10 Jun 2010

ALASAN MAMA (cerpen)

sebenernyaa ini ak buat pas ada tugas Bahasa Indonesia dan sengaja ak karang sesingkat mungkin jadinya agak aneeeh. yaaa, mogaa ajaaa agak bagusan ajaa deeh setelah ak edit beberapa kalimat. sebenernya siih ga bisa dibilang di edit juga siih. wkwk.

^0^

 Ara memandang artis idola di TV dengan mata berkaca-kaca. Permainan piano yang merdu dari Kevin Vierra membuatnya tak bisa berkedip. Apalagi saat ia mengadu permainan pianonya dengan ayahnya, makin membuat Ara tak bisa berkedip. Ara ingin bisa sepertinya. Didukung oleh orangtuanya apapun yang ia inginkan.
 “Kapan ya aku bisa seperti dia? Rasanya gak mungkin deh,” keluh Ara sambil menopang dagunya dengan tangan. “Kenapa mama gak ngebolehin aku untuk les piano? Kenapa mama gak memberi alas an?”
 Banyak pertanyaan muncul di kepala Ara. Memang, saat Ara kelas 6 SD, mamanya tidak membolehkannya ikut les piano tanpa alasan. Padahal, kemampuan Ara saat itu sudah dibilang cukup. Ara pun tidak buta nada. Ia bisa membaca not dalam keadaan apapun. Mau ditambah kres, mau ditambah mol, Ara tetap bisa membacanya. Not balok pun sudah sangat ia kuasai. Lalu, apa alasannya hingga mama tak memperbolehkan Ara untuk mengikuti les piano? Sampai saat ini, Ara belum menemukan jawabannya. Selain karena tidak berani, ia juga takut kalau mamanya tersinggung atas pertanyaan Ara itu. Mau nggak mau, Ara tetap menyimpan rasa penasarannya itu sendirian.
 “Kak Ara! Makan tuh, dipanggil Mama,” panggil Ben, adik Ara yang masih berusia 6 tahun.
 “Diketok dulu, kek pintunya. Main nyelonong aja,” omel Ara lembut sambil mencubit gemas pipi Ben, adik laki-lakinya yang memang sangat imut.
 “Iiih, kak Ara. Jangan dicubit dong pipi aku. Nanti jadi merah,” kata Ben sambil melepaskan pipinya dari cubitan Ara.
 “iya, iya. Ayo kita makan,” ajak Ara sambil mengacak-acak rambut adiknya yang beda 10 tahun darinya itu.

^0^
 Ara makan malam di rumahnya dengan perasaan tak menentu. Ingin rasanya ia bertanya kepada ibunya apa alasannya hingga tak memperbolehkan Ara ikut les piano saat kelas 6 SD dulu. Mau nggak mau Ara memendam harapan dan impiannya itu hingga ia berusia 16 tahun.
 “Ara, kenapa kamu? Kok nasinya gak dimakan?” Tanya mama saat melihat nasi Ara yang Cuma terpencar-pencar tanpa arah.
 “Hah? Oh.. gak apa-apa kok, ma,” jawab Ara sambil memakan sesendok nasinya yang terasa hambar. Mama makin heran.
 “Ada apa sih, Ra? Ada masalah di sekolah?” Tanya mama lembut saat menyadari bahwa sikap Ara tak seperti biasanya.
 Ara langsung menghentikan gerakannya. Hatinya berkata, inilah saatnya ia menanyakan alasan mama. Kalaupun alasan mama nanti adalah menjadi pianis itu tidak menguntungkan. Mungkin akan sukses kalau dia terkenal nanti, tapi kalau hanya mentok sebagai pianis biasa, tentunnya akan membuat Ara kecewa bahkan tertekan. Apapun alasan mama, Ara siap. Dan Ara, harus menyelesaikan masalah ini sekarang juga.
 “ma… aku… aku…,” kata Ara terpotong. Ia menelan ludahnya. Ingin sekali berbicara, tapi ada sesuatu yang mencekat tenggorokannya.
 Melihat Ara yang agak aneh, mama menatap Ara dengan tatapan bingung. Apalagi, wajah Ara yang kelihatan murung sejak pagi. Mama memang tidak mengetahuinya, tapi mama yakin seyakin-yakinnya kalau kemurungan itu juga berlangsung di sekolah. Feeling seorang ibu.
 “Ara mau ngomong apa sayang?” Tanya mama lagi dengan lebih lembut dan juga dihiasi dengan senyum manis ibunya.
 “aku… aku… aku….,” Ara menghela nafasnya dalam-dalam. Ia pun meletakkan sendoknya dan menatap mata mamanya dalam-dalam. “aku… aku… aku… aku… gak laper ma. Mau ke kamar aja.”
 Ara pun langsung menuju ke kamarnya dengan langkah gontai. Mama menatap Ara semakin bingung. Tapi, ia langsung mengacuhkannya. Ara pasti akan bercerita kalau ia sudah siap. Toh, Ara sudah besar. Kalau tak mampu memendam perasannya sendirian, seseorang yang didatanginya siapa lagi kalau bukan mama.
^0^
 “Si Rama main pianonya keren banget,” puji Ara pada salah satu teman sekelasnya. Saat ini sedang ada pengambilan nilai seni musik. Jadi semua siswa harus menunjukkan kebolehannya dalam bidang musik. Mau pake suling kek, pianika kek, yang penting alat musik.
 “Lo kan juga bisa main piano. Sayang aja lo gak les. Jadi kemampuan lo gak begitu terasah,” kata Lani, teman akrab Ara yang langsung membuat Ara lemas seketika. Lani langsung memasang muka minta maaf. “maaf, Ra. Gue salah ngomong ya? Maaf, maaf. Ceroboh banget deh mulut gue.”
 “Bukan salah lo kok. Lo kan bicara kenyataan,” kata Ara lemas sambil tersenyum paksa. “Apalagi nyokap gue sendiri yang gak ngebolehin gue buat les piano.”
 “lo belum tahu alasan nyokap lo gak ngebolehin lo les piano?” Tanya Lani yang dibalas gelengan oleh Ara. “terus, kenapa lo gak Tanya?”
 Ara menghela nafasnya. “gue ngerasa gak enak aja sama nyokap gue.”
 “Kenapa mesti ngerasa gak enak?” Tanya Lani lagi dengan tatapan menyelidik.
 “Gak tahu juga deh, Lan. Setiap gue mau ngomong, gue ngerasa ada sesuatu yang mengganjal. Ya, walau menurut gue, alasan nyokap gue gak ngebolehin gue les piano karena takut gue akan terpukul kalo gue gagal nanti. Apalagi itu hal yang paling gue inginkan di dunia ini,” jelas Ara membuat Lani mengangguk paham.
 “Tapi, gue tetep ngerasa lo mesti tanya ke nyokap lo sendiri. Mungkin itu pendapatnya nanti, tapi tetep aja lo akan lebih ngerasa lega kalo nyokap lo sendiri yang ngomong,” kata Lani sambil menepuk bahu Ara lembut.
 Ara terperangah dengan sikap Lani sekarang ini. Dia benar-benar dewasa. Berbeda jauh dengan dirinya. Sebenarnya sih itu hal yang wajar mengingat mereka sekarang sudah kelas 1 SMA.
 “Ayuwindra Prahara!” panggil Pak Fuad selaku guru Seni Musik mereka.
 “Ra, lo dipanggil tuh,” tegur Lani membuat Ara sadar dari keterperangahannya. Ia pun maju ke depan setelah sebelumnya menarik nafas dalam-dalam.
 Ara pun maju ke depan dengan langkah pasti. Jemari tangannya sudah siap memainkan piano di depannya. Dan dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan, Ara mulai memainkan jarinya ke atas piano itu. Nada-nada yang melantun pun terdengar begitu indah. Ya, walau tak seindah permainan piano dari Rama. Tapi itu wajar karena Ara belajar piano secara otodidak. Sementara Rama, sudah diikutikan les piano oleh ibunya sejak kelas 5 SD.
 Tepukan meriah pun mengiringi selesainya permainan Ara. Ara tersenyum puas. Ternyata banyak orang yang menyukai permainanya. Ara semakin merasa bahwa ia memang sangat ingin menjadi pianis terkenal. Memberikan kebahagiaan kepada seseorang lewat permainan pianonya ternyata sangat menyenangkan.
 “Ara permainan kamu memang hebat. Tapi, sayang, pendidikan kamu dalam memainkan nada-nada yang kamu lantunkan kurang terasah,” kata Pak Fuad sambil bertepuk tangan. “Apa kamu belum pernah les piano?”
 “Belum pak,” jawab Ara lesu. Ada nada penyesalan di suaranya. Seandainya dulu ia tetap bersikeras ikut les piano dan melawan larangan mamanya, pasti sekarang kemampuan Ara jauh melebihi kemampuannya sekarang.
 “Sayang sekali ya, Ra. Padahal, kamu sangat berbakat. Memangnya kenapa kamu sampe nggak les piano?” Tanya Pak Fuad lagi membuat wajah Ara yang tadinya muram jadi bertambah muram.
 “Nggak diizinin sama mama pak,” jawab Ara dengan nada kesal.
 Pak Fuad hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Lalu mempersilahkan Ara duduk.
 “Keren permainan lo!” puji Lani yang membuat senyum Ara kembali terkembang.
 “Makasih, Lan. Tapi tetep aja, permainan gue gak sebagus Rama.”
 “Tapi, itu kan karena kemampuan lo belum diasah aja. Kalo udah diasah pasti bakalan keren banget,” hibur Lani sambil tersenyum.
 “Tapi sayang kemampuan gue nggak akan pernah bisa diasah,” kata Ara kesal. “Coba aja Mama ngizinin gue buat-”
 “Stop!” kata Lani membuat ucapan Ara terpotong. “Berhenti nyalahin nyokap lo. Kasihan nyokap lo. Siapa tahu dia punya alasan khusus kenapa dia gak ngijinin lo les piano. “
 “Tapi, tetep aja. Coba nyokap ngijinin gue buat les piano. Pasti gue gak bakalan kayak gini. Gue pengen menggapai cita-cita gue. Gue pengen kayak anak-anak yang lain yang mimpinya direstuin sama orang tuanya! Gue pengen kayak mereka! Didukung!” kata Ara dengan emosi yang tertumpah.
 Lani menghela napas dan mengelus-elus pundak Ara supaya bisa sedikit menahan emosinya. “Gue tahu. Itu mimpi lo. Itu harapan lo. Bahkan, itu dunia lo. Tapi, lo gak tahu alasan nyokap lo ngelarang lo les piano. Lo bahkan gak pernah nanya.”
 “Berarti gue harus nanya nyokap gue apa alasan dia ngelarang gue?” Tanya Ara yang sudah bisa menahan emosinya. Lani mengangguk setuju. “Tapi, kalo nyokap gak mau cerita dan tetep ngelarang gue les piano?”
 “Kita gak akan tahu sebelum mencoba,” jawab Lani membuat senyum Ara terlukis kembali di wajahnya. Ia pun memeluk Lani, sahabat yang memang benar-benar sahabatnya. Ara juga bertekad untuk bertanya kepada mamanya dan mengetahui alasannya.

^0^
 Sepulang sekolah, Ara langsung menemui mamanya dan mengajaknya untuk berbicara serius di taman belakang rumahnya. Mamanya yang memang sedang tidak sibuk mau saja menuruti permintaan putrinya. Namun, beberapa menit menunggu, Ara tak kunjung mengeluarkan suaranya.
 “Ara, kamu mau ngomong apa ngajak mama ke sini?” Tanya mama sambil mengelus lembut rambut Ara.
 “Ehm… tapi, mama jangan marah?” jawab Ara yang masih agak ragu.
 “Iya sayang. Memangnya ada apa?”
 Ara terdiam sejenak. Masih ada keraguan menyelimuti hatinya. Tapi, ia ingin tahu alasan mamanya. Setidaknya kalau ia tahu, ia bisa sedikit lebih lega dalam menjalani hari-harinya. Dan ia ingin hari-hari menyenangkan itu dimulai sekarang yang berarti pertanyaan itu harus diajukan sekarang.
 “Ma, aku… aku mau tahu,” ujar Ara sambil menenangkan jantungnya yang berdetak keras. “Kenapa… waktu aku minta mama untuk les piano, mama gak ngijinin aku?”
 Mama menatap mata Ara dalam-dalam. Ara mulai ketakutan. Namun, ia sudah siap dengan segala apapun reaksi mamanya.
 “Jadi, itu yang membuat kamu muram selama ini?” Tanya mama sambil mendekatkan posisi duduknya lebih dekat dengan Ara. Ara mengangguk. “Jadi kamu mau tahu alasannya?”
 “Iya,” jawab Ara yakin.
 “Begini, mama ngelarang kamu untuk les piano waktu itu karena saat itu kamu kan kelas 6 SD. Persiapan untuk UASBN dan kamu harus terfokus sama belajar. Makanya, saat itu mama nggak setuju kalo kamu ikutan les piano. Mama takut kamu gak fokus sama ujian kamu,” jelas mama membuat mulut Ara menganga. Alasannya sesepele itu?
 “Jadi… mama gak setuju bukannya karena mama gak suka aku jadi pianis?” Tanya Ara yang mulai menyadari kebodohannya.
 “Ya iyalah. Mana mungkin mama gak setuju kalo kamu jadi pianis. Apalagi bakat kamu di bidang itu udah besar banget. Mama setuju apapun yang kamu lakukan, asalkan itu bersikap positif dan nyaman untuk kamu lakukan,” kata mama sambil mengacak-acak rambut Ara lembut.
 Ara menyadari kekeliruannya selama ini. Ternyata, alasan mama adalah hanya karena dia mau mengadakan UASBN. Dan mama seperti orang tua yang lain yang menyetujui tindak tanduk anaknya dan apa yang menjadi harapan anaknya. Ara menyesal tak menanyakan ini sebelumnya. Ara juga menyesal karena telah menyalahkan mamanya terus menerus tanpa mau tahu alasan sebelumnya. Ara benar-benar bodoh.

up