum garing ke Irsyad yang sudah terbahak.
 “Kamu lucu,” ujar Irsyad sambil terbahak.
 ‘Lebih tepatnya… bodoh,’ batin Oik sambil manyun. Lalu memainkan kakinya, bingung mau membicarakan apa. Kesalahan di awal membuatnya jadi tak berminat utuk mendekati cowok ganteng ini lebih jauh lagi.
 “Oh, ya, kamu ke sini nyari buku apa?” tanya Irsyad setelah diam-diaman beberapa saat.
 “Nyari buku tentang drama bahasa inggris, nih. Kamu sendiri?” tanya Oik balik setelah berhasil menetralkan rasa malunya.
 “Aku lagi keliling-keliling aja, kok. Kebetulan, aku suka ke sini sambil nyari-nyari buku,” jawab Irsyad sambil melihat sekeliling. “Ngomong-ngomong, buku yang kamu cari udah ketemu belum?”
 Oik menggeleng lemah. Kembali teringat tugasnya. Kalo tugas itu nggak dikumpulin besok, bisa-bisa Oik disuruh nyanyi lagu Buka Hatimu nya Armada pake bahasa inggris lagi. Memang sih, suara Oik nggak jelek-jelek banget, malah tergolong merdu, tapi masalahnya, Oik tuh paling nggak bisa bahasa inggris.
 “Mau cari bareng?” tawar Irsyad langsung sumringah. Oik pun segera mengangguk semangat. Sangking semangatnya, leher Oik hampir saja keseleo.
 “Syad!” tegur seseorang sambil menepuk bahu Irsyad.
 Kontan Oik dan Irsyad langsung menoleh ke belakang. Oik kembali terperangah. Ternyata, seseorang yang menegur Irsyad tadi wajahnya ganteng banget. Mirip artis-artis korea. Matanya sipit, kulitnya putih, hidungnya mancung. Cocok lah jadi saingannya Kim Bum.
 “Eh, Alvin,” sapa Irsyad lalu berdiri menghampiri cowok korea yang ternyata bernama Alvin.
 “Oh, ya, kenalin, ini temen baru gue Oik,” kata Irsyad memperkenalkan Oik pada Alvin. Alvin segera tersenyum pada Oik.
 “Alvin,” sapa Alvin tanpa mengulurkan tangannya dan tetap memasukkan tangannya ke saku. Kayaknya nih cowok cool banget. Senyum aja senyum irit. Tapi sebodo amat, yang penting dalam sehari ini, Oik bisa kenalan sama 2 cowok ganteng.
 “Oik,” balas Oik sambil berusaha tersenyum semanis mungkin.
 “Sorry, nih harus mengganggu kemesraan kalian berdua, tapi gue sama Irsyad harus pergi,” pamit Alvin dengan nada menggoda. Irsyad hanya tersenyum, sementara Oik juga ikut tersenyum tipis. Agak kecewa juga. Baru aja mereka mau jalan bareng. “Nggak apa-apa, kan?”
 Oik mengangguk lemas. Lalu memaksakan diri tersenyum.
 “Ya udah, Ik, gue duluan, ya. Semoga kita bisa ketemu di lain waktu,” pamit Irsyad lalu ber-tosan dengan Alvin sambil berjalan. Entah karena apa.
 Irsyad pun segera melambai pada Oik setelah menghilang dari pandangannya. Tapi tiba-tiba, wajah Irsyad memucat, begitu juga dengan Alvin. Mereka pun berlari-lari dengan panik. Oik hanya menatap mereka bingung.
 Baru saja Oik menatap Alvin dan Irsyad bingung, seseorang menepuk pundaknya. Oik tersentak dan segera menoleh kearah orang itu. Ternyata, itu adalah Obiet, teman satu sekolahnya di SMA 2. Oik menatap Obiet yang segera duduk di sebelahnya dan ngos-ngosan parah.
 “Biet, lo kenapa?” tanya Oik. Obiet segera memandang Oik khawatir, tapi Oik malah menatap Obiet bingung. “Ada apaan?”
 “Periksa tas lo, sekarang!” perintah Obiet galak dan berusaha menetralkan pernafasannya.
 Oik masih bingung. Tapi akhirnya, dituruti juga permintaan Obiet. Oik segera memeriksa isi tasnya. Semakin lama, semakin panik. Ia pun segera membongkar isi tasnya dan mengeluarkan semua isi tasnya yang memang tak begitu banyak. Wajah Oik berubah cemas. Matanya berkaca-kaca.
 “Biet… dompet gue ilang,” lirih Oik sambil terus mengecek isi tas-nya.
 Obiet menghela napasnya. Kasihan juga dia melihat sahabatnya kemalingan. “Lo sih nggak hati-hati. Main kenal-kenalan aja lagi sama orang yang nggak dikenal. Mereka berdua tuh maling di sini udah lamaaaaaaa banget. Cuma jarang ketangkep aja karena mereka larinya udah professional. Mereka ngincer orang baru kayak lo. Mereka juga memanfaatkan kegantengan mereka buat memudahkan pekerjaan mereka.”
 Oik langsung lemas seketika. pantesan tadi Irsyad deket-deket sama dia. Rupanya, tuh anak pengen ngambil dompet Oik. Wajahnya emang manis, tapi hatinya asem.
 “Terus dompet gue gimana? Gue nggak bisa pulang, nih. Gue juga harus beli buku pelajaran buat besok dan harus dikumpulin besok,” cerita Oik membuat Obiet tambah iba melihatnya.
 “Tadi sih Debo lagi ngejar. Semoga aja mereka ketangkep,” jawab Obiet sambil menepuk bahu Oik yang sedang lemah tak berdaya. “Makanya, lain kali hati-hati. Don’t judge the book just from the cover.”
 Oik hanya menunduk sambil memperhatikan isi tas-nya. Oik benar-benar menyesal. Kalau saja tadi dia lebih hati-hati dan nggak terhipnotis sama kegantengan Irsyad tadi, pasti nggak bakalan jadi begini. Mana tuh uang jajan selama sebulan lagi. Nggak bakalan bisa minta lagi dah sama orang tuanya karena mereka memang nggak bakalan ngasih.
 Tak berapa lama, Debo pun datang dengan nafas tak beraturan. Ia pun duduk di sebelah Oik sambil menatap Oik yang sudah tak bersemangat. Debo yang kebetulan sekelas dengan Oik, tahu persis perasaan Oik. Masalahnya, Debo juga ke sini sedang mencari buku bersama Obiet.
 “Gimana, De?” tanya Obiet pada Debo yang hanya bengong menatap Oik.
 Debo menatap Obiet sebentar, lalu menggeleng lemah. Ia menatap Oik yang sekarang sedang bercucuran air mata. Gimana nggak nangis, dia harus pulang naik apa kalo semua uangnya hilang tak bersisa. Kalau jalan kaki, rumah Oik juga jauh dari sini. Bisa bengkak mendadak nanti pas sampe di rumah. Gimana juga dia bisa nyelesein tugas dari gurunya kalo nggak ada uangnya.
 “Terus gue harus gimana? Gue nggak bisa pulang. Gue juga nggak bisa ngumpulin tugas, padahal kan besok udah dikumpulin. Mana sekarang udah jam 7 malem lagi,” kata Oik sambil sesenggukan.
 “Tenang aja, soal ongkos, gue yang bakalan nganterin lo pulang,” tawar Obiet membuat Oik menatap Obiet tak percaya.
 “Sementara masalah buku, gue pinjemin dulu deh duitnya,” tambah Debo yang membuat senyum Oik semakin sumringah. Oik pun segera memeluk kedua sahabatnya itu dengan kencang, sangat kencang. Obiet dan Debo sampai protes karena kesakitan. Tapi, Oik tak peduli. Ia masih terus memeluk kedua sahabatnya itu dengan erat.
 “Lo berdua emang sahabat gue yang paliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing baik!” puji Oik senang. Oik pun melepaskan pelukannya dan mencubit pipi Debo dan Obiet secara bersamaan. Debo dan Obiet kembali mengaduh kesakitan.
 “Kalo cara berterima kasih lo nyakitin gini, mah, ogah gue tolongin,” keluh Debo sambil memegangi pipi chubby-nya yang memerah. Disetujui dengan anggukan Obiet.
 Mata Oik kembali berkaca-kaca membuat Debo dan Obiet langsung menatap Oik bersalah.
 “Bercanda, kok, Ik. Jangan nangis, ya,” hibur Obiet sambil mengusap-usap kepala Oik.
 Oik kembali tersenyum sumringah dan tertawa-tawa. Obiet mulai merasa kalau dirinya sedang dikerjai oleh sahabatnya ini. Kemudian, Oik menggandeng tangan Obiet dan Debo mengelilingi toko buku untuk mencari buku yang dicarinya.
 “Coba duit gue nggak ilang, gue kan pengen sekalian beli novel ini,” kata Oik sambil memegang sebuah novel teenlit.
 “Makanya, hati-hati. Luarnya bagus, belum tentu dalemnya bagus. Emang lo nggak diajarin sama nyokap lo untuk nggak deket-deket sama orang yang baru dikenal? Adek gue aja ngerti,” omel Debo membuat Oik manyun.
 “Pokoknya lain kali.. lo harus hati-hati,” nasihat Obiet dengan nada lembut membuat Oik tambah manyun.
 “Heran deh, gue punya sahabat, cowok lagi, cerewetnya melebihi guru-guru di sekolahan,” cibir Oik, tapi kemudian ia tersenyum. “Tapi, makasih ya, berkat kejadian ini, gue tahu kalo lo berdua adalah sahabat gue paling baik di dunia. Hehe. Makasih, ya.”
 Debo dan Obiet saling berpandangan sambil tersenyum misterius. Dengan kompak, mereka pun mencubit kedua pipi Oik secara bersamaan. Oik pun segera melepaskan tangan Debo dan Obiet dari pipinya. Oik mengelus pipinya yang sekarang sudah memerah dan sakit.
 “Tuh kan, mendingan sama kita. Biarpun kita nggak lebih imut dari mereka, tapi hati kita baik, ya nggak, De?” tanya Obiet membuat Debo segera menggeleng cepat. Obiet menatap Debo bingung.
 “Gue sih merasa kalo gue lebih imut dari mereka. Lo aja kali yang merasa begitu,” jawab Debo membuat Obiet dan Oik terbahak.
 Pokoknya, jangan pernah menilai seseorang dari luarnya. Ibaratnya, lain di mulut, lain juga di hati. Waspadalah, waspadalaaah! Hehe. :P

13 Sep 2010

ada yang abadi

Takkan selamanya, tanganku mendekapmu..
Takkan selamanya, raga ini menjagamu...

”Hai kak Sify,” panggil debo riang dan menghentikan senandung dari bibir mungil Sify.
”hai, debo. Loh, kok udah pulang sekolah?” tanya Sify heran saat melihat debo memakai baju bebas, bukan seragam. Biasanya kan debo main ke rumah ify pake baju seragam.
”ini kan hari sabtu, kak. Libur,” kata debo sambil mencubit kedua pipi Sify gemas. Sfy tersenyum malu.
”hehe. Kak Sify lupa. Maklum, udah tua,” kata Sify sambil memperlihatkan kembali senyumnya. Namun yang ini terlihat lebih manis. ”duduk, de.”
”nggak usah, kak. Lagian aku yakin bentar lagi kakak mau dijemput kan?” tanya debo jahil membuat semburat merah muncul di kedua pipi Sify.
”di jemput siapa?” tanya Sify sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.
”ah, nggak usah pura-pura nggak tau deh,” ledek debo sambil mencubit kedua pipi Sify, yang sepertinya sudah jadi kebiasaannya. ”sama ayang rio.”
”ah, debo. Nggak usah cubit-cubit deh. Aku tahu, aku emang imut, tapi nggak usah cubit-cubit dong,” kesal Sify sambil mengusap-usap pipinya. debo malah nyengir.
Tiba-tiba terdengar suara motor yang sedang diparkir di depan rumah Sify. Pengendara motor itupun membuka helm-nya dan merapikan rambutnya yang agak berantakan. Setelah itu, dia turun dari motor setelah sebelumnya berkaca di spion motor sambil membereskan rambutnya, lalu masuk ke dalam rumah Sify disertai senyum manisnya yang khas.
”hai, fy. Ayo berangkat?” ajak orang itu sambil tersenyum ke arah Sify. Lalu melihat debo yang juga tengah tersenyum padanya. ”eh, ada debo juga. Mau ikutan?”
Debo tersenyum kecil, lalu melirik Sify yang juga tersenyum padanya. Sepertinya sih, Sify juga barharap debo ikutan. Itu hanya dari pandangan debo semata. Entah apa itu kenyataan, atau hanya sekedar perasaan.
”nggak usah deh, kak. Nggak enak ganggu,” tolak debo halus dan tak lupa memberi senyuman manisnya pada rio juga Sify.
”nggak apa-apa kali, de. Kayak baru kenal aja,” kata Sify sambil membalas senyuman debo.
Debo menggeleng pelan. ”nggak ah. Nanti aku jadi pajangan doang lagi di sana. Udah, kakak-kakak kencan aja berdua. Apa jangan-jangan kalian takut kangen sama aku?”
SIfy dan rio pun langsung tertawa terbahak-bahak. Dengan gemas, Sify pun mencubit kedua pipi debo membuat debo berteriak kesakitan. Sementara rio mengacak-acak rambut debo yang membuat debo segera mendelik ke arah rio. Debo kan memang kesal kalau rambutnya di acak-acak setelah sebelumnya ia sudah pakaikan gel, katanya sih supaya terlihat lebih macho.
”kak rio sama kak Sify nih ya. Emang debo imut, nggak usah pake acara nyubit pipi sama ngacak-ngacak rambut deh,” keluh debo sambil membetulkan lagi posisi rambutnya. Lalu menatap jengkel ke rio dan Sify yang sedang tertawa melihat ekspresi manja debo. ”udah sana. Pergi!”
”ini juga udah mau pergi tanpa kamu suruh. Yok, fy,” kata rio yang kembali ingin mengacak rambut debo, namun kali ini debo berhasil mencegah tangan jahil rio menyentuh rambutnya. Debo tersenyum penuh kemenangan, sementara rio langsung memasang ekspresi manyunnya.
”ayo. Jangan kangen ya, de,” kata Sify yang langsung berlari setelah sebelumnya berhasil mencubit pipi chubby debo.
Debo ingin membalas. Tapi, apa daya saat Sify langsung menarik rio dan memaksa rio untuk segera menyalakan motornya dan berlalu dari sana. Debo ingin mengejar, tapi apa daya dia kalah cepat dari Sify yang sampai duluan ke motor rio. Debo makin kesal saat melihat Sify melambai padanya dan tersenyum mengejek.
Debo menatap motor yamaha r-15 merah milik rio yang mulai menghilang dari pandangannya. Debo menghela nafas panjang. Lalu, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang menggelikan dan akhirnya tertawa girang. Tawanya sangat girang sampai memekakan telinga.
”debo. Kenapa kamu ketawa kaya begitu?” tanya tante gina, mama Sify yang sudah berdiri di samping debo dan menatap debo bingung. ”ayo masuk. Temenin tante. Si Sify baru aja pergi kan?”
Debo langsung tersenyum salting. Dia mulai merasa kalau dirinya seperti orang gila. Debo pun segera menyalami tante gina. Entah apa maksudnya. Dan tiba-tiba langsung ngacir meninggalkan tante gina yang terbengong-bengong.
Debo yang tengah berlari langsung menoleh ke belakang, ke arah dimana tante gina berdiri. ”nggak usah tante! Udah sore! Debo pamit ya!”
debo yang tengah berlari cepat-cepat dan tergesa-gesa itupun ditatap heran oleh tante gina. Tante gina yang sedang kebingungan pun melihat ke arah jam tangannya yang jelas-jelas masih menunjukan angka sepuluh, dan angka sepuluh itu juga menunjukan masih pagi karena matahari masih bersinar dengan terangnya.
Tante gina pun segera menggeleng pelan lalu tertawa kecil melihat tingkah debo yang polos dan asal-asalan itu. Tante gina pun memasuki rumahnya dan mengunci pintu gerbang yang engselnya sudah mau patah.
’dasar anak kelas 3 smp jaman sekarang. Udah mau deket ujian kok malah pada aneh begitu ya. Apa karena mereka setres mau ngadepin ujian. Kasian,’ batin tante gina lalu tertawa geli. ’perasaan dulu Sify nggak gitu-gitu amat ah. Debo, debo.’

^0^
”sori, yo. Kayaknya... kita... mendingan...,” kata Sify terpotong. Sify pun menghelakan nafas untuk kesekian kalinya. Menenangkan hatinya, lalu menatap mata rio dalam-dalam. ”putus.”
Rio segera menyemburkan air jeruk yang sekarang sudah menghambur ke mana-mana. Rio memandang Sify tak percaya. Sedangkan Sify takut untuk menatap mata rio. Sify pun menunduk. Rio sama sekali tak percaya akan pendengarannya. Rio menelan ludah berusaha mencerna kata-kata Sify yang menurutnya sama sekali tak masuk akal.
”maksud kamu tuh apa? Kenapa tiba-tiba kamu minta putus? Salah aku apa? Atau... kamu punya cowok lain yang kamu sayang?” cerca rio sambil memegang pundak Sify yang sudah bergerak naik turun. Sify menangis.
Sify segera menggeleng pelan. Mulutnya seakan terkunci rapat. Kepalanya masih menunduk. Dia tak mau menatap wajah rio. Rio menatap sosok di depannya dengan pandangan iba. Lalu, ia memeluk Sify dan membopong Sify ke tempat yang lebih sepi. Kan nggak enak jadi pusat perhatian. Apalagi di sebuah mall.
Rio kembali memeluk Sify setelah sampai di loteng atas mall. Sify menangis semakin keras. Sementara rio masih bingung. Setalah agak lama rio membiarkan Sify menangis di pelukannya, Sify melepaskan pelukan rio yang terasa sangat hangat itu. Semakin lama berada di pelukan rio, semakin lama pula ia harus menyelesaikan ini semua.
”yo, aku... aku... aku minta putus,” kata Sify lagi dengan suara serak dan tertahan.
”tapi, kenapa?” tanya rio lagi. Walau hatinya sakit, tapi dari nada suaranya masih saja terdengar sangat lembut.
”aku... aku... aku... udah nggak... nggak... sayang lagi sama... sama... kamu,” kata Sify dengan suara tertahan.
Rio mengangguk. Hatinya sudah hancur berkeping-keping. Tapi, dia juga nggak bisa memaksakan kehendak. Itu adalah keputusan Sify. Keputusan yang harus diterimanya. Walau terasa sangat menyakitkan.
”oke deh kalo gitu. Aku juga nggak bisa maksain. Dan kalo itu mau kamu... kita... kita... kita... putus,” kata rio lirih. Berat rasanya mengatakan kata ’putus’.
Rio pun meninggalkan Sify yang masih terpaku. Air mata Sify kembali meleleh saat rio meninggalkannya. Semakin deras saat tahu kalau status nya dengan rio sekarang sudah sebatas teman. Hubungan yang ia pertahankan selama delapan bulan akhirnya selesai. Sify berjongkok dan menutup wajahnya dengan tangannya. Berusaha meredam tangisannya yang terdengar semakin keras.
Tiba-tiba sebuah tangan mampir di pundak Sify. Sify segera menghentikan tangisnya dan mengusap air matanya. Ternyata rio. Rio tersenyum pahit pada Sify, lalu membantu Sify berdiri. Dan membetulkan rambut Sify dan menghapus air mata Sify yang belum bersih sepenuhnya.
”nggak mungkin kan aku.... maksudnya gue, ninggalin kamu... eh, lo sendirian di sini,” kata rio masih tersenyum dan terlihat agak canggung. ”ayo pulang.”
Sify mengangguk dan menghindari tatapan rio yang lembut itu. Sify menyesal mengambil keputusan itu, tapi hati kecilnya berkata itu adalah keputusan yang terbaik untuknya. Sify mengikuti langkah rio dalam diam. Rio juga tak berkata apa-apa lagi saat dia mengantarkan Sify sampai ke rumahnya.

^0^
Seperti biasa, minggu pagi ini debo jogging keliling komplek sendirian. Dan seperti biasa pula perhentian terakhirnya adalah rumah Sify. Tak sengaja, debo melihat rio yang sedang asik memainkan basketnya namun dengan wajah yang tak seperti biasanya. Bahkan, rio yang jago basket itu, tak kunjung dapat memasukkan bola itu ke ring basket.
”kak rio!” panggil debo lalu berlari mendekati rio yang masih asik bermain di lapangan basket tengah kompleknya itu.
Rio segera menghentikan permainan basketnya dan menoleh ke arah debo yang tersenyum ke arahnya. ”eh, debo. Tumben mau negor? Biasanya sombong kalo ngeliat aku. Haha.”
”yaelah. Biasanya kan kamu yang sombong kak, apalagi kalo lagi berduaan sama kak Sify. Hehe,” ledek debo sambil nyengir. Ekspresi rio berubah seketika. Apalagi saat mendengar nama Sify.
Debo yang tidak menyadari perubahan ekspresi rio, lebih tertarik akan basket yang dipegang oleh rio. Dengan cepat, debo mengambil bola yang ada di tangan rio. Rio sempat kaget saat debo melakukannya. Lebih kaget lagi saat debo dari jarak yang cukup jauh berhasil memasukkan bola basket itu ke ring-nya.
”de, lo jago juga basketnya,” puji rio kagum. Sempat melupakan masalahnya dengan Sify sejenak.
”haha. Enggak juga, kak. Cuma bisa dikit,” kata debo sambil mengoper bola itu kembali ke tangan rio.
”gini di bilang nggak jago? Gimana jagonya,” puji rio lagi sambil mendribel bola basketnya. ”gabung aja gih sama tim basket komplek kita. aku jamin kita bisa menang telak.”
”haha. aku sih pengen, tapi....,” kata debo terputus. Rio menatap debo heran. Tak biasanya dia melihat wajah debo semurung itu. Bagaimana tidak, debo kan selalu tampil di depannya sebagai sosok yang selalu ceria. Hidupnya seperti ada beban.
”tapi, kenapa?” tanya rio penasaran karena debo tak kunjung melanjutkan kalimatnya.
Debo mendongakan kepalanya, lalu menatap rio yang juga menatapnya heran. ”aku takut... nanti aku terkenal lagi gara-gara jago basket. Kan aku nggak mau di kerubungin fans-fans aku nanti. Apalagi sama fans aku yang fanatik. Ihhh, sumpah deh, aku nggak mau.”
Rio menghela napas kesal. Lalu menatap debo yang sedang tertawa ngakak, membuat rio tambah sebal. Debo pun menghentikan tawanya saat rio kembali sibuk bermain dengan bola basketnya. Merasa dicuekin, debo pun kembali ke tujuan utamanya, rumah Sify. Tapi, saat debo hendak meninggalkan lapangan itu, sesuatu menusuk jantungnya dengan begitu keras, tak kuat menahan sakitnya debo pun terjatuh. Dia memegang dadanya dengan keras untuk menahan rasa sakitnya.
Rio yang sedang bermain basket pun langsung menatap debo yang wajahnya sudah sangat pucat. Rio pun langsung berlari ke arah debo dan membuang bola basketnya ke arah yang tak tentu. Dengan panik, ia membopong debo ke dekat lapangan dan menyuruhnya duduk.
”de, kamu kenapa? Muka kamu pucet banget?” tanya rio sambil memberikan air minum yang dia bawa tadi dari rumah.
”hehe. Nggak apa-apa kok, kak. Tiba-tiba aja dada aku sakit banget,” kata debo dengan suara yang kesakitan. Debo pun meminum seteguk air yang diberikan rio. Debo sedang nggak nafsu untuk minum kalau sedang kesakitan begini.
”dikit banget minumnya,” kata rio sambil mengambil kembali air minumnya dari tangan debo. Debo nya sih malah cengengesan. ”kamu kenapa sih?”
”ah, kak rio perhatian banget sih sama aku. Jangan-jangan kak rio.....,” kata debo ngaco sambil menatap rio dengan genit. Rio pun langsung mengerti maksud debo. Rio pun langsung kembali menjauhkan dirinya dari debo karena tampang debo yang sudah –menurut rio- menjijikan. Matanya debo aja udah kedap-kedip kayak orang cacingan.
Rio pun langsung menunjukan ekspresi tubuhnya yang mulai merinding saat debo mulai menatap genit ke arahnya. ”amit-amit deh aku. Udah sono kamu pergi, deh. Tadi kan kamu emang udah berniat mau pergi. Hussssh.”
”ih, kak rio jahat deh sama debo,” kata debo masih dengan suara yang super genit. Wajah rio makin masam. Lalu debo tertawa terbahak-bahak lagi. ”tenang aja kali, kak. Aku masih normal.”
”kirain. makanya punya cewek dong, de,” ledek rio sambil meminum air mineralnya.
”iya deh yang punya cewek,” cibir debo, tapi entah kenapa, cibiran itu membuat hati rio sakit. ”o, ya, aku mau ke rumah kak Sify nih. Kakak ikut nggak?”
Dengan mantap rio menggeleng lalu meninggalkan debo yang terbengong-bengong melihat mata rio yang sudah memerah. Tapi, dihiraukannya masalah itu dan langsung melanjutkan perjalanannya lagi ke rumah Sify.

^0^
Debo terpaku saat tiba-tiba Sify memeluk tubuhnya dan kemeja debo basah, rupanya Sify menangis. Debo berusaha menenangkan gadis itu dengan cara mengelus-elus punggungnya dan kadang juga membelai rambutnya. Debo shock. Bagaimana tidak, saat ia baru datang ke rumah Sify, tiba-tiba saja ia disambut oleh mata merah ify dan juga pelukan hangat namun terasa menyakitkan dari Sify.
”kak Sify kenapa? Ayo deh kita masuk dulu. Ntar kak Sify cerita sama aku ya,” kata debo lembut dan membopong Sify yang tengah lemas itu masuk, seakan ia tuan rumahnya. Maklum, mereka tadi sedang berada di luar gerbang saat melakukan adegan pelukan.
Setelah duduk dengan tenang dan tangisan Sify sedikit mereda, debo pun mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Sify lembut. Sify kaget dan merasa ada yang aneh dengan genggaman debo, tapi entah kenapa Sify merasa nyaman dengan genggaman itu. Terasa hangat dan menyenangkan.
”emmm... sekarang kakak udah bisa cerita?” tanya debo sambil terus menggenggam tangan Sify. Air muka Sify berubah lagi. Segenang air mata muncul lagi di kedua matanya. Debo langsung panik dan mempererat genggaman tangannya lagi pada Sify. ”kalo kak Sify nggak bisa cerita juga nggak apa-apa kok. Aku nggak maksa. Tapi kak Sify jangan nangis lagi dong.”
Sify menggeleng lemah. ”nggak kok de. Aku mau cerita.”
Debo mengangguk dan menunggu sampai Sify siap. Namun, setiap Sify ingin mengucapkan sepatah kata dari mulutnya, tanpa Sify sadar air mata pun jatuh membasahi pipinya. Berkali-kali pula debo membantu Sify mengusap air matanya.
”aku... aku... aku putus sama rio,” kata Sify sambil terisak. Hampir saja debo menyenggol vas bunga yang berada di sebelahnya karena kaget.
”kok bisa?!” jerit debo kaget dan langsung melepaskan genggaman tangannya dari Sify. Sify akan menangis lagi. Dengan sigap, debo pun menggenggam erat tangan Sify lagi. ”maaf, maaf. Aku Cuma kaget aja kak. Emm,,, ngomong-ngomong.... kenapa kakak bisa putus sama kak rio? Bukannya kalian saling sayang?”
”aku... aku... aku... aku takut... aku takut kalo... kalo aku... semakin sayang sama rio,”isak Sify membuat debo mempersempit jaraknya dengan Sify dan membiarkan Sify menangis sepuasnya di bahu debo.
”kenapa takut?” tanya debo yang kemudian merasa sesuatu mampir di pikirannya. ”apa karena prinsip kakak itu? Kalo, sesuatu tak ada yang abadi? Kayak lagu kesukaan kakak itu?”
Sify mengangguk. Lalu melepaskan tubuhnya dari pelukan debo dan menatap debo nanar. ”iya. aku... aku takut.. kalo aku semakin sayang sama rio... aku... aku bakalan susah ngelepas rio. Dan... dan.. dan aku takut... kalo... kalo udah sayang banget sama rio... aku... aku takut bakalan... bakalan kehilangan dia. Lagipula hati kecil ku bilang... kalo.. kalo aku harus ngelepas rio. Kan ada yang bilang... kalo... kalo hati kecil itu... murni perasaan... perasaan kita sendiri.”
”tapi, kak rio itu sayang banget sama kak Sify. Aku yakin, dia juga nggak bakalan tega ninggalin kak Sify,” kata debo lagi sambil membelai kepala Sify lembut. Sify segera menghapus air matanya yang mulai terjatuh lagi.
”aku... aku tahu. Tapi, kan nggak selamanya juga rio bakalan ada untuk aku. Dia... dia pasti bakal ninggalin aku juga. Seperti papa... ninggalin mama,” kata Sify lirih dan mulai dapat mengontrol air matanya.
Debo mengerti maksud Sify. Papa Sify sudah meninggal, meninggalkan Sify dan keluarganya untuk selamanya. Memang sih, semua tak ada yang abadi. Tapi, menurut debo, Sify sudah keterlaluan. Masa mengorbankan kabahagiannya sendiri hanya karena prinsipnya yang super, duper gak masuk akal itu.
”kak Sify,” panggil debo tiba-tiba membuat Sify tersentak. ”coba pejemin mata kak Sify.”
”buat apa?” tanya Sify yang bingung.
”ini emang agak jadul sih, tapi katanya kalo kita mejemin mata, orang pertama yang kita lihat itu adalah orang yang kita bener-bener sayangi. Nah, mungkin aja ada orang lain yang muncul pas kak Sify pejemin mata. Dan itu juga merupakan alasan kenapa kak Sify mutusin kak rio,” jelas debo sambil terkekeh.
Sify mengangguk mengerti. Dia sudah sering mendengar kata-kata itu di sinetron maupun di novel dan cerpen yang ia baca. Sify juga belum pernah mencoba hal itu. Jadi, apa salahnya mecoba. Dengan mantap, Sify pun memejamkan matanya. Debo menatap Sify penasaran. Apalagi saat Sify memejamkan mata, Sify seperti sedang terkaget-kaget. Setelah agak lama, Sify pun membuka matanya.
”siapa kak yang muncul?” tanya debo sambil menatap Sify yang terlihat ragu.
”eng... wajahnya nggak jelas, de. Kabur,” kata Sify namun dengan penuh keraguan. ”emang kamu yakin, de, orang yang kita lihat kalo kita merem gitu, itu tandanya bener-bener orang yang kita sayang?”
”ya, kata orang-orang sih gitu. Tapi, nggak tahu-lah,” kata debo ikut-ikutan bingung sambil menggaruk-garuk kepalanya karena gatal sekaligus bingung.
Sify mengangguk mengerti. Lalu menatap wajah debo yang sedang memikirkan sesuatu. Dan lama-lama ada suatu pikiran janggal di benak Sify. Ia merasa wajah debo terlihat sangaaaaaaaaaat manis. Padahal selama ini, Sify sering melihat wajah debo, memang debo itu manis, tapi tidak semanis saat Sify melihat debo sekarang ini.
”kak Sify,” panggil debo sambil menerawang ke langit. Sify langsung mengalihkan pandangannya dari wajah debo. Sify merasa ada sesuatu yang menyenangkan dalam dadanya. ”aku mau kasih hadiah buat kak Sify.”
”hah? Apaan?” tanya Sify yang sebenarnya tak sepenuhnya mendengar kata-kata debo. Masih sibuk dengan debaran menyenangkan di dadanya.
”aku pengen buktiin ke kak Sify, kalo ada sesuatu yang abadi!” kata debo mantap sambil menatap Sify yakin.
”apa?!” teriak Sify kaget. Ia baru sadar apa yang debo katakan sejak tadi. ”emang ada apa sesuatu yang abadi?”
”ada. Dan aku bakalan buktiin ke kak Sify,” kata debo masih seyakin tadi. Sify mengerutkan keningnya.
”apaan tuh? Jangan bikin aku penasaran deh,” paksa Sify yang sangat penasaran.
”jangan sekarang. Nggak seru lagi. Nanti aja deh kalo aku selesai ujian nasional,” jawab debo enteng membuat Sify gemas dan tak sabar. Tapi, nanti juga dia pasti tahu.
”oh, iya ya. Besok kamu udah UAN. Si ozy juga kan?” tanya Sify sambil menatap debo yang mengangguk santai. ”si ozy... bukannya belajar malah jalan tuh sama si acha. Kamu juga tuh, bukannya belajar, malah mampir ke sini.”
”hehehee. Niat aku ke sini kan pengen belajar sama ozy. Eh, ternyata ngeliat kak Sify lagi nangis. Terpaksa deh aku hibur,” ledek debo membuat Sify merengut.
”jadi terpaksa nih?” sindir Sify. Debo pun terkekeh.
Tak berapa lama, ozy pun datang dengan membawa sekantong plastik belanjaan. Sify terlihat girang melihat ozy dan membantu ozy membuka gerbang pagar rumahnya, dan memasukkan motornya ke dalam garasi. Sify sudah melupakan masalahnya sejenak. Ozy adalah adik ify yang keberulan satu sekolah bahkan satu kelas sama debo. Ozy dan Sify hanya berbeda satu tahun. Ozy kelas 3 smp dan ify kelas 1 sma.
”eh, debo. Jadi belajar bareng?” tanya ozy saat sudah berada di hadapan debo.
”jadilah. Kasihan tuh debo udah nungguin kamu dari tadi,” kata Sify sambil membawa barang-barang belanjaan ozy ke dalam.
”yeee, perasaan tadi gue nanya lo deh, de. Kenapa kak Sify yang jawab?” tanya ozy bingung lalu melepaskan kedua sepatunya. ”yok, ke dalem.”
Debo mengangguk lalu masuk ke dalam rumah Sify yang sedang bersama tante gina. Debo tersenyum malu pada tante gina, ingat kejadian waktu itu. Sementara tante gina udah mesem-mesem nggak karuan. Ozy menatap debo dan mamanya aneh, namun ia tak begitu mempedulikannya.
Mereka pun memulai pelajaran mereka hari itu. Senin waktunya mereka akan menjalani UAN selama 4 hari. Dimulai dengan pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan diakhiri dengan IPA. Ozy juga sempet meledek Sify saat Sify membawakan sirup untuk debo. Setau ozy, Sify itu paling males nyiapin apapun untuk tamunya. Tapi, saat ada debo, Sify berubah jadi rajin. Pokoknya sore itu menjadi hari ozy untuk meledek debo dan Sify deh. Tapi, tetap saja debo dan ozy menjalankan acara belajar bersamanya.

^0^
Hari ujian sudah selesai. Dan kali ini, Sify menunggu kedatangan debo dan ozy yang berjanji men-traktirnya karena sudah selesai ujian. Kebetulan sekarang Sify sedang libur. Anak kelas 3 dan kelas 2 sma sedang study tour, jadinya kelas 1 nya di liburkan saja. Lagian pasti banyak anak yang malas masuk karena beberapa guru juga ikut.
Sify sedang duduk santai sambil membolak-balik majalahnya. Tanpa sengaja, ia merobek sedikit bagian dari majalah itu. Sify mencoba menyambungnya supaya tak begitu terlihat, tapi saat Sify mau membetulkan majalahnya, sebagian dari kertas itu malah robek. Ify pun jadi malas membaca majalah itu.
Saat ify melihat dari jauh, ia melihat motor ozy yang sudah terparkir di depan rumahnya. Ozy membuka helm-nya, dari wajahnya terlihat kalau ozy sedang panik.
”zy, kok sendirian? Debo mana? Jadi nraktir kan?” tanya Sify tak mempedulikan wajah ozy yang terlihat sangat panik.
”debo, debo... udahlah. Mending sekarang kakak cepetan naik deh! Sini!” perintah ozy yang tak sanggup mengatakan apapun lagi.
”debo? Debo kenapa? Terus kenapa aku harus naik ke motor kamu, sih,” kata Sify bingung melihat wajah ozy yang sudah merah padam.
”udah cepetan!” bentak ozy membuat Sify tersentak kaget. Sify pun mendekati motor ozy dengan wajah ketakutan. Ozy sadar ia telah melakukan suatu kesalahan. ”maaf, kak. Tapi ini penting banget. Nanti aku ceritain di sana kalo udah sampe.”
”emang kita mau ke mana?” tanya Sify dengan ragu.
”rumah sakit,” jawab ozy singkat.
Sify tidak bertanya apa-apa lagi setelah itu karena ia harus berkonsentrasi pada pegangannya ke kemeja ozy. Habis, ozy mengendarai motornya kayak nggak ngeliat lampu merah, ngebut banget. Pembalap F1 aja kalah.

^0^
Ozy segera memarkirkan motornya dan menarik tangan Sify paksa menuju ke dalam rumah sakit. Sify sih Cuma pasrah aja. Ingin bertanya, tapi takut kena amukan ozy. Ternyata ozy adik semata wayangnya ini kalau sedang marah sangat menyeramkan. Setelah, menanyakan informasi pada administrasi, ozy pun segera berlari menuju ruangan yang diberi tahu suster itu.
”kakak nggak pengen nanya ngapain kita ke sini?” tanya ozy saat mereka berada di dalam lift.
”yah... pengen sih. Tapi kakak takut di bentak lagi sama kamu. Serem,” jawab Sify sambil bergidik ngeri.
”maaf, kak. Tapi ini gawat banget,” kata ozy sambil mengusap peluhnya yang sudah membanjiri wajahnya dan juga seragamnya.
”gawat kenapa?” tanya Sify sambil keluar lift bersama ozy karena sudah sampai di tempat yang mereka tuju.
”debo kak, debo,” ozy mulai panik lagi. Kemudian, ozy menarik nafasnya dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya. ”debo, tadi pas udah selesai ujian, tiba-tiba dia kayak tidur gitu dan nggak bangun-bangun biarpun udah di panggil-panggil. Terus, karena penasaran, pengawas pun ngedeketin debo. Dan ternyata setelah di periksa, jantung debo udah lemah banget. Nafasnya aja suka ada suka enggak. Langsung aja deh dia dibawa ke rumah sakit. Dan, di kertas ujian debo, ada nama kakak ditulis di situ. Ya udah, aku langsung panggil aja kakak. Aku juga udah telepon kak rio, katanya dia mau ke sini.”
Sify merasa tubuhnya terasa lemas. Badannya pun limbung, untung ada ozy yang sigap menangkap tubuh kakaknya itu. Air mata Sify langsung terjatuh dan saling berkejar-kejaran membasahi pipinya. Ozy berusaha menyeimbangkan tubuh Sify yang semakin melemah. Ozy semakin tidak kuat dan hampir saja jatuh kalau rio tidak datang tiba-tiba membantu ozy menyeimbangkan tubuh Sify.
Ozy dan rio pun memapah tubuh Sify menuju ke depan sebuah ruangan, tepat di mana ruangan itu dihuni debo. Orang-orang yang berada di depan ruangan itu rata-rata sedang menangis. Ada juga alvin, kakak dari debo yang terlihat cool, namun ternyata turut menambahkan suasana berduka di ruangan itu.
Entah ada kekuatan dari mana, tiba-tiba Sify segera berlari menghampiri tante halimah, mama debo. Ozy dan rio yang masih takjub pun mengikuti Sify yang tiba-tiba menjadi kuat kembali, berlari mendekati tante halimah. Tante halimah menatap Sify dengan mata sembab-nya. Kemudian, tante halimah mencoba tersenyum paksa pada ify. Sify mengelus-elus punggung tante halimah, mencoba menenangkan, walau ternyata dirinya sendiri juga tak bisa tenang.
”tante, tante, debo... debo... debo keadaannya gimana tante? Apa... apa semakin... semakin parah?” tanya Sify panik tak bisa menahan air matanya.
”debo, debo...... debo.......... debo........ udah nggak ada,” kata tante halimah dengan suara tercekat. Tangisnya juga semakin parah.
Sify serasa mau pingsan. Ozy dan rio juga tersentak sangat kaget. Jantung mereka berdetak sangat cepat. Rio dengan sigap kembali menahan tubuh Sify yang kembali limbung. Namun, kali ini Sify tidak terlalu lemas seperti tadi. Ia masih bisa menahan tubuhnya walau hanya sedikit. Jadi, rio tak sepenuhnya menahan beban tubuh Sify.
Dengan sedikit kekuatan yang Sify miliki, Sify pun berlari ke ruangan debo tanpa mempedulikan apapun lagi. Air mata Sify kembali meleleh saat melihat tubuh debo sudah terbujur kaku, matanya terpejam, namun senyuman manisnya masih setia menghiasi bibirnya. Sify pun menggenggam tangan debo yang sudah mulai terasa dingin itu.
”debo,” panggil Sify lirih, kemudian terjatuh karena kakinya terasa lemas. Tapi, tangannya masih menggenggam erat tangan debo. ”mana janji kamu?! Mana?! Katanya kamu mau nraktir aku abis ujian?! Katanya kamu mau buktiin kalo ada sesuatu yang abadi?! Tapi mana?! Kamu aja ninggalin aku secepat ini! Kamu jahat debo! Kamu jahat!”
”kak Sify,” tiba-tiba ozy sudah muncul di belakangnya sambil menyerahkan amplop surat di sebelah Sify. Tangan Sify gemetar saat memegang surat itu. ”tadi pas selesai ujian, aku ngeliat surat itu di atas meja debo. Ya, aku ambil aja, karena saat aku liat, surat itu buat kak Sify. Kak Sify baca sekarang ya.”
Sify mengangguk lemah. Lalu mencoba berdiri dengan kakinya. Lalu membuka surat itu perlahan-lahan.

Hai, kak Sify, hehe,,,
Mungkin kak Sify lagi nangis pas baca surat ini,,,
Hehehe,,,

Kak, mungkin di surat ini, debo pengen ngucapin kata perpisahan untuk kak Sify,,, maaf yah kak, debo nggak cerita-cerita sama kak Sify, kalo debo punya penyakit jantung,,, hehehe,,, yah, di vonis dokter bahwa hidup debo nggak bakalan lama lagi, dan debo sadar akan hal itu,, tapi, debo ikhlas kok menjalani hidup yang udah Tuhan kasih ke Debo.
Jujur dari lubuk hati debo, debo sayaaaaaaaaaang banget sama kak Sify. Bukan sayangnya seorang adik ke kakaknya, tapi lebih. Yah, bisa dibilang itu cinta. Udah beberapa kali debo berniat untuk nembak kak Sify, tapi kasihan, nanti kak Sify mati. Hahahahaha,, bercanda kak.
Aku gagal terus untuk nyatain cinta ke kak Sify karena aku takut kalo kakak nggak mau pacaran sama aku karena aku lebih muda dari kakak. Mungkin aja kakak malu kan pacaran sama berondong. Hehehe...
Jujur nih kak, hati aku sempet sakit banget waktu kak Sify bilang udah jadian sama kak rio. Dan wajah kak Sify juga keliatan bahagia banget. Tapi, akhirnya aku berhasil menutupi rasa sakitku itu dengan selalu ada di deket kak Sify. Dan ternyata aku cukup bahagia dengan hal itu. Aku bahagia kalo kak Sify juga bahagia. Ah, kata-kata lama emang, tapi ternyata kata-kata itu bernilai ajaib loh.
Waktu kakak cerita kalo kakak putus sama kak rio, entah apa yang ku rasain, sedih apa seneng. Aku juga bingung. Tapi, aku lega karena keputusan yang kak Sify ambil. Apalagi, semenjak itu, kak Sify jadi lebih perhatian sama aku. Seneng deh kak. Hehe.
Dan aku berniat kalo aku akan meninggal saat aku sudah menyelesaikan ujian. Perjuanganku melawan sakit jantung itu emang bener-bener luar biasa sakitnya, kak. Tapi, aku tetep berniat untuk bisa menyelesaikan ujian.
Maaf ya kak janji palsu soal nraktir kakak, aku udah nggak kuat nahan rasa sakitnya kak. Cape banget. Minta traktirnya nitip sama Ozy aja ya kak. Hehe. Tapi tenang, aku tetep bakal buktiin kalo ada sesuatu yang abadi.

Sesuatu yang abadi itu adalah rasa sayang aku ke kakak. Aku udah buktiin hal itu. Aku tetep cinta dan sayang sama kakak bahkan walau kakak udah jadi milik seseorang. Aku sayaaaaaaaaaang banget sama kakak. Bahkan, sampai saat aku nggak ada, aku bakal terus sayang sama kakak. Dan kasih sayang itu bakalan terus abadi.
Seperti papa kak Sify, mungkin papa kak Sify nggak bisa abadi berada di sisi kak Sify, tapi aku yakin, rasa sayang papa kak Sify ke kakak, tante gina, bahkan ozy akan terus abadi. Jadi, jangan pernah berpikir kalo nggak ada sesuatu yang abadi. Ada kok yang abadi.

Salam juga ya kak buat ozy, kak rio, dan tante gina. Maaf kalo aku pergi tanpa pamit. Dan inget kak, lupain prinsip kakak kalo ’tak ada yang abadi’, aku udah buktiin kan kak kalo ada yang abadi. Sekian dulu deh kak surat dari aku. Pegel nih nulisnya juga. Hehe.

Salam sayang dari debo untuk kak Sify tercinta dan semua orang :D


Sify tak bisa menahan air matanya lagi saat ini. Isakan keras Sify pun mulai memenuhi ruangan itu. Sify nggak nyangka kalo selama ini debo menyukainya, lebih dari seorang sahabat. Sify menatap tubuh debo lagi yang tengah tersenyum, senyum penuh kedamaian. Dengan gerakan cepat, Sify membuang kertas itu seenaknya dan memeluk debo dengan erat. Tubuh itu sudah dingin, namun masih terasa hangat di hati Sify.
Ozy dan rio yang mendengar isakan keras Sify langsung mengambil surat yang ify buang dan membaca isinya. Ozy dan rio sampai terperangah, tak menyangka kalau debo ternyata menyukai Sify. Ozy dan rio juga tak kunjung dapat menahan air matanya dan mendekati mayat debo dan menggenggam erat tangannya.
”de, kenapa kamu nggak bilang kalo kamu suka sama Sify?” tanya rio pada debo sambil mengacak-acak rambut debo. Kalau debo masih hidup, pasti debo akan marah sama rio. ”dasar, anak bodoh.”
”emang, debo bodoh. Masa, kamu juga nggak cerita sama aku, kalo kamu punya penyakit jantung? Aku kan bisa ngebahagiain kamu di saat-saat terakhir,” kata ozy sambil menelungkupkan kepalanya di atas tangan debo, mencoba untuk menyembunyikan air matanya.
”de... kenapa... kenapa kamu nggak bilang kalo kamu suka sama aku. Asal kamu tahu ya, de... waktu... waktu kamu nyuruh aku pejemin mata dan kamu bilang kalo aku pejemin mata dan ngelliat seseorang, berarti itulah orang yang sangat aku sayang. Dan... dan kamu harus tahu... saat aku mejemin mata... yang muncul itu malah wajah kamu. Awalnya aku nggak menyadarinya. Tapi, tapi... tapi ternyata, aku emang sayang sama kamu,” isak Sify sambil terus memeluk mayat debo.
”permisi,” kata seorang suster yang tiba-tiba muncul di sebelah ozy. ”debonya mau di mandiin dulu.”
Dengan berat, ozy, rio, dan Sify melepaskan tubuh debo. Mereka merasa kehilangan sesosok yang berharga saat itu. Ini saatnya mereka harus kehilangan sosok jahil, selalu ceria, pinter ngelawak, bawel itu, untuk selamanya.

^0^
Saat jenazah debo dimasukkan, tangis riuh langsung menghampiri suasana siang itu. Tentu saja Sify dan tante halimah yang menangis paling keras. Rio dan ozy menangis tanpa suara, namun air matanya mengucur deras. Sedangkan alvin, kakak debo yang tengah duduk di bangku kuliah ini, tampak tak sedikitpun mengeluarkan air mata. Hanya genangan air mata yang berada di pelupuk matanya, tak berhasil menetes karena alvin dengan cepat menghapusnya. Rupanya, kematian debo membuat semua orang terluka. Teman sesekolah debo pun rata-rata hadir. Tante halimah sangat surprise. Ternyata anaknya telah menjadi sosok yang sangat berarti di manapun ia berada.
”tante, rio, ozy, kak alvin,” panggil Sify dengan suara serak saat semua orang yang menghadiri pemakaman debo sudah pada pulang. ” Sify mau ke halte deket sini dulu ya. Ke tempat kenangan debo sama Sify waktu kecil.”
”ya udah sana. Kak alvin sama lainnya tunggu di sini ya,” kata alvin mewakili semuanya karena sedang sibuk meratapi kepergian debo.
Sify mengangguk lalu meninggalkan pusara debo dan segera menuju ke halte, tempat yang sangat ingin dikunjunginya. Tempat pertama kali Sify bertemu dengan debo. Memang, gak elit banget sih, tapi itulah kenyataannya. Di tempat ini, debo berani membela Sify saat Sify sedang di ganggu oleh anak-anak SMP. Waktu itu, ify sedang duduk di kelas 3 SD, sedangkan debo masih kelas 2 SD. Dengan berani dan gaya ngebanyol-nya, debo berani membela Sify yang ujung-ujungnya debo yang malah menangis karena permennya di ambil oleh anak SMP itu. Gantian Sify yang membelanya. Sify tertawa kecil saat mengingat masa-masa itu.
Sify pun duduk di bangku halte itu, di sebelah seseorang yang sedang membaca koran dengan asyiknya. Sify pun mengamati sekitar halte itu, sampai ia melihat sesosok orang aneh yang tiba-tiba duduk di sampingnya. Orang itu menatap genit ke arah Sify. Sify mulai merinding. Apalagi, saat Sify melihat sosok laki-laki itu mengenakan tatto yang bergambar tidak senonoh.
Sify mencoba mengalihkan pandangannya menuju ke arah langit, dan kembali mengenang peristiwa yang ia lalui bersama debo. Entah kenapa, kali ini Sify sangat ingin tersenyum. Ia seperti melihat debo tersenyum di awan yang berarakan itu.
Tapi, tiba-tiba, orang aneh di sebelah Sify itupun memeluk ify erat secara tiba-tiba. Kemudian, orang aneh itu tersenyum padanya masih dengan jenis pelukan yang sama. Sify ingin berteriak, tapi kalau dalam keadaan panik begini, Sify malah tidak bisa melakukan apapun selain menangis. Sify mencoba meminta pertolongan orang di sebelahnya yang sedang membaca koran dengan seriusnya. Tapi, tak ada respon dari orang itu karena Sify juga tak bisa mengeluarkan suara sedikitpun. Orang aneh itu makin menikmati pelukannya. Sify ingin meminta tolong orang yang lewat, tapi saat itu sedang sepi jadi tak ada seorang pun yang lewat. Sify makin pasrah, menunggu keajaiban yang datang.
”pak polisi! Ada dua orang yang berbuat tidak senonoh itu di sini, pak! Mengganggu ketenangan dan ketentraman saya nih, pak!” teriak seseorang di sebelah Sify yang akhirnya memalingkan wajah dari korannya itu tiba-tiba. Sify dan orang aneh itu pun melirik ke arah orang itu dengan tatapan heran sekaligus terkejut. Sify makin terkejut saat melihat wajah orang itu.
”tenang, tenang! Kamu kesini!” teriak seseorang lagi, namun dengan suara yang agak mendelep. Sify menoleh ke sekitar tapi tak ada siapapun.
Berbeda dengan orang aneh itu yang langsung panik dan melepaskan pelukannya dari Sify. Kemudian, ia lari tunggang langgang tanpa mempedulikan arah. Orang yang wajahnya sempet membuat Sify terperangah itupun langsung tergelak geli.
”hahahaha! Dasar penjahat, dodol! Masa Cuma sama rekaman suara dari hp aja takut!” kata orang itu tak bisa menghentikan tawanya. Sify yang melihat orang itu kembali terperangah saat melihat gaya bicaranya mirip dengan sosok yang sangat ia kenal.
”ehm, makasih ya,” kata Sify dengan suara lembutnya membuat orang itu menoleh ke arahnya dan tersenyum manis. Sify pun mengulurkan tangannya. ”kenalin, gue Sify.”
”hehehe. Sama-sama. Kenalin nama gue arya,” katanya yang ternyata bernama arya sambil membalas uluran tangan Sify.
Sify terperangah kembali, wajah, senyumannya, ketawanya, gaya bicaranya, sangat mirip seseorang yang mulai saat ini sangat ia sayangi melebihi siapapun, ya, dia adalah DEBO!!
”lo... lo... lo sering ke sini?” tanya Sify dengan terbata-bata karena masih sangat terkejut.
”hemmm, di bilang sering sih juga enggak, tapi kalo di bilang jarang juga enggak,” jawab arya setelah sebelumnya berpikir sebentar.
”jadi kadang-kadang doang?” tanya Sify lagi tak bisa menghentikan senyumannya. Ia merasa telah menemukan sosok debo yang baru.
”iya, enggak juga sih,” kata arya dengan wajah polosnya. Sify ingin tertawa geli, tapi ditahannya itu semua. Sify nggak mau nyinggung perasaannya arya.
”kak Sify! Ayoooo balik!” teriak seseorang dari seberang sana. Sify menoleh dan menatapi sosok ozy dengan wajah kecewa. Ia masih ingin bersama arya.
”ya, gue pamit dulu, ya. Udah di panggil sama adek gue tuh,” pamit Sify sambil tersenyum lemas.
”oh, iya,” kata arya yang lalu melambaikan tangan ke arah Sify kemudian tersenyum lebar. ”semoga kita ketemu lagi.”
”gue yakin kita ketemu lagi. Kita kan jodoh,” kata Sify yang langsung berlari ke arah ozy, alvin, rio, dan tante halimah sambil menyembunyikan semburat merahnya. Arya sempat terbengong sebentar, tapi kemudian tersenyum dan kembali menekuni korannya.
Sify berlari dengan wajah sumringah, membuat rio dan ozy terbengong-bengong.
”ayo balik. Dan tante, jangan sedih mulu, dong. Kayak Sify nih yang udah berubah ceria. Debo akan selalu ada di sisi kita kok, bukan hanya dalam wujud sayangnya kepada kita, tapi juga dalam wujud nyata,” kata ify yang langsung meloncat riang ke arah mobil milik tante halimah itu.
Semua langsung terbengong-bengong dan bertatapan satu sama lain melihat perubahan Sify yang sangat pesat. Apalagi saat Sify mulai menyenandungkan lagu ’Akulah Dia’ yang mulai sekarang menjadi lagu favoritnya. Lagu tak ada yang abadi sudah ia lupakan jauh-jauh. Sify baru menyadari semua orang yang terpaku tanpa berbuat apapun.
”ye, bukannya pada masuk malah bengong,” tegur Sify membuat semuanya tersadar dan masuk ke mobil dengan tergesa-gesa. Sify menatap pemandangan aneh di depannya dengan heran, namun ia segera mengacuhkannya dan kembali menatap ke langit-langit.
Ia segera menyenandungkan suaranya lagi. Semua orang masih menatapnya heran, tapi kemudian mengacuhkan Sify dan terlihat senang dengan perubahan Sify –yang memang agak menyeramkan- dan tidak tenggelam lagi dalam kesedihannya. Setidaknya, itu lebih melegakan.
Sify menatap langit-langit yang kemudian seperti menampakkan sosok debo dan arya yang sedang berdiri berjejer dengan wajah dan senyum yang persis sama. Sify menemukan sosok debo baru di diri arya dan ify ingin mengenal arya lebih jauh. Dan kini, ify sendiri berniat untuk lebih agresif lagi, seperti debo lakukan dulu padanya. Walau ujung-ujungnya akan sakit hati. Sify kemudian tersenyum.
’debo, kamu udah buktiin semuanya ke aku. Kasih sayang kamu ke aku bakalan terus abadi sampai kapanpun. Kamu juga rela ber-reinkarnasi demi aku dalam wujud arya,’ batin Sify kemudian terkikik geli. ’kasih sayang aku buat kamu juga bakalan abadi kok, de.’
Tiba-tiba Sify merasa lelah dan kemudian terlelap. Di mimpinya, ia merasa bahwa arya adalah debo yang memang ber-reinkarnasi. Semakin bulatlah tekad Sify untuk mendapatkan arya dan mengenal arya lebih jauh lagi. Ia akan berusaha agar semakin dekat lagi dengan sosok arya yang merupakan debo kedua baginya. :D

Kesuksesan, kegagalan, keberuntungan, kesialan, bahkan kehidupan memang tak ada yang abadi. Tapi, kasih sayang orang yang sangat tulus kepada kita, akan terus tertanam dengan abadi di dalam lubuk hati kita. XD

5 Sep 2010

17, 18

Cakka memandang Shilla, adiknya, serta kedua orangtuanya dengan tatapan sebal. Sedari tadi, mereka hanya sibuk membicarakan tentang hari raya Kemerdekaan yang terjadi pada tanggal 17 Agustus nanti. Tak ada satupun dari mereka yang mau membicarakan tentang ulang tahun Cakka yang tepat sehari setelah hari Kemerdekaan, yaitu tanggal 18 Agustus.
“Kak, kok kamu diem aja sih?” tegur Debo, adik Cakka, yang sejak tadi melihat Cakka hanya diam dalam kecemberutannya.
“Tau, Ka, kamu gak ada rencana apa buat tujuh belasan nanti. Aku kan jadi panitia, kamu nggak ikutan?” tambah Shilla membuat wajah Cakka tambah memburuk.
“Halah, repot. Mending juga ngurusin acara ULANG TAHUN aku besoknya!” sindir Cakka sambil melirik kalender yang tepat berada di sebelahnya.
Mama dan Papa yang sedang berbincang heboh kini menatap Cakka dengan perasaan bersalah. Debo juga tampak tersentak. Sedangkan Shilla hanya tersenyum garing. Sebenarnya kejadian ini sudah sering terjadi, selama 11 tahun Cakka dilahirkan.
“Ya ampun, Cakka, maaf, Mama….,” potong Mama sambil mendekati Cakka dan membelai rambut Cakka lembut.
“Udah biasa, kok,” cetus Cakka sambil menuju ke kamarnya dengan langkah berat, seakan mencoba tegar.
Mama, Papa, dan Debo jadi sedikit merasa bersalah. Sedangkan Shilla, sebagai sahabat Cakka sejak kecil, turut merasakan bagaimana rasanya dilupakan. Sakit. Apalagi selama sebelas tahun ini.

^0^
“Cakka, tumben sendirian, nggak sama Alvin,” tegur Shilla saat di kantin. Kebetulan mereka satu sekolah juga satu kelas. Sama-sama duduk di kelas 7-6.
“Alvin lagi ngerjain PR Geografi di kelas,” jawab Cakka sambil menyeruput lemon tea-nya.
Shilla mengangguk-angguk sambil merebut lemon tea Cakka lalu meminumnya. Cakka menatap Shilla syok sebentar, merasa kalau lemon tea-nya akan habis. Shilla memang biasa melakukan ini. Mereka berdua sudah seperti kupu-kupu dan sayapnya. Tak mampu dipisahkan.
“Jangan di habisin!” teriak Cakka sambil meratapi lemon tea-nya yang baru ia minum seperempat.
Shilla pun mengembalikan lemon tea cakka yang sudah tinggal setengah. Sangat berbeda jauh dengan yang tadi. Shilla hanya nyengir, tak merasa bersalah sama sekali.
“Lemon tea, ku,” ratap Cakka lalu buru-buru menghabiskan lemon tea nya. Takut diminta Shilla lagi.
Shilla hanya terkikik melihat Cakka yang tampak serius meminumnya. Tanpa ia sadari, matanya sudah menatap lekat pada Cakka. Ada sesuatu ketertarikan saat ia menatap Cakka. Mata Shilla seolah tak mau lepas dari Cakka. Cakka sekarang terlihat begitu menarik di depannya.
“Cakka,” panggil Shilla masih menatap Cakka lekat-lekat.
Cakka menelan lemon tea nya sebentar untuk menjawab pertannyaan Shilla. “Apaan?”
“Kamu mau kado apa buat hari ulang tahun?” Tanya Shilla membuat Cakka menatapnya dengan tatapan malas.
“Kamu bener-bener pengen tahu?” balas Cakka dengan nada sinis. Shilla mengangguk tanpa menyadari perubahan ekspresi Cakka. Cakka menghela nafas, pedih rasanya. “Aku Cuma pengen, aku dilahirin bukan pada tanggal 18 Agustus, tanggal di mana orang-orang hanya sibuk dengan hari kemerdekaan, tanpa ingat hari ulang tahunku. Itu doang kok.”
Shilla segera menyadari bahwa apa yang ia sampaikan salah besar. Pertannyaan Shilla justru membuat Cakka semakin merasa kecewa. Padahal, mungkin saja Cakka sudah melupakan kejadian tadi malam. Shilla benar-benar merasa dirinya terlalu bodoh.
“Sorry, Ka. Aku…,”
“Yeee, nih anak malah minta maaf,” potong Cakka sambil menggaruk-garuk kepalanya. Kepala Shilla makin menunduk. Bagaimanapun, ia merasa tidak enak. “Tadikan kamu nanya, ya aku jawab. Kok kamu jadi ngerasa bersalah gitu sih? Nyantai aja kali. Hehe.”
Shilla menatap wajah Cakka yang sekarang tersenyum padanya. Shilla mencoba meneliti, adakah senyum paksaan di sana? Tapi, nyatanya, gak ada. Itu adalah senyuman tulus dari seorang Cakka. Senyuman ketegaran dari seorang anak yang hanya ingin ulang tahunnya diingat.
Shilla segera memeluk Cakka, yang dibalas kekagetan oleh Cakka. Shilla sangat ingin memeluk ketegaran yang tampak ringkih itu. Shilla ingin mencoba menguatkannya. Bagaimanapun, ia adalah sahabatnya. Ia juga suka lupa hari ulang tahun Cakka, ya, karena terlalu sibuk dengan hari kemerdekaan yang selalu membuat Cakka merasa tak nyaman. Bagaimanapun, Shilla juga merasa, kalau ia jugalah penyebab kekecewaan Cakka.
Cakka yang masih kaget pun balas memeluk Shilla dan membelai rambut Shilla. Tubuh Shilla sangat harum. Pelukannya juga hangat. Baru kali ini Cakka merasakan pelukan Shilla setelah sekian tahun bersahabat. Cakka segera menggeleng-gelengkan kepalanya. Apa yang sebenarnya sedang ia pikirkan?
“Hem--. Pada ngapain nih? Berbuat tidak senonoh di kantin,” tegur seseorang membuat Cakka dan Shilla melepaskan pelukannya, walau sebetulnya belum ikhlas. Wajah keduanya pun bersemu merah.
“Apaan sih? Berbuat tidak senonoh. Kamu pikir aku ngapain,” ujar Shilla dengan wajah memerah.
“Tau nih, si Alvin. Ngomong-ngomong, udah selesai ngerjain Geo nya?” tanya Cakka mencoba melupakan kejadian tadi.
“Udah kok. Pegel nih tangan aku. Mau refreshing di kantin, eh dapet pemandangan Luna Maya sama Ariel versi sederhana,” ledek Alvin membuat wajah Shilla makin memerah sementara Cakka mendelik ke arahnya namun dengan wajah masih memerah. “Di lanjutin atuh pelukannya. Maaf ya udah ganggu.”
Alvin segera pergi sambil terkikik melihat Cakka dan Shilla yang sekarang sudah salting mendadak. Mereka pun segera melakukan aktifitas masing-masing dalam diam. Ingin mengawali pembicaraan, tapi bingung mau mengawalinya dari mana. Yang terfikirkan hanyalah adegan pelukan yang baru saja mereka lakukan.

^0^
Hari ini adalah tanggal 17 Agustus, hari yang paling tidak disukai Cakka, walau tak dibencinya juga. Bagaimanapun, ini adalah hari kemerdekaan negaranya. Gegap gempita, sorak sorai, dan kemeriahan di RT nya membuat Cakka semakin tak bersemangat. Orang tuanya bahkan tampak ceria kembali. Tak merasa bersalah seperti waktu itu.
Debo tiba-tiba saja masuk ke kamarnya dengan napas tak teratur dan wajah sumringah.
“Kak, keluar dong. Ikut acara malemnya, yuk! Kan udah nggak ikut lombanya. Kak Shilla jadi panitianya loh!” seru Debo antusias.
“Males bangeeet,” jawab Cakka sambil tiduran di kamarnya dan mendengarkan Ipod yang masih menempel erat di telinganya.
Debo segera menghampiri Cakka dan duduk di sebelah kasurnya sambil mencopot headset yang sejak tadi pagi sudah nangkring di kuping Cakka. Cakka segera mendelik marah ke adiknya yang hanya berjarak satu tahun itu.
“Iiiih, rese banget sih!” ujar Cakka kesal sambil merebut headsetnya kembali dari tangan Debo dan kembali meletakannya di telinganya.
“Ayo dong, Kak. Sekali-sekali merasakan indahnya tujuh belasan,” balas Debo sambil menarik-narik tangan Cakka yang sibuk menekan tombol ipod nya untuk mencari lagu yang bagus.
“Ih, apaan sih,” omel Cakka sambil menarik tangannya yang ditarik-tarik Debo. Debo makin cemberut.
“Ayolaaah, Kak. Sekali iniiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii aja. Kasian tuh Mama udah nyiapin baju tujuh belasan buat kakak,” bujuk Debo lagi membuat Cakka menghela napas pasrah.
“Oke, oke, aku ikut,” ujar Cakka berat sambil melepaskan headset dari telinganya membuat senyum Debo segera terkembang. Cakka segera mengambil pakaian dan handuk yang segera tersampir di pundaknya. “Atas nama Mama! Bukan atas bujukan kamu.”
“Bodo amat, bodo amat. Yang penting kakak ikutan,” balas Debo sambil mengikuti langkah Cakka. “Eh, bajunya udah di siapin Mama di kamar mandi. Pake yang itu aja.”
Setelah berkata begitu, Debo segera ngacir sebelum Cakka membentaknya dengan seribu kata-kata tajam.
“Ngomong kek dari tadi! Aku kan nggak usah bawa-bawa baju dari kamar! Capek tahu naik ke atas lagi! Gak tahu apa ya kamarku tuh ada di pojok?!” omel Cakka sambil melangkah menuju kamarnya dengan derap langkah yang terdengar sangat kasar.

^0^
Pentas acara 17-an yang memang sering diadakan oleh komplek sekitar perumahan Cakka memang rutin diadakan. Acaranya hanya pentas kecil-kecilan, games, doorprize, dan pembagian hadiah untuk anak-anak yang sudah berlomba tadi siang. Acara ini selalu diadakan tepat pukul 7 dan Cakka baru sampai sana jam 8.
“Itu kak Cakka!” seru Debo membuat kedua orang tuanya segera menoleh ke arahnya dengan wajah senang. Debo pun segera menghampiri Cakka. “Kak, kok baru dateng sih? Acaranya kan jam 7?”
“Masih mending dateng kan?” ujar Cakka dengan nada yang agak sinis.
Sebenarnya, Cakka tak ingin bersikap seperti itu. Namun, ketidaksukaannya pada hari ini membuatnya tak bisa menutupi sedikit saja ketidaksukaannya.
Debo pun nyengir pasrah saat mendengar ucapan Cakka yang tajam. Debo tahu, Cakka pasti tidak suka hadir di tempat ini. Tapi, ini satu-satunya cara bagi Debo untuk menebus semua kesalahannya. Kesalahan, karena telah sering melupakan ulang tahun kakak tercintanya. Semoga saja, usaha yang dibuatnya berhasil.
“Oh, ya, aku duduk di mana nih. Pegel tau,” ujar Cakka setelah diam beberapa saat. Cakka juga sedikit merasa tak enak, mungkin saja karena sikapnya tadi, Debo jadi tersinggung.
“Oh, iya, maaf kak,” ujar Debo masih setengah melamun, lalu celingak-celinguk untuk mencari seseorang. “Hmm… itu dia, KAK SHILLA!” panggil debo membuat Cakka menatapnya heran.
“Eh, aku nyari bangku, bukannya nyari Shilla,” kata Cakka dengan agak kesal. Ternyata adik semata wayangnya bukan hanya tak peduli akan ulang tahunnya, tapi tak peduli juga akan kakinya yang sudah mulai terasa sangat pegal. “Woi, de! Kamu dengerin aku nggak sih!”
Tapi, sepertinya Debo benar-benar tak mendengar kata protes Cakka. Matanya masih tertuju pada Shilla yang sedang berlari kearah mereka. Tapi tiba-tiba, Shilla kehilangan keseimbangan yang menyebabkannya terjatuh. Untung saja ada Debo dan Cakka yang sigap untuk menangkapnya.
“Hati-hati Mbak kalo jalan. Nggak ada apa-apa kok jatoh,” nasehat Cakka membuat Shilla nyengir kesakitan.
“Hehe. Iya, Mas. Maaf ngerepotin,” ujar Shilla lalu menatap Debo yang sedang berlari menjauh dari mereka berdua. “Oh, ya, Ka, udah lama?”
“Nggak sih, baru aja. Tapi, kalo kamu nanya aku berdirinya udah lama atau belum ya…. Udah lama,” jawab Cakka membuat Shilla terkekeh.
“Kamu juga sih, bukannya duduk,” kata Shilla sambil berjalan mencari tempat duduk diikuti Cakka. “Nih, kamu duduk di sini aja.”
Cakka pun duduk di bangku yang Shilla suruh. Cakka segera memijit-mijit kakinya yang terasa pegal. Emang dah si Debo, adik durhaka. Kakaknya di biarin aja berdiri. Untung aja ada Shilla.
“Ka, aku ke belakang dulu ya. Masih ada urusan di belakang tuh,” pamit Shilla.
“Iya deh ibu panitia. Selamat bertugas ya,” ledek Cakka membuat Shilla tertawa dan segera meninggalkan Cakka bersama orang-orang yang tak dikenalnya.
Cakka segera memperhatikan ke panggung 17-an. Sekarang sedang ditampilkan sekelompok penari hip-hop mengenakan baju merah putih yang luar biasa keren. Cakka sampai terperangah saat melihatmereka melakukan aksinya dengan melemparkan diri kesana kemari. Kalau Cakka yang melakukan, mungkin sudah patah tulang.
“Kak, udah ngambil nomer buat doorprize belum?” tegur Debo yang tiba-tiba sudah berada di sebelahnya. Cakka sampai tersentak kaget.
“Kamu tuh muncul udah kayak jin aja,” kata Cakka sambil memperhatikan sesuatu di tangan Debo. “Belom ngambil. Emangnya kenapa?”
“Ya kalo belom sekarang ambil,” pinta Debo sambil menyodorkan sesuatu di tangannya yang di dalamnya berisi beberapa nomer.
Cakka segera merogohkan tangannya ke dalam kotak di tangan Debo dan mengambil isinya. Cakka pun membuka isinya dan melihat nomer yang tertera di atasnya.
“Ntar kalo nomer kakak di panggil, kakak maju ke depan buat ngambil hadiahnya,” terang Debo sambil mengusap-usap kepala Cakka, layaknya seorang kakek yang sedang menasehati cucunya.
Cakka segera membetulkan kembali rambutnya yang acak-acakan. “Iya, saya tahu, Kek. Emangnya saya gak pernah ngambil doorprize sampe harus di kasih tau segala.”
“Yeee, emangnya salah ngasih tau,” cibir Debo sambil beranjak pergi.
“Eh, mau ke mana?” panggil Cakka membuat Debo menghentikan langkahnya dan menatap Cakka. “Bete nih sendirian. Kamu mau kemana?”
“Yee, aku kan panitia. Perasaan udah cerita deh,” jawab Debo membuat Cakka melongo. Adiknya juga jadi panitia ternyata. “Nanti deh aku panggilin Kak Shilla buat nemenin Kakak.”
“Kenapa mesti Shilla? Kenapa nggak kamu aja?” tanya Cakka agak kesal.
“Aku kan panitia, sibuk,” alasan Debo yang sebenarnya nggak logis banget. Cakka memandang adiknya tak percaya.
“Shilla juga panitia, apa bedanya sama kamu,” sindir Cakka yang sudah tak dipedulikan Debo. “Bilang aja nggak mau nemenin aku!” sindir Cakka lagi dengan agak sedikit berteriak. Tapi terlambat, Debo dan Cakka sudah terlampau jarak yang jauh.
Cakka menghela nafas berat. Di sini, bukannya disambut hangat, malah dicengin abis-abisan begini. Mendingan nggak usah dateng deh. Kedua orang tuanya juga udah nggak keliatan lagi. Padahal tadi duduk di depan. Ahhhh! Makin bête aja deh Cakka. 17-an memang hari paling menyebalkan bagi Cakka.
Daripada bosen sendirian, Cakka segera duduk di depan, di tengah-tengah gerombolan cowok-cowok yang sebaya dengannya. Cakka juga cukup mengenal mereka. Masa se-RT gak kenal sih. Mereka juga menyambut Cakka dengan ramah. Mungkin, Cakka bisa sedikit terhibur bila bersama mereka. Rame-rame kan lebih baik daripada sendirian.
“Hei, Ka. Tumben dateng 17-an?” tanya seseorang dari mereka sambil tersenyum ramah.
Cakka memandang ke arahnya merasa bersyukur. Akhirnya ada juga seseorang yang mau mengawali pembicaraan dengannya sebelum Cakka mati bosan di sini.
“Eh, iya. Abisnya bête di rumah,” ujar Cakka berbohong membuat orang di sebelahnya mengangguk. “Ngomong-ngomong… kamu Rio kan?”
“Iya bener banget! Ternyata aku terkenal juga, ya,” kata Rio sombong membuat Cakka terkekeh pelan. Kayaknya, Rio anaknya asik.
Rio dan Cakka segera menghentikan perbincangan mereka karena sudah acara doorprize. Sebenarnya, Cakka masih ingin berbincang-bincang dengan Rio daripada ngedengerin acara nggak penting ini. Tapi, berhubung Rio sangat tertarik dengan acara doorprize ini, mau nggak mau Cakka menghentikan kegiatan ngobrolnya. Masa Cakka ngomong sendirian. Gila dong.
“Dan, yang mendapatkan doorprize pertama adalah………….,” potong panitia membuat Rio deg-degan setengah mampus. Terlihat dari matanya yang tampak antusias. Sementara Cakka, kertas soorprize nya udah kekuwel-kuwel nggak berbentuk dan sekarang malah Cakka mau buang. “Nomer 18!” seru panitia heboh.
Rio tampak mendengus kesal. Sementara Cakka malah bengong. Itu kan nomernya. Iya! Itu nomernya! Cakka pun segera berdiri dan berjalan ke depan dengan langkah bersemangat. Ternyata menang doorprize bisa sesenang ini juga. Pantesan Rio antusias banget. Cakka juga merasakan tatapan iri Rio.
Panitia segera memberikan hadiah untuk Cakka diiringi senyuman dari Shilla. Rupanya Shilla sedang ada di sana.
“Dan, hadiah berikutnya diberikan kepada……..,” panitia membuat suasana jadi lebih menegangkan. Apalagi Rio, walau Cakka hanya melihat dari atas panggung, tapi sangat terlihat jelas kalau Rio gugup. Panitia segera mendekatkan mike nya membuat Rio meremas kertasnya sangking geregetannya. Cakka sampai tertawa terang-terangan. “Nomer 8!”
Rio segera menekuk wajahnya. Berarti itu bukan nomer yang tertera di kertas Rio.
“Yeeeeeee! Nomer aku disebut!” teriak seseorang yang sangat Cakka kenal. Ya, dia adalah Debo.
Dengan tergopoh-gopoh, Debo berlari ke atas panggung dan berdiri di sebelah Cakka. Debo segera tersenyum dengan wajah bangga seakan baru memenangkan sebuah penghargaan. Debo anaknya emang suka berlebihan dan nggak tahu malu. Cakka juga heran, kok Debo bisa menang. Dia kan panitianya. Masa panitia menang, kayaknya aneh aja.
“Panitia kok menang,” ledek Bapak Panitia saat menyerahkan hadiah kepada Debo. Debo segera tersenyum sumrinngah. Emang dasar dah nih anak, nggak tahu malu.
“Baiklah, pembagian doorprize nanti akan dilanjutkan jam 12 malam,” lanjut sang panitia membuat sorakan kecewa menggema di lapangan itu. Apalagi suara Rio yang terdengar paling keras.
Debo dan Cakka segera turun dari atas panggung. Debo segera kabur di balik layar untuk melanjutkan tugas panitianya lagi. Sementara Cakka menghampiri Rio yang tampak kecewa berat.
“Sabar ya, Yo, nanti juga kamu dapet doorprize nya,” hibur Cakka yang sudah tahu apa yang dipikirkan Rio dengan wajah kusutnya sekarang.
Rio memandang Cakka dengan tatapan minta di kasihani membuat Cakka jadi menyesal menghiburnya. “Ka, kamu emang sahabat yang baik. Demi menghilangkan kesedihanku, kamu mau nggak traktir aku jagung bakar di depan sambil nunggu jam 12?”
Cakka menganga. Baru kenal udah begini. Rio ini terlalu supel, apa emang nggak tahu malu? Cakka jadi teringat seseorang dengan sikap yang sama seperti ini. Siapa lagi kalau bukan adiknya, Debo.
“Ka, aku lagi sedih nih, masa nggak mau menghiburku dengan nraktir aku. Cuma jagung doang, kok,” rayu Rio lagi masih dengan tatapan sedihnya. Dengan pasrah, Cakka mengangguk membuat Rio tersenyum senang sambil merangkul Cakka menuju ke abang jagung bakar terdekat.

^0^
“Aduh, makasih banget ya, Ka. Jadi ngerepotin,” kata Rio sambil meniup-niup jagung yang udah mampir di tangannya.
“Bukannya kamu yang maksa ya?” sindir Cakka sambil memakan jagung di tangannya. Rio tertawa pelan karena sedang sibuk dengan jagung di tangannya. “Oh, ya, Yo, aku boleh nanya sesuatu nggak?”
Rio mengangguk tanpa bersuara. Dia tak mau kehilangan momen-momen kenikmatan dari jagung bakar itu. Tak ada makanan yang lebih enak dibandingkan makanan gratis.
“Ehm… kenapa sih, kamu pengen banget dapet doorprize?” tanya Cakka membuat Rio tersedak. Cakka tersentak dan segera memberikan minum kepada Rio. “Nih, diminum dulu.”
Rio segera mengambil gelas berisi teh hangat dari tangan Cakka dan meminumnya. Setelah merasa tenggorokannya aman, Rio pun meletakkan gelas itu ke atas meja dan kembali memakan jagung bakarnya.
“Kamu bener-bener pengen tahu kenapa aku pengen banget dapet doorprize?” tanya Rio balik membuat Cakka mengangguk, agak heran.
“Tapi, kalo nggak mau ngasih tau juga gak apa-apa kok. Aku gak maksa,” ralat Cakka buru-buru takut Rio menganggapnya terlalu ingin tahu urusan orang.
“Nggak apa-apa kok,” jawab Rio membuat Cakka langsung mengubah wajahnya ke eskspresi serius. “Aku pengen banget dapet doorprize karena, aku pengen banget ngerasain gimana rasanya dapet hadiah.”
“Hah? Maksudnya?” tanya Cakka lagi membuat Rio tersenyum.
“Yaa… kamu pasti tahulah gimana rasanya dapet hadiah pas ulang tahun. Aku Cuma pengen ngerasain itu doang, kok. Kapan lagi coba dapet hadiah selain ikutan doorprize,” jelas Rio membuat Cakka mengangguk-angguk.
“Emangnya… kamu nggak pernah dapet hadiah… pas ulang tahun?” tanya Cakka hati-hati membuat Rio menghadap ke arahnya. “Sorry, aku terlalu pengen tahu urusan kamu.”
“Nggak apa-apa kok. Aku malah seneng jadi ada temen curhat,” jawab Rio membuat Cakka tersenyum. “Sebenernya… aku nggak tahu hari ulang tahun aku.”
“Kok bisa?”
“Yah… karena nggak ada yang ngasih tau ulang tahun aku kapan. Papaku setres karena sesuatu hal yang sulit dijelaskan. Nginget nama aku aja nggak bisa. Sedangkan mamaku, meninggal bunuh diri karena udah nggak sanggup ngurusin keluargaku yang udah ancur berantakan. Jadi, siapa yang mau ngasih tau ulang tahunku,” jelas Rio masih dengan senyuman yang seakan tak mau pudar dari bibirnya.
Cakka terdiam. Tak tahu lagi mau berkata apa. Sebenarnya, Cakka masih ingin bertanya lebih jauh, tapi Cakka tak mau membuat Rio semakin sedih. Walau dari raut wajah Rio tak menampakkan kesedihan sedikitpun. Berkat Rio, Cakka juga menyadari bahwa masih banyak orang yang lebih tidak beruntung darinya mengenai ulang tahun. Cakka masih suka mendapat hadiah dari orang tuanya. Walaupun telat.
“Udahlah, nggak usah serius mulu dong. Nggak seru, ah,” kata Rio sambil mengacak rambut Cakka yang sedang menunduk. “Oh, ya, mau nraktir aku lagi, gak. Masih laper nih. Hehe.”
Cakka tersenyum lalu mengangguk tulus. Hidup memang harus dibawa nikmat. Ya, kayak Rio ini.

^0^
“Baiklah, pembagian doorprize akan dilanjutkan. Dan yang mendapatkan doorprize ketiga adalah nomer…………………… 19!” teriak panitia membuat seorang bapak berkumis tebal menaiki panggung.
“Bukan nomer kamu lagi?” tanya Cakka membuat Rio menggeleng lesu. Cakka menepuk pundak Rio, berusaha menenangkannya. “Sabar, ya. Semoga abis ini dapet.”
“Baiklah, dan nomer berikutnya adalah nomer…..,” potong panitia membuat Rio kembali dagdigdug, kalau Cakka malah sudah bosan mendengarnya dan juga ngantuk, melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 12 malam. “Nomer terakhir yang muncul adalah…… 98!”
Cakka melirik Rio lagi yang tampak diam. Rio tidak bergerak sedikitpun. Cakka jadi khawatir. Kalau itu memang bukan nomer Rio, dengan senang hati Cakka akan memberikan hadiah doorprize miliknya, kalau memang Rio sangat menginginkannya.
“Rio, kalau misalnya kamu emang kepengen banget tuh hadiah, aku bisa…,”
“Cakka!” jerit Rio membuat Cakka menghentikan ucapannya. Rio juga menggenggam erat tangan Cakka. Matanya berbinar-binar. “Itu nomer aku, Ka! Itu nomer aku!”
Cakka langsung tersenyum senang. “Ya udah, buruan maju! Ntar nomer kamu keburu hangus!”
“Oh, iya bener-bener!” ujar Rio semangat sambil bangkit berdiri. “Woi, panitia itu nomer aku!”
Rio segera berlari kearah panggung dengan semangat 45. Entah mengapa, Cakka juga jadi ikut bersemangat. Rio mengambil hadiah di tangannya layaknya seseorang yang baru saja lulus kuliah dan menjadi sarjana. Wajahnya tampak terharu. Berlebihan memang, tapi itulah Rio.
Setelah Rio turun dari atas panggung, Shilla segera naik ke atas panggung dan mengambil alih mike. Bunyi gendang yang tak jelas asalnya pun bergemuruh meriah. Cakka bingung menatap sekeliling, sementara Rio masih sibuk dengan hadiahnya.
“Teman-teman yang berbahagia. Kita sudah membacakan nomer doorprize yang berisikan 18, 8, 19 dan 98,” kata Shilla membuat semua perhatian tertuju kearahnya. “Dan dari nomer-nomer itu ada hubungannya dengan hari kelahiran seseorang, yang sampai saat ini dan semasa hidupnya belum pernah merayakan hari ulang tahunnya. Dan untuk itu, pada jam 12 lewat 5, tepat pada tanggal 18 Agustus 2010, kita merayakan hari ulang tahun sahabat kita tercinta, Cakka Kawekas Nuraga!”
Cakka tersentak. Dia tak tahu lagi harus berkata apa. Ini terlalu mendadak. Rasa kantuk yang semula melandanya juga hilang seketika. Cakka segera menatap Shilla yang sedang tersenyum padanya. Cakka tak mengerti. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ulang tahun Cakka kali ini akan dirayakan?
Kembang api yang menggelegar di langit hitam itu, seolah menjawab pertanyaan Cakka. 18-08-98. Itulah yang digambarkan kembang api itu. gemuruh gendang pun semakin semangat bertalu-talu. Cakka masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Ulang tahunnya dirayakan. Betapa itu sangat membahagiakan.
Kedua orang tua Cakka segera muncul sambil membawa kue berhiaskan lilin berjumlah 12 di atasnya, sementara Debo membawa pisau yang sepertinya dipersiapkan untuk memotong kue. Rio yang ada di samping Cakka pun segera memeluknya dan membisikkan ucapan selamat kepada Cakka.
Cakka ingin meniup lilin di kue itu, tapi, orang tuanya melarang. Mereka mengisyaratkan Cakka untuk melihat kearah yang ditunjuk Debo. Cakka pun mengalihkan pandangannya kearah yang ditunjuk Debo.
Sekelompok anak paskibra datang dengan membawa sebuah bendera. Bendera itu bergambar Cakka semasa kecil sampai sekarang. Cakka geleng-geleng kepala melihatnya. Siapa yang membuat ide se-ekstrim ini. Tiga anak yang bertugas mengibarkannya sudah siap dan akan menaikannya ke atas layaknya bendera merah putih sungguhan.
“Bendera siap!” teriak salah satu petugas dengan suara bass-nya.
“Kepada, sang Cakka Kawekas Nuraga, nyanyiiiiiiiiiiiii grak!” perintah Debo membuat Cakka cengo seketika.
Piano dari tangan Shilla mengiring begitu indahnya. Lagu 17 Agustus yang diubah liriknya pun menggema ke seantero lapangan itu. Cakka sampai nggak berkedip melihatnya.

18 Agustus tahun 98
Itulah hari kelahiran si Cakka
Hari berbahagia, keluarga Nuraga, hari lahirnya Cakka Kawekas Nu… Ra.. Ga
Sekali berbahagia, tetap bahagia
Selama Cakka di dunia ini
Kita berbahagia, berbahagia, menyenandungkan lagu ini.
Kita berba-hagia, berba-hagia, merayakan ulang tahun

Tepuk tangan meriah memenuhi lapangan itu. Rasa puas, bahagia, senang, terharu, bercampur aduk menjadi satu. Cakka segera meniup lilinnya begitu lagu ‘tiup lilin’ berkumandang dan memotong kue begitu lagu ‘potong kue’ berkumandang. Cakka segera memeluk kedua orang tuanya dan memberikan kue pertama kepada mereka.
“Ma, Pa, makasih ya buat ulang tahun Cakka yang indah ini,” ujar Cakka sambil memeluk Mama-nya erat.
Mama membalas pelukan hangat Cakka. “Sama-sama, sayang. Maafin Mama juga ya yang sering ngelupain ulang tahun kamu karena berdekatan dengan hari kemerdekaan.”
Cakka melepaskan pelukannya dan menggeleng. “Nggak masalah, kok Ma. Cakka juga nggak butuh dirayain dengan hebring kayak gini lagi. Hehe.”
Mama mengelus rambut Cakka diikuti Papa.
“Gimana ide kita, hebat kan?” tanya Debo yang juga ikut-ikutan mengelus rambut Cakka. Bukan mengelus sih, lebih tepatnya ngeberantakin. Heran deh sama Debo, seneng banget ngeberantakin rambutnya.
Cakka membetulkan rambutnya yang berantakan. “Bukan hebat, lebih tepatnya lebai.”
“Yang penting, kamu seneng kan?” tanya Shilla yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya. Cakka tersenyum sambil mengacak rambut Shilla. “Heran deh, cowok kok senengnya ngacak-ngacak rambut. Ngiri ya nggak punya rambut panjang? Haha.”
“Ngapain iri sama kamu? Rambut penuh kutu aja sombong,” canda Cakka sambil menarik hidung Shilla membuatnya meringis kesakitan.
“Oh, ya Kak. Hadiah doorprize nya dibuka dong. Itu hadiah dari Kak Shilla,” ujar Debo sambil menunjuk kado di tangan Cakka.
“Hah? Kado ini?” ulang Cakka sambil menunjuk kadonya membuat Debo mengangguk. “Ini kan hadiah doorprize, masa dari Shilla. Ini mah dari semua panitia.”
“Ihhh, kakak nggak liat apa, kalo bungkus kado kakak beda sama hadiah doorprize yang lain,” ujar Debo kesal. Cakka menatap kado Rio dan orang-orang yang mendapatkan doorprize. Memang benar. Kado yang lain hanya dibungkus Koran, sementara Cakka dibungkus kertas kado berwarna merah-putih.
“Eh, iya juga, ya. Bodoh banget sih aku. Masa beginian doang nggak sadar,” kata Cakka sambil mengelus-elus kadonya.
“Ya udah, sekarang buka dong” kata Debo gemas. Cakka pun segera membukanya.
“Eh, jangan dibuka sekarang dong!” cegah Shilla. Tapi terlambat, Cakka sudah keburu membuka kadonya. Cakka terperangah melihat isi kadonya. Sementara Shilla menundukkan kepalanya. “Kan aku udah bilang, bukanya di rumah aja.”
Debo terbahak. Semua orang yang ada di situ juga ikut tertawa. Shilla makin menundukkan kepalanya.
Kado yang Shilla berikan adalah sebuah celana dalem berwarna merah putih seperti bendera, dan terdapat tulisan ‘Cakka 12th’ yang terlihat Shilla jahit sendiri. Sementara, di bagian pinggirnya, berjahitkan tulisan ‘Shilla’. Mungkin maksud Shilla supaya Cakka bisa mengingat itu adalah kado pemberian Shilla. Tapi, tanpa diberi tanda pun, Cakka akan selalu mengingat pemberian Shilla yang ajaib itu.
“Kasihan amat bendera Indonesia disamain sama…. Huakakakakakk!” tawa Debo semakin menggelegar diikuti yang lainnya. Cakka segera menjitak Debo saat melihat Shilla yang tampangnya sudah nggak karuan.
“Nggak kok, Shil. Hadiahnya bagus. Beneran deh,” hibur Cakka sambil menaikkan kepala Shilla supaya menghadapnya. Shilla tersenyum. Tapi, kemudian menunduk lagi karena sangat, sangat, sangat malu melihat tatapan orang di sekelilingnya yang memandangnya geli. “Ya udah, kita pergi aja dari sini. Aku pengen jalan-jalan sama kamu. Aku pengen cerita banyak.”
Cakka pun menarik tangan Shilla dan membawanya pergi dari situ. Ia juga tak ingin Shilla merasa bahwa hadiahnya aneh. Memang sih agak ajaib, namun jarang orang berpikiran mau memberikan hadiah itu. Lagipula, hadiah itu juga sangat berguna untuk Cakka.
“Ya, ya, ya. Kok aku ditinggalin sih,” keluh Debo saat melihat sekelilingnya mulai bubar karena acara resminya juga sudah selesai. “Aku kan males pulang. Pengen begadang sekalian.”
“Sama aku aja, De,” jawab Rio sambil merangkul Debo membuat Debo menatapnya sinis.
“Pasti ada imbalannya deh,” kata Debo yang sudah tau bagaimana sikap asli Rio.
Rio nyengir sambil melirik tukang bakso yang sedang nongkrong di sebelahnya. “Kayaknya, itu boleh juga, tuh.”
Debo segera melirik kantongnya dan mengeluarkan dompetnya sambil melihat isinya. “Ayo, dah. Kita kencan berdua. Emangnya Cuma Cakka sama Shilla yang bisa berduaan.”
Rio tersenyum. Sebodo teinglah sama Shilla dan Cakka, yang penting, Rio ditraktir lagi. Dasar Rio. Maunya gratisan aja. -_-

up