Masa SMA..
Masa yang selalu disebut sebagai masa yang paling indah..
Tapi tidak bagi anak-anak SMA Budi Bangsa..
SMA Budi Bangsa adalah sebuah SMA di pinggiran ibukota..
Yang terkenal dengan sebutan SMA pembuangan sampah..
Karena segala jenis sampah masyarakat ada di sana..
Preman.. pengacau... pembangkang... pembuli... pelacur
Masuk dan pulang sekolah sesuka hati..
Guru-guru honorer jarang masuk dan memilih mengajar di tempat lain..
Angka drop out jauh lebih besar daripada yang lulus.
Sekilas, tidak ada masa depan bagi anak-anak SMA Budi Bangsa, bahkan jika mereka menginginkannya..
Masa SMA bagi mereka hanyalah sebuah masa suram yang harus segera dilewati..
Supaya mereka dapat keluar dari status 'remaja' dan menjadi 'dewasa'. Supaya tak ada lagi orang dewasa yang mengatur mereka.. Supaya mereka akhirnya bisa didengarkan..
Ini adalah cerita mereka.
^0^
"Keluarga adalah pondasi, sekolah adalah atap, dan sahabat adalah dindingnya. An unforgetable school story."
(Nita Trismaya-pengajar, cerpenis, penulis novel Yelloveflies & Sweet Edelweiss)
"Satu kata, magnificent! Ceritanya benar-benar SMA jaman sekarang yang kurang peduli pada pendidikannya. The best."
(Nisa Ayu Andani-pelajar SMAN 6 Bogor)
^0^
Menurut aku pribadi, cerita ini luar biasa KEREN! Setiap kalimatnya membuat kita kepengen baca, baca, dan baca terus. Kita juga dibuat penasaran dengan cerita akhirnya. Dan di ending, membuat kita terharu dan mengingat perjuangan seseorang di dalam novel itu.
Emosi terharu, senang, bangga, sedih, kecewa, juga tergambar jelas di novel ini serta membuat kita turut merasakan apa yang tokoh-tokoh di sini rasakan.
Walau theme nya agak dewasa, tapi tetep aja asyik buat dibaca. Penulis yang dikenal dengan nama Orizuka ini selalu membuat karya-karya yang unik. Tidak hanya tentang percintaan. Tapi juga perjuangan hidup serta persahabatan.
Novel ini juga mengingatkan kita untuk selalu mensyukuri nikmat yang ada. Seperti diakhir cerita novel ini, walau mereka semua hanyalah seonggok 'sampah', tapi mereka mampu di daur ulang kembali dan berhasil menjadi apa yang mereka inginkan. Bukan apa yang telah mereka dapatkan.
Di novel ini juga tentunya terdapat kisah cinta yang memang populer di kalangan remaja. Namun, cinta di dalam novel ini lebih tulus, lebih dewasa, dan menerima apa adanya dan bukan pada ada apanya.
Dikisahkan pula, seburuk apapun seseorang layak mendapatkan sebuah kebahagiaan. Walau hanya setitik, namun sangat berarti bagi seseorang yang membutuhkannya. Karena, sekecil perbuatan, sebesar dunia hasilnya.